Bayangkan kamu lagi asyik main Among Us, terus tiba-tiba ada emergency meeting. Bukan soal ada impostor, tapi soal email-email jadul yang isinya bikin dahi berkerut. Kali ini, yang kena ciduk bukan kru pesawat luar angkasa, melainkan… Pangeran Andrew. Yup, lagi-lagi namanya keseret kasus Epstein. Bikin geleng-geleng kepala, kan?
Surat Cinta dari ‘The Invisible Man’: Kok Jadi Horor?
Email-email antara Ghislaine Maxwell dan seseorang yang misterius dengan inisial “A” akhirnya dirilis ke publik. Si “A” ini juga punya nama panggilan yang unik: “The Invisible Man.” Kedengarannya seperti judul film superhero, tapi isinya lebih mirip episode true crime yang bikin merinding. Kenapa horor? Soalnya, detail-detail dalam email ini mengarah pada satu nama: Andrew Mountbatten-Windsor, alias Pangeran Andrew.
Korespondensi yang berasal dari tahun 2001 ini berisi kalimat-kalimat yang bikin alis naik sebelah. Contohnya, si “A” ini pernah nanya ke Maxwell, “Have you found me some new inappropriate friends?” (Apakah kamu sudah menemukan teman-teman baru yang tidak pantas untukku?). Hmm, “tidak pantas” ini maksudnya apa, ya? Apakah ini kode untuk sesuatu yang lebih gelap dari sekadar nongkrong di kafe remang-remang?
Pihak Mountbatten-Windsor sendiri sudah didekati untuk memberikan komentar. Tapi, seperti biasa, dia membantah semua tuduhan. “Saya dengan tegas menolak tuduhan terhadap saya,” begitu katanya pada bulan Oktober lalu. Tapi, apakah bantahan ini cukup untuk membersihkan namanya? Kayaknya, publik masih butuh bukti yang lebih meyakinkan daripada sekadar cuitan di Twitter.
Balmoral Summer Camp: Liburan Keluarga atau Pesta Terlarang?
Salah satu email dari “The Invisible Man” menceritakan tentang liburannya di Balmoral Summer Camp, sebuah perkebunan kerajaan di Skotlandia. Dia bilang, “Activities take place all day and I am totally exhausted at the end of each day. The Girls are completely shattered and I will have to give them an early night today as it is getting tiring splitting them up all the time!” (Kegiatan berlangsung sepanjang hari dan aku benar-benar kelelahan di akhir setiap hari. Anak-anak perempuan benar-benar hancur dan aku harus menyuruh mereka tidur lebih awal hari ini karena melelahkan memisahkan mereka sepanjang waktu!).
Laporan-laporan dari masa itu mencatat bahwa Mountbatten-Windsor memang mengunjungi Balmoral pada bulan Agustus 2001. Dia bahkan sarapan bersama Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip saat ada “kejadian kebakaran” gara-gara seorang perawat membakar roti panggang Putri Margaret. Wah, kedengarannya seperti adegan di film The Crown, ya? Tapi, apakah ada hal lain yang terjadi di balik layar?
Disebutkan juga bahwa saat itu, Beatrice dan Eugenie (putri-putri Mountbatten-Windsor) berusia 13 dan 11 tahun. Pertanyaannya, kegiatan apa yang membuat anak-anak seusia itu sampai “completely shattered”? Apakah mereka ikut panjat tebing atau main paintball sampai babak belur? Atau ada kegiatan lain yang lebih… “menarik”?
Kehilangan Valet: Lebih dari Sekadar Asisten Rumah Tangga
Di email lain, “The Invisible Man” mengungkapkan kesedihannya karena kehilangan valet-nya (pelayan pribadi). “Distraught! You probably wouldn’t know but I lost my valet on Thursday. He died in his sleep. He had been with me since I was 2. I am a little off balance as not only has my office been restructured, I have left the RN and now my whole life is in turmoil as I have no one to look after me. He was a real rock and almost a part of the family.” (Bingung! Kamu mungkin tidak tahu, tapi aku kehilangan valet-ku pada hari Kamis. Dia meninggal dalam tidurnya. Dia sudah bersamaku sejak aku berusia 2 tahun. Aku sedikit kehilangan keseimbangan karena tidak hanya kantorku direstrukturisasi, aku juga sudah meninggalkan RN dan sekarang seluruh hidupku dalam kekacauan karena aku tidak punya siapa pun yang menjagaku. Dia adalah batu karang sejati dan hampir menjadi bagian dari keluarga).
Penggunaan “RN” di sini mengacu pada Royal Navy (Angkatan Laut Kerajaan), yang ditinggalkan Duke of York pada bulan Juli 2001 setelah 22 tahun berdinas. Laporan-laporan dari tahun 2001 juga mencatat bahwa valet Mountbatten-Windsor, Michael Perry (61 tahun), meninggal beberapa hari sebelum email itu dikirim. Sebuah laporan di Daily Mirror mengatakan bahwa sang pangeran dan saudaranya, Pangeran Edward, “devastated” (hancur) atas kematian Perry, “who has worked for them since they were children” (yang telah bekerja untuk mereka sejak mereka masih anak-anak).
Maxwell menanggapi email ini dengan nada yang… unik. Dia bilang, “So sorry to disappoint you. However, the truth must be told. I have only been able to find appropriate friends.” (Maaf mengecewakanmu. Namun, kebenaran harus dikatakan. Aku hanya bisa menemukan teman-teman yang pantas). Apakah ini sindiran halus untuk permintaan “inappropriate friends” sebelumnya? Atau Maxwell cuma lagi sarkas? Entahlah, yang jelas, situasinya makin rumit.
Peru: Liburan Sambil Cari “Pemandangan Dua Kaki”?
Pada tanggal 28 Februari 2002, “The Invisible Man” menulis, “As for girls well I leave that entirely to you and Juan Estoban!” (Soal perempuan, aku serahkan sepenuhnya padamu dan Juan Estoban!). Dia juga menambahkan, “I am going to have more time after tomorrow to know what will happen and when in Peru so I will be in touch again on Friday” (Aku akan punya lebih banyak waktu setelah besok untuk tahu apa yang akan terjadi dan kapan di Peru jadi aku akan menghubungi lagi pada hari Jumat).
Ini adalah balasan dari “A” setelah Maxwell meneruskan pesan dari seseorang bernama Juan Estoban Ganoza, yang menguraikan kemungkinan kegiatan selama kunjungan ke Peru, termasuk mengunjungi Garis Nazca. Mountbatten-Windsor, yang saat itu masih menjadi anggota keluarga kerajaan dan utusan dagang Inggris, memang mengunjungi Peru pada bulan Maret 2002. Foto-foto merekam kehadirannya di berbagai lokasi, termasuk Lima.
Yang menarik, pada tanggal 3 Maret 2002, Maxwell mengirim email yang berbunyi, “I just gave Andrew your telephone no. He is interested in seeing the Nazca Lines. He can ride but it is not his favorite sport ie pass on the horses. Some sight seeing some 2 legged sight seeing (read intelligent pretty fun and from good families) and he will be very happy. I know I can rely on you to show him a wonderful time and that you will only introduce him to friends that you can trust and rely on to be friendly and discreet and fun. He does not want to read about any trip in the papers whom or what he saw.” (Aku baru saja memberikan nomor teleponmu pada Andrew. Dia tertarik melihat Garis Nazca. Dia bisa berkuda tapi itu bukan olahraga favoritnya, alias tidak usah pakai kuda. Sedikit jalan-jalan, sedikit pemandangan dua kaki (baca: cerdas, cantik, menyenangkan, dan dari keluarga baik-baik) dan dia akan sangat senang. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu untuk menunjukkan waktu yang menyenangkan dan bahwa kamu hanya akan mengenalkannya pada teman-teman yang bisa kamu percaya dan andalkan untuk bersikap ramah, bijaksana, dan menyenangkan. Dia tidak ingin membaca tentang perjalanan apa pun di surat kabar siapa atau apa yang dia lihat).
Pangeran Andrew: Antara Garis Nazca dan “Pemandangan Dua Kaki”
Email ini adalah satu-satunya saat nama “Andrew” disebut secara langsung. Dalam balasannya, “A” tampaknya mengenali kalimat ini sebagai referensi untuk dirinya sendiri. Dia bilang, “I will ring him today if I can” (Aku akan meneleponnya hari ini jika aku bisa). Jadi, apakah ini konfirmasi bahwa “A” adalah Pangeran Andrew? Dan apa maksud dari “pemandangan dua kaki”? Apakah ini kode untuk kegiatan yang… kurang pantas?
Kasus ini kayak lagi main puzzle yang kepingannya berceceran. Setiap email adalah satu keping, dan kita harus menyusunnya untuk melihat gambaran yang lebih besar. Tapi, yang jelas, gambaran ini nggak secantik foto-foto keluarga kerajaan yang biasa kita lihat di majalah.
Intinya, email-email ini bikin kita bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok istana? Apakah Pangeran Andrew cuma korban fitnah? Atau ada sesuatu yang lebih dalam dan lebih gelap yang sedang disembunyikan? Kita tunggu saja kelanjutan episodenya. Siapa tahu, nanti ada plot twist yang lebih gila dari sinetron Indonesia.


