Lupakan performa halftime Bad Bunny dan gugatan hukum Drake yang bikin heboh jagat maya. Tahun ini, drama musik terbesar justru datang dari Brooklyn, Amerika Serikat, melalui band rock bernama Geese. Entah bagaimana, band ini berhasil menyedot perhatian publik—bukan karena inovasi musikalnya, melainkan karena gelombang kontroversi yang menerpanya.
Yang Dulu Dipuja, Kini Dihujat
Tahun lalu, Geese meroket popularitasnya. Album terbaru mereka, Getting Killed, dibanjiri pujian dari media sekelas Paste dan Consequence of Sound. Puncaknya, album ini bertengger di daftar album terbaik akhir tahun versi Stereogum dan The New York Times. Perhatian publik yang tertuju pada Geese mengingatkan pada era keemasan musik ketika sebuah band mendapat rating 9.0 dari Pitchfork bisa menjadi peristiwa musikal tersendiri.
Namun, euforia itu tak bertahan lama. Hype yang terbangun justru memicu reaksi balik yang masif. Komentar daring kini ramai menjuluki Geese sebagai industry plants (band yang sengaja diciptakan industri), retreads (band daur ulang), bahkan sekadar hacks (musisi kaleng-kaleng). Gejolak ini begitu besar sampai YouTuber musik kenamaan, Anthony Fantano, harus turun tangan meminta para kritikus untuk sedikit lebih tenang.
Puncaknya, sebuah artikel Wired dengan judul provokatif, “The Fanfare Around the Band Geese Actually Was a Psyop,” mencoba mengaitkan lonjakan popularitas Geese dengan penggunaan firma strategi media. Artikel ini secara implisit menuduh seluruh fenomena Geese sebagai rekayasa belaka.
Berbeda dengan masa lalu, di mana mengkritik sebuah band hanya sekadar cara tampil beda dari kerumunan musik, wacana kontemporer kini naik level. Alih-alih sekadar menyatakan tidak suka, banyak orang mencoba membangun narasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kuartet anak-anak kaya raya yang piawai memainkan estetika maskulinitas reaksioner dan merancang strategi untuk mendominasi tangga lagu.
Kilau Retro di Tengah Krisis Musik
Geese terbentuk pada tahun 2016, saat para anggotanya masih remaja. Awalnya mereka berencana bubar setelah lulus sekolah, namun minat terhadap musik mereka yang mulai tumbuh membuat rencana itu tertunda. Keputusan ini terbukti tepat.
Setelah menandatangani kesepakatan dengan PIAS dan Partisan Records, Geese merilis dua rekaman dan mulai menarik perhatian media. Pada tahun 2021, Rolling Stone menjuluki mereka sebagai “anak ajaib indie-rock.” Namun, kala itu popularitas mereka masih terbatas di kalangan hipsters dan orang-orang di dalam industri musik saja.
Peruntungan band ini mulai berubah di akhir tahun 2024, ketika sang vokalis dan gitaris, Cameron Winter, merilis album solonya, Heavy Metal. Momentum itu berlanjut ke tahun berikutnya dengan perilisan album keempat Geese, Getting Killed. Album ini memicu badai pujian kritis dan mengubah mereka menjadi band paling banyak dibicarakan tahun itu. Banyak ulasan bernada antusias dengan tajuk seperti “Akhirnya, Ide Baru dalam Rock and Roll” dan “Bagaimana Geese Terbang Menjadi ‘Band Amerika Terhebat Generasi Z’.”
Geese berhasil menyentuh nostalgia pendengar akan era ketika rock masih menjadi kekuatan dominan dalam zeitgeist musik. Terlepas dari keunikan band ini, suara mereka secara eksplisit merujuk pada masa lalu, menangkap semangat garang The Stones, kekuatan mentah garage rock awal 70-an, dan aura cool yang tak dibuat-buat dari era indie sleaze tahun 2000-an.
Mengingat pendengar semakin beralih ke musik-musik lama, daya tarik retro Geese pun menjadi masuk akal. Ada perasaan umum bahwa dekade 2020-an merupakan salah satu dekade terburuk dalam sejarah musik nyaris seabad terakhir. Laporan Luminate Year End Music Report selama beberapa tahun terakhir terus mencatat penurunan minat terhadap musik-musik terkini. Bahkan fitur populer Spotify, Wrapped, yang menampilkan usia pendengaran, sebenarnya terinspirasi dari kecenderungan pendengar Gen Z dan Alpha yang lebih sering mendengarkan musik dari dekade sebelumnya.
Geese jelas menarik bagi audiens yang ingin musik kembali bermakna. Penampilan Winter di Carnegie Hall Desember lalu menjadi penutup tahun yang gemilang bagi band ini, menginspirasi komentar gaya laporan skena musik yang dulu menjadi ciri khas pelaporan rock. Para pengamat tak luput mencatat kehadiran tokoh-tokoh penting di antara penonton, seperti Michael Stipe dari REM dan Lee Ranaldo dari Sonic Youth. Fakta bahwa sutradara Paul Thomas Anderson dan Benny Safdie hadir merekam penampilan tersebut bahkan berhasil menjadi tajuk berita tersendiri.
Kehadiran media band yang terkesan cuek juga membangkitkan kejayaan rock di masa lalu, terutama sikap menghindar Cameron Winter yang jenaka dalam berbagai wawancara. Semangat ini terpancar sempurna dari drumer Max Bassin, yang mencontohkan etos punk generasi lama dengan pidato singkat kemenangannya di BRIT Awards: “Saya hanya ingin mengatakan, bebaskan Palestina, urus ICE, RIP Mani, ayo Geese.” Bagi banyak orang, kesuksesan band ini menjadi bukti: rock telah kembali jaya.
Badai Kritik: Dari Suara Sumbang Hingga Latar Belakang Kelas
Namun, menjadi harapan baru rock di tahun 2026 ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak semua orang merasa Geese layak menyandang predikat tersebut.
Geese mulai menarik perhatian negatif segera setelah popularitas mereka meroket. Sebagian besar orang mempermasalahkan suara band ini, yang dianggap sumbang atau membingungkan. Ada pula yang fokus pada gaya vokal Winter yang eksentrik.
Banyak juga yang tidak menyukai narasi euforia dan retorika penyelamat yang mengelilingi band ini, baik karena merasa rock tidak perlu diselamatkan, maupun karena Geese dianggap bukan band yang tepat untuk melakukan penyelamatan itu.
Meskipun demikian, beberapa komentar menyiratkan bahwa ada sesuatu yang tidak hanya salah, tetapi juga meresahkan dalam memuji Geese.
Lebih dari satu pengamat menyinggung dugaan maskulinitas putih yang melekat pada band ini (ini cukup membingungkan, mengingat salah satu anggota band bukan berkulit putih, dan anggota lainnya adalah seorang perempuan). Tema ini diungkapkan dengan nada yang lebih ramah dengan mengaitkan band ini dengan kebangkitan “musik garage anak laki-laki kulit putih,” sementara komentar yang kurang bersahabat lebih fokus pada “maskulinitas performatif” band ini dan “politik nyaris manosphere” dari para penggemarnya.
Latar belakang kelas para anggota band juga menjadi sasaran kritik. Anggota Geese bersekolah di Brooklyn Friends School dan Little Red School House. Selain itu, dua dari keluarga mereka memiliki koneksi industri: ayah Bassin adalah eksekutif pemasaran untuk Alternative Distribution Alliance, dan ayah gitaris Emily Green adalah desainer suara yang pernah bekerja dengan John Cale.
Perdebatan soal otentisitas dan latar belakang bukanlah hal baru dalam sejarah rock. Pembaca dari generasi milenial pasti masih ingat perdebatan serupa yang mengelilingi The Strokes ketika mereka mulai menanjak seperempat abad lalu. Namun, kenyataannya, “anak seni dari keluarga kaya” bukanlah sosok langka dalam silsilah rock. Ayah David Crosby bekerja di Wall Street sebelum menjadi sinematografer pemenang Oscar. Gram Parsons berasal dari keluarga kaya raya dan cucu seorang taipan buah. Ayah Joe Strummer adalah seorang diplomat. Radiohead sendiri terbentuk di sekolah elit Abingdon School di Oxfordshire.
Namun, wacana terkini justru mengeluarkan jenis sosiologisme yang lebih kasar dan melekat pada era sekarang. Sebagaimana ditulis oleh salah satu pengguna Substack, popularitas band ini mencerminkan “dominasi lulusan sekolah swasta” di dunia musik. Lebih lanjut, Geese “berasal dari tempat yang membosankan dan penuh uang, serta kesuksesan tipe bintang rock pria kulit putih mereka dalam bentuk ini sebenarnya adalah simbol sempurna untuk era Trump dan kesuksesan konservatif ini.” Jadi, Geese ternyata tidak hanya buruk—mereka juga dianggap ‘Trumpy’. Entah bagaimana caranya.
Kecurigaan Firma Strategi: Psyop atau Sekadar Pemasaran Digital?
Para penentang Geese akhirnya menemukan “senjata pamungkas” bulan ini ketika terungkap bahwa band ini menggunakan firma strategi daring untuk menghasilkan perhatian dan meningkatkan keterlibatan audiens. Kesuksesan mereka, yang tampak terjadi dalam semalam bagi mereka yang kurang memperhatikan, sudah memicu tuduhan bahwa mereka adalah industry plants. Namun, pada akhir Maret, Eliza McLamb—seorang musisi Brooklyn yang brilian—mengunggah sebuah tulisan di Substack yang menyiram bensin ke api yang sudah menyala.
McLamb menyoroti Chaotic Good Studios, sebuah firma strategi merek yang membantu menciptakan “kampanye narasi” untuk perusahaan dan artis. Ia mengungkapkan keterkejutannya saat mengetahui bahwa perusahaan tersebut tidak hanya mempromosikan lagu Winter yang digadang-gadang sebagai lagu terbaik tahun ini, “Love Takes Miles,” serta album Getting Killed milik Geese, tetapi juga telah bekerja dengan artis lain yang ia kagumi seperti Wet Leg, Jane Remover, dan Dijon.
Tulisan McLamb jauh dari sekadar serangan pribadi. Esainya lebih merupakan analisis industri yang mendalam, menjelaskan mesin hype Chaotic Good yang cenderung mengganggu, yang melibatkan posting tanpa henti tentang klien dari akun anonim. Sebagaimana para pendiri firma itu jelaskan, setelah tim artis mendapatkan penampilan di Saturday Night Live yang didambakan, mereka akan bekerja keras: “begitu SNL tayang tengah malam, Anda harus posting seratus kali mengatakan itu adalah penampilan terbaik tahun ini.”
Situasi menjadi semakin mencurigakan ketika sehari setelah esai McLamb dipublikasikan, Chaotic Good menghapus nama Geese dan beberapa klien lain dari situs mereka. Namun, McLamb bukanlah penulis yang berniat menjatuhkan Geese. Bagaimanapun, industri musik memiliki sejarah yang lebih panjang dan kotor yang sudah ada sebelum praktik ini muncul, dan ia bahkan mengakui bahwa layanan semacam ini mungkin dapat memajukan kariernya sendiri.
Pada pertengahan April, Wired kembali mengangkat kabar dari McLamb dengan judul sensasional yang menyebut band ini sebagai “sebuah psyop.” Meskipun artikel tersebut menambahkan berbagai catatan kaki, kemungkinan, dan kata “mungkin,” judulnya sudah cukup untuk menjadi amunisi bagi internet.
Esai Wired ini telah memicu serangkaian tanggapan yang lebih terukur, termasuk artikel A.V. Club yang menyatakan, “Selamat, Anda Menemukan Pemasaran Digital.” Namun, terlambat sudah. Siklus diskusi telah berputar kembali, dengan satu lagi senjata bagi para penghuni dunia maya yang bersemangat untuk membuktikan bahwa band ini sama tidak disukainya seperti yang sudah mereka inginkan.
Di Atas Hype dan Kebencian: Menemukan Jalur Musik yang Sehat
Debat sengit tentang musik adalah hal yang luar biasa. Terlebih lagi ketika diskusi berfokus pada pengaruh, kualitas, dan arah industri musik ke depan.
Di era di mana musik alternatif kembali bangkit ke kesadaran publik, ini adalah waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali percakapan tentang peran musik rock (dan genre lainnya) dalam lanskap musik saat ini.
Penting juga untuk bersikap kritis terhadap model-model yang mendominasi industri kita dan tempat musik secara luas dalam budaya, termasuk keburukan streaming, konsolidasi industri, musik yang dihasilkan AI, dan pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi artistik.
Masalahnya adalah, perdebatan berputar-putar tentang pengaruh dan otentisitas berbenturan dengan upaya untuk memoralisasi kesukaan atau ketidaksukaan terhadap sebuah band. Ini adalah upaya untuk menegaskan kembali komentar pseudo-politik yang terlalu lama membayangi musik, film, dan bentuk seni lainnya, terutama selama dekade 2010-an.
Dibutuhkan sesuatu yang melampaui hype dan kebencian: sebuah perspektif yang menganggap wajar jika seseorang bisa saja tidak menyukai sebuah band dan beralih jika vibe-nya terasa salah, tidak suka suara vokalisnya, atau karena orang yang salah mengatakan band itu akan menyelamatkan dunia.
Setelah sampai di titik itu, barulah percakapan yang lebih menarik tentang apa yang sedang dilakukan musik saat ini dan apa yang seharusnya dilakukan bisa terjadi. Jika Geese bukanlah sebuah psyop atau penyelamat, mungkin ada orang lain di luar sana yang bisa menunjukkan jalan ke depan.


