Bayangkan begini: kamu lagi asyik main game, udah level dewa, eh tiba-tiba listrik mati. Gelap gulita, frustrasi tingkat tinggi. Nah, konser Helloween itu kayak lagi seru-serunya nge-raid bos terakhir, tapi mendadak vokalisnya lupa lirik. Untungnya, kejadian kayak gitu nggak sampai bikin konsernya bubar jalan, malah jadi bumbu penyedap yang bikin penonton makin penasaran. Mari kita bedah, apa aja yang terjadi di konser 40 tahun Helloween yang katanya lebih seru dari reuni keluarga ini.
Setlist Nostalgia yang Bikin Metalhead Nangis Bombay
Helloween, band power metal asal Jerman yang udah malang melintang selama 40 tahun, baru aja nendang tur perayaan mereka di Rockhal, Luksemburg. Buat para penggemar setia, konser ini ibarat mesin waktu yang membawa mereka kembali ke era kejayaan metal. Bayangin aja, lagu “March Of Time” yang terakhir kali dibawain live tahun 2018, tiba-tiba muncul lagi. Kayak nemu harta karun di loteng rumah nenek, kan?
Nggak cuma itu, ada juga “The King For A 1000 Years” yang terakhir kali mengguncang panggung tahun 2008. Terus, yang bikin heboh lagi, ada beberapa lagu yang debut live, kayak “This Is Tokyo”, “Into The Sun”, dan “Universe (Gravity For Hearts)”. Ini kayak dikasih cheat code sama developer game, sesuatu yang baru dan bikin penasaran buat dieksplor.
Tapi, yang namanya konser, nggak mungkin semuanya berjalan mulus kayak jalan tol baru. Pasti ada aja kejadian nggak terduga. Misalnya, ada yang salah kostum, sound system ngadat, atau bahkan ada penonton yang kesurupan. Tapi, justru disitulah letak serunya. Kayak main game yang penuh glitch, tapi tetep bikin nagih.
“Giants & Monsters”: Album Baru yang Lebih Nendang dari Kopi Tubruk
Selain merayakan 40 tahun eksistensi, Helloween juga lagi promo album terbaru mereka, “Giants & Monsters”. Album ini diklaim sebagai rilisan paling versatile dan dinamis sepanjang karir mereka. Gokil! Katanya sih, album ini kayak upgrade software yang bikin performa band makin ngebut. Ibaratnya, dari Pentium 4 langsung loncat ke Ryzen 9. Jauh, kan?
Proses mixing album ini juga nggak main-main. Dilakukan di Wisseloord Studios, Belanda, tempat band-band legendaris kayak Iron Maiden, Judas Priest, dan Def Leppard pernah rekaman. Jadi, bisa dibilang, “Giants & Monsters” ini udah di-blessing sama dewa-dewa metal dunia.
Rahasia Dapur Helloween: Dari Perbedaan Jadi Energi Kreatif
Salah satu kunci sukses Helloween adalah chemistry antar personil yang unik. Gitaris Michael Weikath bilang, “Yang bikin kami terus termotivasi adalah fakta bahwa kami sangat berbeda. Itu menghasilkan energi kreatif.” Kayak bikin masakan, kalo bahan-bahannya beda, rasanya juga jadi lebih kaya. Nggak cuma asin, manis, pedas, tapi juga ada rasa pahit dan asam yang bikin nagih.
Kai Hansen menambahkan, “Kami berusaha untuk tidak menganggap diri kami sendiri dan segala sesuatu di sekitar kami terlalu serius.” Ini penting banget, biar nggak baperan dan tetep bisa santai menikmati proses berkarya. Andi Deris, sang vokalis, menyimpulkan, “Pada akhirnya, kami hanyalah tujuh orang yang ingin membuat musik dan menikmati kekuatan tak tertandingi yang muncul ketika kami bersama. Helloween jauh lebih kuat daripada jumlah bagian-bagiannya.” So sweet!
“Giants On The Run”: Ketika Kai Hansen Nambahin Lagu di Lagu Andi Deris
Dalam wawancara dengan Metal Hammer Greece, Andi Deris cerita soal proses kreatif di album “Giants & Monsters”. Katanya, kali ini semua personil lebih terlibat dalam proses pembuatan lagu. “Kai, misalnya, dia menambahkan bisa dibilang lagu baru ke dalam lagu saya. ‘Giants On The Run’, seluruh bagian tengahnya adalah lagu baru yang Kai masukkan, dan itu sempurna; itu cocok.”
Ini kayak kolaborasi epik antara dua jagoan, yang hasilnya malah jadi lebih keren dari yang dibayangkan. Deris juga bilang, dulu waktu bikin album sebelumnya, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi, kali ini, karena tekanan udah nggak terlalu besar, semua jadi lebih santai dan terbuka untuk ide-ide baru. “Play with it. Don’t stress it. Just play with it. And that was a lot of fun,” kata Deris.
“Giants & Monsters”: Antara Konspirasi dan Bible
Soal judul album “Giants & Monsters”, Deris punya interpretasi yang cukup dalam. “Judul pertama mengatakan segalanya. Itu ‘Giants On The Run’, dan itu berbicara tentang kita sebagai umat manusia. Kita sebenarnya adalah raksasa. Kita adalah dewa di dalam. Tetapi kemudian Anda bisa datang dengan teori konspirasi. Apakah kita sengaja, sengaja direndahkan sehingga sisi dewa, hal raksasa yang kita semua miliki di dalam, tidak diizinkan untuk mengekspresikan dirinya atau keluar?”
Kai Hansen menambahkan, “Dibutuhkan semua upaya. Anda harus melawan monster. Itulah intinya. Dan saya pikir judulnya meninggalkan banyak ruang untuk interpretasi. Anda bisa mengatakan raksasa adalah ide-ide hebat Anda yang mungkin Anda miliki, tujuan Anda, tujuan Anda. Tapi kemudian datanglah monster, iblis yang harus Anda lawan dan perjuangan sehari-hari.”
Bahkan, Deris sampai merujuk ke Bible untuk menjelaskan konsep “Giants & Monsters”. “Saya berkata, ‘Oke, lihat, bahkan tertulis di dalam Alkitab.’ Ada raksasa berjalan di bumi, dan siapa bilang bahwa raksasa tidak masih di sini di dalam diri kita sendiri? Maksud saya, kita *adalah* masih raksasa, dan seperti yang Kai katakan, Anda terus-menerus harus melawan iblis, monster dalam hidup Anda.”
Menjaga Keseimbangan: Antara Ekspektasi Penggemar dan Kreativitas
Salah satu tantangan terbesar buat band yang udah lama eksis adalah menjaga keseimbangan antara memenuhi ekspektasi penggemar dan tetap berkreasi dengan hal-hal baru. Kai Hansen bilang, “Ini adalah tantangan dan itu selalu seperti berjalan di tepi jurang. Karena jika Anda menganggap bahwa Anda ingin orang-orang senang dengan apa yang Anda lakukan, tetapi di sisi lain, ketika Anda melakukan hal Anda, Anda seharusnya tidak menganggap itu. Anda seharusnya tidak menulis dengan tujuan itu dalam pikiran, karena, pertama-tama, Anda harus menjadi penggemar dari apa yang Anda lakukan. Bagi saya, itu adalah proses yang sangat egois. Saya menulis untuk diri saya sendiri, dan saya ingin menjadi penggemar dari apa yang saya lakukan. Dan kemudian saya senang jika orang lain berpikir begitu juga.”
Andi Deris menambahkan, “Ya, itu cara saya juga. Saya tidak ingin mengatakan saya tidak peduli, tetapi ketika Anda menulis, seharusnya tidak ada apa pun di belakang pikiran Anda. Itu hanya Anda dan musik Anda. Dan seperti yang Kai katakan, jika merinding Anda naik, itu bagus untuk diri Anda sendiri, pertama-tama. Dan kemudian ketika Anda menyelesaikan lagu, pada pikiran kedua atau tebakan kedua adalah, ‘Apakah mereka akan menyukainya di luar sana?’ Tetapi selama proses penulisan lagu, itu tidak penting. Anda penting karena Anda harus benar-benar memberikan pikiran Anda, perasaan Anda ke dalam apa pun yang Anda lakukan pada saat itu. Dan ya, kadang-kadang itu tidak cukup baik sehingga orang-orang akan berkata, ‘Ya, saya menyukainya.’ Tetapi saya selalu mengatakan bahwa kemungkinan bahwa saya benar-benar senang dengan lagu saya dan merinding saya naik, menganggap diri saya sebagai orang super-normal, jadi ketika saya mengatakan saya menyukainya, merinding saya naik, karena saya menganggap diri saya sebagai orang yang biasa-biasa saja, saya akan mengatakan orang normal di luar sana akan merasakan hal yang sama [seperti] yang saya lakukan. Itulah yang selalu saya harapkan.”
Helloween: Lebih dari Sekadar Band Metal
Dari setlist nostalgia yang bikin metalhead nangis bombay, album baru yang lebih nendang dari kopi tubruk, sampai rahasia dapur yang bikin band ini tetep solid selama 40 tahun, konser Helloween ini lebih dari sekadar pertunjukan musik. Ini adalah perayaan kreativitas, persahabatan, dan semangat pantang menyerah yang bisa jadi inspirasi buat kita semua. Jadi, buat kamu yang merasa hidupnya lagi gitu-gitu aja, coba dengerin lagu Helloween. Siapa tahu, kamu jadi semangat lagi buat nge-raid bos terakhir dalam hidupmu.


