Dunia sedang berputar, dan sepertinya Greenpeace memutuskan untuk ikut berputar sekencang-kencangnya, menyebar aksi dari festival di Indonesia hingga menentang kapal-kapal besar di Prancis. Lupakan saja kopi pagi; inilah dosis aktivisme global yang dikemas dengan gambar-gambar yang mungkin membuat mata terbelalak, atau setidaknya membuat berpikir, “Hmm, ini menarik.” Dari penari di festival yang dihiasi panel surya hingga komunitas adat yang berhadapan langsung dengan pemerintah, semuanya tumpah ruah dalam rentetan aksi mingguan organisasi lingkungan ini. Mari kita bedah sedikit, tanpa perlu basa-basi yang bikin ngantuk.
Indonesia, negeri kepulauan yang kaya akan alam, kini menjadi saksi bisu perpaduan seni dan energi bersih. Di Urup Festival yang merayakan “Penyambutan Matahari Pertama 2026,” Greenpeace Indonesia tak hanya numpang lewat. Mereka memboyong panel surya untuk menerangi area kemping pengunjung, sebuah langkah nyata yang menunjukkan bahwa transisi energi hijau itu bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang bisa disentuh, dirasakan, bahkan dinikmati sambil bergoyang mengikuti alunan musik Kunto Aji. Ini bukan sekadar pemasangan panel, ini adalah pernyataan bahwa festival pun bisa ramah lingkungan, sebuah tamparan halus bagi penyelenggara acara lain yang masih bergulat dengan generator diesel yang meraung-raung.
Namun, di balik kemeriahan festival, ada cerita lain yang mengiris. Di Jayapura, Papua, komunitas adat Malind tak tinggal diam. Sinta Gebze, salah satu perwakilan mereka, secara gamblang menyampaikan dokumen gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Gugatan ini menentang izin kelayakan lingkungan untuk pembangunan jalan akses sepanjang 135 kilometer. Bayangkan, sebuah jalan yang direncanakan melintasi tanah leluhur, dengan izin yang tampaknya mengabaikan dampak ekologis dan hak masyarakat adat. Ini bukan sekadar sengketa lahan; ini adalah pertarungan mempertahankan eksistensi dan warisan budaya dari ancaman pembangunan yang membabi buta.

© Alif R Nouddy Korua / Greenpeace
Senjata Baru Melawan Raksasa: Hukum dan Aksi Nyata
Bergerak ke Benua Biru, Spanyol menjadi medan pertempuran lain. Aktivis Greenpeace di sana tidak hanya berdemonstrasi, tetapi juga memberikan dukungan solid kepada organisasi yang menghadapi tuntutan hukum SLAPP (Strategic Lawsuit Against Public Participation). Tuntutan ini, yang dilayangkan oleh perusahaan energi raksasa seperti Shell, Total, dan ENI, adalah taktik licik untuk membungkam suara kritis. Memang lucu, perusahaan-perusahaan yang seharusnya bertanggung jawab atas krisis iklim justru menggunakan sistem hukum untuk menakut-nakuti para penjaga lingkungan. Ini bukan lagi soal bisnis; ini soal melawan imperialisme korporasi yang merusak planet.
Tak jauh dari sana, di perairan Dunkirk, Prancis, Greenpeace France memilih cara yang lebih dramatis. Dengan kayak dan zodiac, mereka memblokir kedatangan sebuah kapal kargo. Papan besar bertuliskan “EDF <3 Putin" dan pesan-pesan keras lainnya seperti "EDF stop toxic contracts" serta "Rosatom = war crime" dikibarkan. Aksi ini jelas menyasar kontrak-kontrak energi yang dinilai beracun dan berpotensi mendanai konflik. Di tengah gejolak geopolitik dan krisis energi, Greenpeace Prancis berani menyuarakan bahwa keputusan energi hari ini punya konsekuensi jangka panjang, bahkan hingga ke medan perang.
Sementara itu, di belahan dunia lain, Acapulco, Meksiko, menjadi panggung perayaan yang berbeda. Greenpeace Mexico menggelar Festival Layang-layang Monumental untuk Lautan. Dua puluh layang-layang raksasa diterbangkan di Princess Beach, menarik perhatian keluarga, turis, dan warga lokal. Bukan sekadar hiburan, festival ini adalah upaya membangun kesadaran tentang nilai ekosistem laut dan urgensi melindunginya di tengah gempuran perubahan iklim. Menciptakan ruang publik yang menyenangkan sambil menyampaikan pesan serius; sebuah strategi cerdas yang memadukan keindahan visual dengan advokasi lingkungan.

© Jesús Espinosa Espinosa / Greenpeace
Kekuatan Narasi Visual di Kancah Politik
Pindah ke Brussel, parlemen Eropa menjadi tuan rumah pemutaran film dokumenter “GASLIT.” Film produksi Greenpeace USA ini, yang dibintangi oleh aktris Jane Fonda, bukan sekadar hiburan semata. Ia meraih penghargaan sebagai Dokumenter Terbaik di Santa Barbara International Film Festival. Film ini berfungsi sebagai alat narasi visual yang kuat, membawa isu-isu lingkungan yang kompleks ke audiens yang lebih luas, terutama para pembuat kebijakan. Dalam dunia yang dipenuhi disinformasi, dokumenter seperti ini adalah senjata ampuh untuk membuka mata dan memicu diskusi yang lebih mendalam tentang urgensi aksi iklim.
Perlu diingat, Greenpeace telah lama menjadi pelopor dalam menggunakan fotografi dan videografi sebagai alat advokasi. Selama lebih dari 50 tahun, mereka telah mendedikasikan diri untuk menjadi saksi, merekam, dan mengungkap ketidakadilan lingkungan. Citra-citra yang mereka tangkap bukan sekadar foto indah; itu adalah bukti, peringatan, dan panggilan untuk bertindak. Ini adalah perpaduan antara seni, aktivisme, dan jurnalisme investigasi yang unik, yang terus relevan di era digital ini.
Intinya, rentetan aksi ini menunjukkan bahwa Greenpeace tidak bermain-main. Dari demonstrasi fisik yang berisiko tinggi, gugatan hukum yang strategis, hingga kampanye kesadaran publik yang kreatif, mereka terus berinovasi. Setiap aksi, sekecil apa pun, dirancang untuk mengganggu status quo, memicu percakapan, dan mendorong perubahan nyata. Ini adalah bukti bahwa perjuangan untuk planet yang lebih sehat membutuhkan keberanian, kreativitas, dan kesabaran yang luar biasa.
Kisah-kisah ini, meskipun singkat, mencerminkan perjuangan global yang terus berlangsung. Komunitas adat melawan penggusuran, aktivis menantang kekuatan korporasi yang rakus, dan para seniman menggunakan kreativitas mereka untuk menyuarakan peringatan. Semuanya bersatu dalam satu tujuan: menjaga bumi ini agar tidak benar-benar “gaslit” oleh kepentingan-kepentingan sempit yang mengorbankan masa depan. Jelas, perjuangan belum usai, dan Greenpeace, dengan segala gayanya yang kadang kontroversial namun selalu berdaya, terus menjadi garda terdepan.

© Eric De Mildt / Greenpeace
Menyaksikan deretan aksi ini, satu hal yang pasti: Greenpeace bukan sekadar organisasi lingkungan biasa. Mereka adalah maestro dalam memobilisasi massa, memanfaatkan kekuatan visual, dan menekan pihak-pihak yang berwenang dengan cara-cara yang seringkali membuat kaget. Dari aksi di festival yang merangkul teknologi hijau hingga blokade kapal kargo yang berani, setiap langkah mereka adalah bagian dari narasi besar penyelamatan planet ini. Mungkin kita tidak selalu setuju dengan metodenya, tapi dampaknya terhadap kesadaran publik tak bisa dipungkiri. Jadi, lain kali melihat berita tentang Greenpeace, jangan hanya bergumam setuju atau tidak. Pikirkan dampaknya, pikirkan strateginya, dan yang terpenting, pikirkan bagaimana setiap aksi kecil berkontribusi pada perubahan besar.

