Bayangkan dunia di mana karakter anime favoritmu tiba-tiba muncul di video buatan AI, tanpa izin, dan bikin gempar jagat maya. Kedengarannya seperti plot cerita isekai yang kacau, tapi inilah yang sedang terjadi. Jepang, dengan segala kekayaan budayanya, kini berteriak “Hentikan!” ke OpenAI. Kok bisa?
Kisahnya bermula ketika The Content Overseas Distribution Association (CODA), sebuah organisasi anti-pembajakan Jepang yang anggotanya adalah raksasa media dan game seperti Square Enix hingga FromSoftware, mengirimkan surat cinta (baca: permintaan resmi) ke OpenAI. Isi suratnya bukan ajakan kolaborasi, melainkan tuntutan agar OpenAI berhenti menggunakan konten para anggotanya untuk melatih model AI macam Sora 2. Singkatnya, mereka menuduh Sora 2 menjiplak.
CODA, yang dibentuk atas titah pemerintah Jepang untuk melindungi kekayaan intelektual mereka di luar negeri, merasa gerah karena hasil kreasi Sora 2 dinilai terlalu mirip dengan konten Jepang. Mereka curiga, OpenAI diam-diam menjadikan konten Jepang sebagai data latihannya. Padahal, di Jepang, izin itu lebih penting daripada sekadar minta maaf belakangan.
OpenAI dan Tuduhan Plagiarisme Digital: Sebuah Drama Baru?
Tudingan ini bukan tanpa dasar. CODA mengklaim telah menemukan banyak output Sora 2 yang “sangat mirip dengan konten atau gambar Jepang.” Mereka berpendapat bahwa tindakan OpenAI ini bisa dianggap sebagai pelanggaran hak cipta. Apalagi, menurut laporan media, OpenAI menawarkan sistem opt-out yang dianggap tidak sesuai dengan hukum hak cipta Jepang yang ketat.
Jadi, intinya, CODA ingin OpenAI memastikan bahwa konten anggotanya tidak digunakan tanpa izin untuk “menghidupi” Sora 2. Mereka juga menuntut agar OpenAI merespons dengan serius setiap klaim dan pertanyaan terkait pelanggaran hak cipta dari para anggotanya. Wah, OpenAI harus siap-siap menghadapi drama baru nih.
OpenAI sendiri meluncurkan Sora 2 pada 30 September 2025. Beberapa hari kemudian, CEO Sam Altman menyatakan niatnya untuk memberikan “kontrol yang lebih detail” kepada pemegang hak cipta atas karakter mereka. Dalam postingan blog berjudul ‘Sora Update #1’, Altman mengatakan OpenAI berencana membiarkan pemegang hak cipta menentukan bagaimana karakter mereka dapat digunakan oleh Sora – “termasuk tidak sama sekali.” Dia juga berharap teknologi ini akan begitu menarik sehingga banyak orang akan senang melihat karakter mereka ditampilkan. Apakah ini janji manis atau sekadar taktik meredam amarah?
Yang menarik, Altman juga menyempatkan diri untuk mengakui “output kreatif yang luar biasa” dari Jepang. “Kami terkejut dengan betapa dalamnya hubungan antara pengguna dan konten Jepang,” tambahnya. Hmm, apakah ini kode keras untuk para penggemar anime dan manga?
Ketika Sora 2 Menghidupkan Mimpi Buruk Para Kreator
OpenAI memang sedang menjadi bulan-bulanan tuntutan hukum. Banyak kreator yang tidak setuju dengan pendekatan “minta maaf belakangan” ala OpenAI dalam mengumpulkan data dari internet. Minggu lalu, seorang hakim mengizinkan gugatan class-action dari sejumlah penulis, termasuk George R. R. Martin (penulis Game of Thrones), untuk dilanjutkan. Mereka menuduh OpenAI dan Microsoft melanggar hak cipta mereka dengan menggunakan karya-karya yang dilindungi hukum untuk melatih model bahasa besar tanpa izin. Ini bukan lagi sekadar salah paham, tapi perang hak cipta skala besar!
OpenAI sendiri mengakui bahwa model percakapan ChatGPT dilatih menggunakan informasi yang “tersedia untuk umum di internet” serta “informasi yang kami mitra dengan pihak ketiga untuk mengakses” dan “informasi yang pengguna, pelatih manusia, dan peneliti kami berikan atau hasilkan.” Tapi, mereka kurang transparan tentang bagaimana Sora 2 dilatih. Ini seperti menyembunyikan resep rahasia di balik tirai digital.
The Washington Post melaporkan bahwa OpenAI belum merinci video mana yang digunakan untuk melatih Sora. Padahal, seorang pemimpin proyek sebelumnya menjelaskan bahwa OpenAI telah menggabungkan “data yang tersedia untuk umum dan berlisensi.” Untuk memahami konten apa yang mungkin digunakan OpenAI, The Washington Post menggunakan Sora untuk membuat ratusan video yang menunjukkan bahwa alat tersebut mampu mereplikasi film dan acara televisi Netflix, video game seperti Minecraft dan Civilization, dan karakter Marvel populer seperti Iron Man dan Spider-Man. Apakah ini bukti bahwa Sora 2 adalah mesin plagiarisme canggih?
Bulan lalu, Motion Picture Association (MPA) Amerika Serikat menanggapi peluncuran Sora 2 dengan menegaskan bahwa OpenAI-lah yang bertanggung jawab untuk mencegah pelanggaran hak cipta, bukan para pemegang hak cipta. “OpenAI perlu mengambil tindakan segera dan tegas untuk mengatasi masalah ini,” kata ketua dan CEO MPA, Charles Rivkin. “Hukum hak cipta yang mapan melindungi hak-hak pencipta dan berlaku di sini.” Ini seperti menunjuk hidung OpenAI di depan umum.
Siapakah yang Lebih Berhak: Kreator Manusia atau Algoritma AI?
Kasus CODA vs. OpenAI ini bukan sekadar masalah hukum, tapi juga pertanyaan filosofis. Di era AI, siapa yang lebih berhak atas sebuah karya: kreator manusia yang mencurahkan ide dan emosi, atau algoritma AI yang belajar dari jutaan data yang ada? Apakah AI adalah alat bantu yang memperkaya kreativitas manusia, atau justru ancaman yang menggusur keberadaan mereka?
Perdebatan ini mirip dengan kontroversi NFT (Non-Fungible Token) beberapa waktu lalu. Banyak seniman digital yang merasa dirugikan karena karya mereka diperjualbelikan tanpa izin di pasar NFT. Bedanya, kali ini yang menjadi sorotan adalah AI, teknologi yang lebih kompleks dan berpotensi mengubah lanskap industri kreatif secara fundamental. OpenAI, dengan segala kecanggihan teknologinya, harus mulai mendengarkan suara para kreator. Jangan sampai inovasi AI justru memicu perang hak cipta yang tak berkesudahan.
Masa Depan Industri Kreatif: Kolaborasi atau Konfrontasi?
Lantas, apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini? Pertama, regulasi terkait AI dan hak cipta harus diperjelas dan dipertegas. Pemerintah dan lembaga terkait perlu merumuskan aturan yang adil dan melindungi hak-hak para kreator. Kedua, transparansi adalah kunci. OpenAI dan perusahaan AI lainnya harus lebih terbuka tentang bagaimana mereka melatih model AI mereka. Informasi ini penting agar para kreator tahu bagaimana karya mereka digunakan dan apakah ada potensi pelanggaran hak cipta.
Terakhir, kolaborasi adalah solusi terbaik. OpenAI dan para kreator bisa bekerja sama untuk menciptakan model AI yang menghormati hak cipta dan mendorong inovasi. Bayangkan jika Sora 2 bisa menjadi alat yang membantu para animator menciptakan karya yang lebih menakjubkan, bukan justru menjiplak karya mereka. Ini bukan sekadar mimpi, tapi visi masa depan yang mungkin terwujud jika semua pihak bersedia duduk bersama dan mencari solusi yang saling menguntungkan.
Jadi, sambil menunggu kelanjutan drama CODA vs. OpenAI, mari kita renungkan: apakah AI akan menjadi teman atau musuh para kreator? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita menyikapi teknologi ini. Yang jelas, satu hal yang pasti: masa depan industri kreatif akan sangat berbeda dengan apa yang kita bayangkan saat ini. Siap atau tidak, kita harus ikut bermain dalam game ini.


