Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Hell Maiden: Game “Gila” Perpaduan Hades, Vampire Survivors, dan Dante Alighieri

Bayangkan begini: Dante Alighieri, penulis Divine Comedy, tiba-tiba disuguhi Hell Maiden, sebuah game roguelike dengan bumbu bullet hell, deckbuilding, dan cita rasa anime ’90-an. Reaksinya? Mungkin langsung pingsan karena kaget melihat “anak cucu” karyanya berevolusi jadi begini rupa. Tapi, di balik konsepnya yang absurd, demo game ini ternyata cukup menjanjikan.

Perkawinan Silang Hades dan Vampire Survivors

Hell Maiden ini, sederhananya, adalah hasil kawin silang antara Hades dan Vampire Survivors. Elemen Vampire Survivors lebih dominan dalam gameplay-nya. Kita bermain sebagai Dante (versi perempuan, kali ini), yang kembali ke neraka setelah sempat mampir ke surga, lengkap dengan amnesia. Jadi, ya, petualangannya dimulai lagi dari nol.

Awalnya, Dante hanya dipersenjatai bulu ayam (maksudnya, quill) yang menembakkan proyektil api ala cambuk Vampire Survivors. Kita bisa punya sampai empat senjata, yang diwakili oleh kartu. Setiap naik level, kita disuguhi tiga kartu baru. Biasanya, ini adalah modifier untuk senjata kita: menambah jumlah proyektil, meningkatkan damage, dan lain-lain. Kadang, ada juga senjata baru yang bisa dicoba.

Kalau dapat kartu modifier yang sama, kita bisa menggabungkannya dengan kartu lain untuk memperkuat efeknya, atau memasangnya ke senjata lain. Ada juga kartu yang bisa mempengaruhi beberapa senjata sekaligus, tergantung penempatannya. Ini mirip seperti kamu ngasih bumbu ke masakan, ada yang bikin pedas, ada yang bikin gurih, semua tergantung selera.

Ketika Kontrol Ada di Ujung Jari (Sedikit)

Seperti game-game Vampire Survivors lainnya, kita nggak punya kendali penuh atas serangan. Tapi, kita bisa mengarahkan serangan ke satu arah sambil bergerak ke arah lain. Jadi, ada sedikit kontrol di sana. Dan kontrol ini terasa solid. Nggak ada momen di mana kita merasa frustrasi atau kewalahan dengan apa yang terjadi di layar. Setiap kematian terasa adil, kesalahan sendiri.

Forum Sastra di Tengah Limbo

Elemen Hades muncul dalam struktur naratifnya. Setiap kali mati, kita dibawa ke The Forum, sebuah area hub di mana kita bisa ngobrol dengan para penyair Limbo, seperti Homer, Virgil, dan Horace. Kabarnya, dengan berteman dengan mereka, kita bisa membuka senjata starter baru, dan mereka juga menawarkan kartu senjata dan modifier yang berbeda.

Anime Girlifikasi Para Penyair

Semua ini dibungkus dalam visual ala anime ’90-an yang memanjakan mata, setidaknya dalam adegan-adegan dialog. Sebagian besar game menggunakan pixel art, tapi ada juga special move yang menampilkan cutscene animasi keren yang memperlihatkan versi anime girlified dari… ingat ya, para penyair yang beneran ada di dunia nyata.

Bayangin aja, Virgil jadi waifu. Horace jadi husbando. Dante, ya, tetap jadi Dante, tapi versi cewek.

Genre-Blending yang Berhasil

Biasanya, menggabungkan berbagai genre, meski dilakukan dengan baik, nggak otomatis bikin saya tertarik. Tapi, dengan konsepnya yang sangat matang, Hell Maiden berhasil memikat saya. Sekarang, tinggal berharap nggak ada yang menemukan mesin waktu supaya Dante nggak meninggal lebih cepat dari seharusnya.

Roguelike: Sekali Mati, Ketagihan Lagi

Dalam dunia game, genre roguelike itu ibarat hubungan yang toxic tapi bikin nagih. Sekali mati, semua progres hilang. Tapi, anehnya, kita malah pengen main lagi. Entah karena penasaran, atau karena emang udah kecanduan sama tantangannya. Hell Maiden sepertinya paham betul formula ini.

Keadilan dalam Neraka Digital

Mungkin terdengar aneh, tapi Hell Maiden menawarkan semacam keadilan dalam neraka digitalnya. Setiap kesalahan dihukum dengan kematian, tapi setiap kematian adalah pelajaran. Kita belajar pola serangan musuh, kita belajar kombinasi kartu yang efektif, dan kita belajar untuk nggak gegabah. Ini seperti naik kelas di sekolah kehidupan, tapi versi video game.

Dari Sastra Klasik ke Arena Bullet Hell

Siapa sangka, sastra klasik bisa jadi inspirasi untuk game bullet hell yang seru? Hell Maiden membuktikan bahwa nggak ada batasan untuk kreativitas. Bahkan, karya setinggi Divine Comedy pun bisa diolah jadi sesuatu yang baru dan menarik. Ini seperti mengubah lukisan Mona Lisa jadi meme, kontroversial, tapi juga jenius.

Hell Maiden: Bukan Sekadar Game, tapi Interpretasi Ulang

Hell Maiden bukan sekadar game. Ini adalah interpretasi ulang dari karya sastra klasik, dengan sentuhan modern yang segar dan menghibur. Ini adalah bukti bahwa seni bisa hadir dalam berbagai bentuk, bahkan dalam bentuk game roguelike yang penuh dengan tembakan dan anime girlifikasi.

Hell Maiden belum punya tanggal rilis pasti, tapi rencananya akan hadir dalam early access. Kamu bisa masukkan ke wishlist di Steam sekarang juga.

Semoga saja, Dante nggak bangkit dari kubur dan menuntut royalti.

Previous Post

Seo Se-won: Kisah Pilu Putri Seo Dong-joo Ungkap Transformasi Ayah Pasca Penahanan dan Perjuangan Keluarga

Next Post

Slipknot Gugat Pemilik Domain Slipknot.com: Jualan Merchandise Palsu!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *