Katanya sih, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Tapi, kalau suksesnya ketunda terus, apa kabar? Nah, kisah Sergey Brin, co-founder Google, ini bisa jadi pelajaran berharga. Bukan soal bagaimana dia mendirikan Google, tapi justru soal ‘kecelakaan’ bernama Google Glass. Jadi, siap-siap belajar dari kesalahan orang kaya, biar kita nggak ikutan nyungsep!
Kisah sukses di dunia teknologi sering digambarkan sebagai garis lurus yang mulus. Ide muncul, produk diluncurkan, dunia mengikuti. Padahal, buat mahasiswa yang mencoba memahami bagaimana inovasi bekerja, pelajaran yang lebih berguna seringkali datang dari apa yang tidak berjalan sesuai rencana. Ibarat main game, lebih seru kalau tahu jebakan dan cheat code-nya, kan?
Saat berbicara di Universitas Stanford dalam rangka memperingati seratus tahun sekolah teknik, Sergey Brin menceritakan salah satu pengalamannya. Brin merefleksikan mengapa Google Glass gagal dan apa yang akan dia lakukan secara berbeda. Ini bukan sekadar curhat, tapi juga kuliah gratis dari salah satu otak di balik raksasa teknologi.
Audiens termasuk mahasiswa yang ingin membangun perusahaan mereka sendiri. Salah satu dari mereka bertanya kepada Brin tentang pola pikir apa yang harus diadopsi oleh calon pengusaha untuk menghindari pengulangan kesalahan sebelumnya. Pertanyaannya pas banget, kayak lagi nanya walkthrough ke gamer senior.
Jawabannya sangat langsung. “Ketika Anda memiliki ide perangkat wearable baru yang keren, benar-benar matangkan sebelum melakukan aksi keren yang melibatkan terjun payung dan pesawat udara,” kata Brin, seperti dilansir Inc. Kalimat itu disambut tawa, tetapi maksudnya serius. Ibarat bikin kopi, jangan langsung diseduh air panas sebelum bubuknya halus dan takarannya pas.
Kapan Kecepatan Mengalahkan Kesiapan?
Google Glass diluncurkan pada tahun 2013 sebagai produk kacamata pintar konsumen. Perangkat ini memungkinkan pengguna untuk melihat notifikasi dan fungsi smartphone melalui layar kecil yang diposisikan di depan mata. Peluncurannya sangat terlihat dan diposisikan sebagai sekilas masa depan. Mirip teaser trailer film blockbuster yang bikin penasaran.
Dalam dua tahun, Google menghentikan versi konsumen. Terlalu cepat? Terlalu mahal? Atau terlalu aneh? Mungkin kombinasi dari semuanya.
Melihat ke belakang, Brin mengatakan masalahnya bukan pada idenya sendiri, tetapi pada waktunya. “Saya pikir saya mencoba mengkomersialkannya terlalu cepat, sebelum kami dapat membuatnya seefektif biaya yang kami butuhkan dan sehalus yang kami butuhkan dari sudut pandang konsumen,” katanya, seperti dikutip oleh Inc. Ibarat masak nasi goreng, sudah lapar banget, tapi nasinya masih pera dan bumbunya kurang nendang.
Produk ini berjuang dengan biaya, desain, dan ketidaknyamanan publik seputar privasi. Julukan “Glassholes” menjadi kependekan dari seberapa cepat kebaruan dapat berubah menjadi perlawanan ketika pengguna tidak yakin. Kayak beli gadget baru yang ternyata fiturnya nggak sesuai ekspektasi, ujung-ujungnya jadi pajangan doang.
Bagi mahasiswa, pelajarannya di sini bukanlah bahwa kegagalan tidak dapat dihindari, tetapi momentum dapat menjadi jebakan. Bergerak cepat dapat menciptakan tekanan yang membatasi pemikiran yang cermat. Ibarat nyetir mobil, ngebut boleh, tapi jangan sampai nabrak karena nggak lihat rambu.
Bahaya Percaya Mitos Sendiri
Brin juga jujur tentang pola pikirnya sendiri saat itu. “Saya agak terburu-buru dan saya berpikir, ‘Oh, saya adalah Steve Jobs berikutnya, saya bisa membuat benda ini. Ta da,'” katanya, menurut Inc. Pengakuan yang jujur, kayak lagi ngaku salah di depan emak.
Bagi mahasiswa yang setiap hari terpapar kisah sukses pendiri, pengakuan ini penting. Kepercayaan diri dirayakan, tetapi kepercayaan diri yang tidak terkendali dapat mengaburkan penilaian. Kisah Brin menunjukkan bagaimana bahkan pendiri berpengalaman pun dapat tertarik oleh harapan yang melekat pada reputasi mereka sendiri. Kayak seleb yang lupa diri karena terlalu banyak dipuji fans.
Perbandingan dengan Steve Jobs mencerminkan masalah budaya yang lebih luas. Tokoh-tokoh ikonik diingat karena terobosan mereka, bukan karena periode penyempurnaan yang panjang di belakang mereka. Mahasiswa mungkin menginternalisasi gagasan bahwa keyakinan saja dapat menggantikan proses. Padahal, bikin produk sukses itu kayak bikin skripsi, revisi berkali-kali sampai dosen bilang “ACC”.
Kenapa Waktu adalah Bagian dari Penilaian yang Baik?
Brin menggambarkan tekanan lain yang akan dikenali mahasiswa di awal karier mereka. “Ada treadmill yang Anda naiki di mana Anda harus mengirimkan pada waktu tertentu,” katanya. “Anda mungkin tidak dapat melakukan semua yang perlu Anda lakukan dalam jumlah waktu itu,” lapor Inc. Ini kayak lagi dikejar deadline skripsi, mau nggak mau harus selesai meski hasilnya pas-pasan.
Dia memperingatkan tentang apa yang dia sebut “bola salju harapan”, di mana tenggat waktu dan janji publik hanya menyisakan sedikit ruang untuk berhenti dan menilai kembali. Hasilnya tidak selalu kegagalan yang terlihat. Kadang-kadang itu adalah produk yang tiba sebelum siap untuk dipercaya. Kayak beli HP baru yang ternyata banyak bug-nya.
Bagi mahasiswa, ini menyoroti keterampilan yang lebih tenang. Mengetahui kapan tidak mengirim, mengetahui kapan menunda, dan mengetahui kapan sebuah ide masih perlu dikerjakan, bahkan jika perhatian dan pendanaan tersedia. Ini kayak tahu kapan harus istirahat main game, biar nggak kecanduan dan lupa waktu.
Pola Pikir yang Dibangun di Atas Kesabaran, Bukan Keberanian
Kata-kata Brin tidak menentang ambisi. Mereka menentang kecepatan yang dibentuk oleh citra. Saran intinya kepada siswa sederhana. Beri ide waktu. Beri ruang untuk menyempurnakan detail. Lawan keinginan untuk membuktikan diri terlalu cepat. Ibarat bikin game, jangan langsung rilis versi beta yang penuh bug, tapi matangkan dulu sampai pemainnya puas.
Mahasiswa sering didorong untuk berpikir besar dan bergerak cepat, tetapi pengalaman Brin menambahkan penyeimbang yang diperlukan. Dampak jangka panjang bergantung pada pengekangan sebanyak pada kepercayaan diri. Jadi, jangan cuma modal nekat, tapi juga perlu strategi dan perhitungan yang matang.
Kegagalan Google Glass tidak mendefinisikan karier Brin. Tetapi kesediaannya untuk berbicara secara terbuka tentang hal itu menawarkan kepada mahasiswa sesuatu yang lebih tahan lama daripada kisah sukses. Ini menawarkan pola pikir yang didasarkan pada kesabaran, kesadaran diri, dan disiplin untuk menunggu sampai sebuah ide benar-benar siap. Kayak nunggu pacar yang lagi dandan, emang lama, tapi hasilnya bikin hati senang.


