Di tahun 2026, dunia musik kembali dibuat heboh dengan nominasi Grammy Awards. Tapi, ada satu hal yang bikin alis kita naik sebelah: tak ada satu pun perempuan yang masuk nominasi Produser Terbaik Tahun Ini (Non-Klasik). Padahal, tahun lalu ada Alissia yang bikin kejutan. Apa jangan-jangan, industri musik masih kayak turnamen Mobile Legend, di mana role support seringkali diabaikan?
Dari sekian banyak nama yang muncul, ada tiga pendatang baru yang siap meramaikan panggung Grammy: Cirkut, Dijon, dan Sounwave. Sementara itu, dua veteran, Dan Auerbach dan Blake Mills, siap menunjukkan bahwa pengalaman memang nggak bisa dibohongi. Mari kita simak curhatan mereka tentang nominasi yang bikin deg-degan ini.
Dan Auerbach: Antara Grammy dan Warung Kopi
Dan Auerbach, bukan nama baru di dunia Grammy. Dengan lima nominasi dan satu kemenangan di tahun 2013, ia sudah kenyang asam garam industri musik. Tapi, apa sih yang membuatnya tetap relevan di tengah gempuran tren baru?
“Saya selalu merasa terkejut setiap dapat nominasi,” ujarnya merendah. “Saya merasa beruntung bisa diakui karena melakukan apa yang saya cintai. Bahkan jika Grammy nggak ada, saya tetap akan melakukan hal yang sama.” Sebuah jawaban yang menunjukkan bahwa passion memang nggak bisa dibeli.
Soal kunci suksesnya, Auerbach menjawab dengan diplomatis. “Sulit untuk dikatakan. Saya hanya terus mencoba mengikuti insting dan melakukan yang terbaik untuk nggak menghalangi proses.” Mungkin, inilah yang disebut dengan flow state dalam dunia gaming: membiarkan diri hanyut dalam permainan.
Menariknya, semua karya yang membuatnya dinominasikan dirilis melalui labelnya sendiri, Easy Eye. “Saya hanya ingin membantu artis membuat musik yang benar-benar mereka inginkan,” jelasnya. “Easy Eye ada untuk memberi mereka kebebasan itu. Label dan studio memungkinkan kami bekerja cepat dan instingtual.” Ibarat main game, Easy Eye adalah cheat code untuk kebebasan berekspresi.
Cirkut: Kaget Sampai Nggak Bisa Bangun dari Kasur
Lain lagi cerita Cirkut. Mendapat nominasi Produser Terbaik Tahun Ini (Non-Klasik) adalah pengalaman yang bikin dia nggak bisa berkata-kata. “Saya menontonnya secara langsung – masih di tempat tidur! Saya nggak percaya dengan mata saya,” ungkapnya dengan nada tak percaya.
Bagi Cirkut, nominasi ini adalah bukti bahwa Recording Academy mulai proaktif dalam merepresentasikan nama-nama baru di berbagai genre. “Setiap nomine membawa gaya khas mereka sendiri,” katanya. “Saya senang bahwa Recording Academy proaktif dalam merepresentasikan nama-nama mapan maupun baru di semua genre.” Sebuah pengakuan bahwa industri musik mulai membuka diri terhadap keberagaman.
Lima dari tujuh nominasi Cirkut tahun ini berasal dari kolaborasinya dengan Lady Gaga dan Rosé (BLACKPINK) bareng Bruno Mars. “Gaga mengalami tahun yang luar biasa,” pujinya. “Terlibat dalam 12 dari 14 lagu membuat nominasi AOTY [untuk MAYHEM] sangat berarti bagi saya.” Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa kerja keras memang nggak pernah bohong.
Dijon: Senyum-Senyum di Bus Tur
Mendapat nominasi Grammy pertama adalah momen yang nggak akan pernah dilupakan Dijon. “Saya tertidur di lounge depan bus tur saya dan saya tersenyum!” ujarnya singkat. Sebuah reaksi yang menunjukkan bahwa kebahagiaan bisa datang kapan saja, di mana saja.
Dijon memandang kelas nomine tahun ini sebagai representasi dari apa yang sedang resonan di dunia musik. “Blake Mills adalah teman dan sangat berpengaruh, jadi rasanya komunal dan keren,” katanya. “Saya juga sangat menyukai beat untuk lagu ‘GNX’ [oleh Kendrick Lamar, yang diproduseri bersama oleh Sounwave], jadi saya berada di perusahaan yang keren.” Sebuah pengakuan bahwa kolaborasi adalah kunci untuk menciptakan musik yang berkualitas.
Blake Mills: Bingung Tapi Senang
Blake Mills bangun dengan banjir ucapan selamat dari teman dan keluarga. Tapi, ia malah bingung. “Lima menit kemudian, saya menyadari nominasi Grammy sedang diumumkan, dan setelah 20 menit Googling, saya mulai merasa seperti semakin dekat untuk mengetahui apa yang telah saya nominasikan,” ceritanya. “Itu surealis dan histeris.” Mungkin, inilah yang disebut dengan plot twist dalam dunia film: kejutan yang tak terduga.
Bagi Mills, komunitas produser rekaman saat ini sangat beragam. “Lagu dan album yang kami kerjakan tahun ini mungkin masing-masing membutuhkan sesuatu yang sama sekali unik dari kami, jadi memilih produser ‘terbaik’ dari banyak orang adalah tugas yang mustahil,” ujarnya bijak. Sebuah pengakuan bahwa setiap produser memiliki keunikan dan kontribusi masing-masing.
Sounwave: Bukti Bahwa Jadi Diri Sendiri Itu Keren
Sounwave, dengan 18 nominasi Grammy di tangan, akhirnya mendapat nominasi Produser Terbaik Tahun Ini (Non-Klasik). “Saya telah diberkati untuk melakukan apa yang saya cintai selama lebih dari 20 tahun, dan saya telah menuangkan segalanya ke dalam pekerjaan saya setiap tahunnya,” ungkapnya dengan bangga. “Itulah mengapa menerima nominasi ini sangat berarti bagi saya di begitu banyak tingkatan.”
Bagi Sounwave, kemenangan akan menjadi bukti bahwa kita nggak perlu mengubah diri sendiri untuk meraih kesuksesan. “Kemenangan akan menunjukkan bahwa saya adalah bukti hidup bahwa Anda nggak perlu mengubah siapa Anda atau apa yang Anda yakini untuk menerima berkat besar,” tegasnya. “Tetap fokus, tetap jujur, dan tetap percaya.” Sebuah pesan yang menginspirasi untuk selalu menjadi diri sendiri.
Jadi, Siapa yang Bakal Menang?
Dengan keberagaman talenta dan gaya produksi yang unik, persaingan untuk meraih gelar Produser Terbaik Tahun Ini (Non-Klasik) di Grammy Awards 2026 dijamin bakal sengit. Apakah veteran seperti Dan Auerbach dan Blake Mills akan kembali menunjukkan kelasnya? Atau justru pendatang baru seperti Cirkut, Dijon, dan Sounwave yang akan mencuri perhatian? Kita tunggu saja kejutan di malam penghargaan nanti. Yang jelas, semoga aja nggak ada drama kayak rebutan buff di Mobile Legend, ya!


