Bisa jadi bikin gregetan, kan? Udah nguras keringat di gym ngalahin teman-teman, eh, hasilnya kok sama aja. Tenang, itu bukan cuma perasaan semata. Riset terbaru nunjukkin ada varian genetik yang bikin seseorang lebih gampang fit, dan kabar baiknya, ini juga berkorelasi sama risiko lebih rendah kena berbagai penyakit. Jadi, bukan berarti yang nggak punya “kartu as” genetik ini jadi nggak ada harapan. Malah, ini bikin kita ngerti kenapa ada orang yang bisa taklukkan 5K tanpa persiapan matang, sementara yang lain mesti *training* mati-matian. Poinnya? Ahli bakal jelaskan duduk perkaranya.
Perburuan Gen Kebugaran Berhadiah Kesehatan
Riset yang dipublikasikan di Medicine & Science in Sports & Exercise ini mengamati ribuan basis data studi jangka panjang buat cari 712 fenotipe terkait kesehatan. Fenotipe itu sederhananya adalah ciri-ciri yang bisa diamati dari tubuh, kayak tekanan darah atau tinggi badan. Setelah data diolah, para peneliti nemuin 34 korelasi antara prediksi kebugaran aerobik secara genetik sama berbagai hasil kesehatan. Ternyata, orang dengan genetik tertentu punya keuntungan kesehatan yang lumayan: risiko stroke lebih rendah, variabilitas detak jantung lebih tinggi, tekanan darah lebih stabil, dan risiko asma pun menyusut. Menariknya lagi, mereka juga cenderung punya tahun pendidikan lebih banyak dibanding yang nggak punya gen ini. Bukti nggak langsungnya, tingkat pendidikan yang lebih tinggi juga udah lama dikaitkan sama hasil kesehatan yang lebih baik.
Intinya, gen yang “memprediksi” seseorang lebih fit itu kayak punya cheat code buat nggak gampang kena sekitar 30 jenis penyakit. Jadi, pas ada yang ngeluh soal sweat equity lebih banyak di gym tapi hasilnya gitu-gitu aja, bukan berarti usahanya nggak berarti. Cuma ya, ada faktor “lucky draw” genetik yang bikin beberapa orang lebih diunggulkan di garis start kebugaran. Tapi jangan salah paham dulu, ini bukan alasan buat langsung malas-malasan olahraga kalau merasa “kurang beruntung” secara genetik. Penemuan ini justru ngasih pencerahan kenapa ada teman yang badan bugar tanpa usaha ekstra, sementara yang lain mesti berjuang keras.
Sang penulis utama studi sekaligus ahli diet, Eleonora Fornara, RD, ngejelasin, “Kita udah tahu dari riset observasional bertahun-tahun kalau orang yang bugar secara fisik cenderung lebih sehat.” Tapi, riset sebelumnya seringkali nggak bisa mastiin apakah orang yang sehat itu yang jadi rajin olahraga, atau justru olahraga yang bikin mereka sehat. Nah, Fornara dan timnya pengen selami lebih dalam, ngulik gen yang bikin seseorang predisposisi jadi bugar. “Karena genetik kita udah ditentuin dari lahir — sebelum penyakit muncul — metode ini memungkinkan kita bikin kesimpulan sebab-akibat yang lebih kuat dibanding studi observasional tradisional,” tambah Fornara. Jadi, ada bukti yang lebih solid soal potensi hubungan sebab-akibat antara kebugaran dan penurunan risiko penyakit.
Bukan Sekadar Latihan, Tapi Kapasitas Tubuh
Terus, “fit” itu sebenarnya artinya apa sih dalam konteks ini? Studi ini fokus ke kebugaran kardiorespiratori, yaitu kemampuan tubuh buat merespons usaha fisik secara efisien. “Ini mencerminkan seberapa baik jantung, paru-paru, dan otot bekerja sama saat latihan berkelanjutan,” kata Fornara. Jadi, bukan soal jago di olahraga tertentu, tapi kapasitas biologis mendasar buat jadi bugar. Dr. Cheng-Han Chen, seorang kardiolog intervensi, menambahkan bahwa kebugaran itu nggak melulu soal punya gen tertentu. “Genetik mungkin berperan, tapi cuma sebagian kecil,” katanya. “Bisa aja punya gen yang mendukung kebugaran, tapi kalau nggak diimbangi latihan dan dimanfaatkan, ya nggak akan bugar juga.”
Pertanyaannya muncul: bisa nggak sih seseorang aktif tapi nggak bugar? Jawabannya, ya. “Aktivitas fisik (apa yang dilakukan) dan kebugaran fisik (bagaimana tubuh merespons) itu terkait tapi nggak sama persis,” jelas Fornara. Dua orang bisa aja ngikutin rutinitas latihan yang sama, tapi hasil tingkat kebugarannya beda drastis, sebagian karena faktor genetik. Namun, Fornara tetap menekankan pentingnya aktivitas fisik sebagai fondasi. “Bergerak aktif tetap bawa manfaat kesehatan yang luas, bahkan buat yang nggak liat peningkatan signifikan di metrik kardiorespiratori,” tegasnya. Jadi, jangan salah kaprah, aktif itu tetap penting, genetik hanyalah salah satu variabel.
Genetik Itu Bonus, Bukan Pensiun Dini dari Gym
Membaca soal genetik kebugaran ini mungkin bikin beberapa orang mikir, “Buat apa lagi capek-capek ke gym?” Tapi, jangan sampai itu jadi kesimpulan utama. Dr. Chen mengingatkan, “Kita belum sampai di titik bisa bilang, ‘Kalau punya gen ini, pasti hasil kesehatannya lebih baik’.” Tapi yang bisa ditarik, gen-gen ini memang berkorelasi sama penanda kesehatan yang lebih baik, kayak variabilitas detak jantung. Fornara pun setuju, “Nggak perlu punya anugerah genetik,” katanya. “Kebugaran kardiorespiratori itu bisa dimodifikasi dan membaik dengan latihan aerobik rutin. Apapun yang dilakukan buat ningkatin kebugaran — lari, sepeda, renang, jalan cepat — itu udah bikin bergerak ke arah yang benar, terlepas dari titik awal genetik.”
Intinya, Dr. Chen menekankan lagi soal pentingnya bergerak. “Kurang aktif secara fisik itu berkorelasi sama penyakit kardiovaskular. Punya gen kebugaran atau nggak, itu nggak mengubah fakta itu.” Jadi, mari kita simpulkan: punya genetik yang “menguntungkan” itu kayak dapat bonus poin di game kehidupan. Tapi, kalau nggak pernah dimainin dan dimanfaatkan lewat latihan fisik, bonus itu nggak akan berarti banyak. Malah, aktivitas fisik itu sendiri punya kekuatan luar biasa buat kesehatan, independen dari anugerah genetik. Jadi, daripada sibuk ngurusin warisan genetik, lebih baik fokus aja buat gerak. Tubuh pasti berterima kasih.


