Di balik jeruji besi, seringkali tersembunyi masalah kesehatan yang kompleks, seolah-olah virus dan bakteri merasa seperti diundang ke pesta pribadi mereka. Bayangkan saja, sebuah populasi yang padat, sirkulasi yang tinggi, dan kondisi yang terkadang kurang ideal. Virus hepatitis, misalnya, mungkin melihatnya sebagai arena balap Formula 1 untuk penyebaran. Nah, jangan kaget jika European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) dan European Union Drugs Agency (EUDA) akhirnya turun tangan dengan ‘senjata’ baru bernama European Toolkit for the Elimination of Viral Hepatitis in Prisons (EuroHePP), sebuah inisiatif ambisius untuk memutus rantai penyebaran hepatitis di lingkungan penjara, yang diluncurkan jelang Prisoners’ Justice Day pada 10 Agustus.
## Saat Virus Hepatitis Dapat Tiket VVIP di Balik Jeruji
Mungkin terdengar aneh, tapi penjara memang menjadi “hotspot” yang sangat menguntungkan bagi virus hepatitis B (HBV) dan hepatitis C (HCV). Coba bayangkan, populasi di dalam penjara cenderung memiliki insiden hepatitis virus yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum. Ini bukan kebetulan semata, melainkan kombinasi faktor risiko yang unik. Salah satu alasannya adalah tingginya riwayat penggunaan narkoba suntik di antara mereka yang masuk penjara di Eropa, yang merupakan faktor risiko utama penularan HBV dan HCV.
Ditambah lagi, berbagi peralatan suntik, praktik tato atau tindik tubuh yang tidak aman, berbagi pisau cukur, dan seks tanpa pelindung, semuanya menjadi pemicu penyebaran virus. Kondisi ini menjadikan penjara sebagai prioritas utama untuk intervensi pencegahan dan pengobatan hepatitis virus yang ditargetkan. Jika tidak ditangani, virus-virus ini akan terus menari-nari dengan bebas, mengancam kesehatan individu di dalamnya dan berpotensi menyebar ke luar.
Maka, tidak heran jika ECDC dan EUDA berkolaborasi dengan para ahli dan praktisi Eropa untuk meracik sebuah panduan komprehensif. Tujuan utamanya? Mendukung upaya lokal untuk mengeliminasi hepatitis virus di lingkungan penjara, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB tentang Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik. Ini adalah misi yang serius, karena target PBB untuk mengeliminasi hepatitis sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030 tidak akan tercapai jika “benteng” penjara belum ditaklukkan.
## EuroHePP: Toolkit Sakti Melawan Hepatitis di Balik Tembok
Toolkit EuroHePP ini bukan sekadar buku panduan biasa; ini adalah peta harta karun untuk kesehatan di dalam penjara. Di dalamnya, terdapat panduan praktis tentang cara mencegah, mengevaluasi, dan mengobati HBV dan HCV. Mulai dari latar belakang masalah, pengembangan strategi, implementasi strategi, hingga pemantauan dan evaluasi, semuanya dibahas tuntas dalam empat bagian kunci.
Toolkit ini juga dilengkapi dengan tautan ke panduan kesehatan masyarakat yang relevan dan alat praktis untuk memahami konteks serta merumuskan strategi eliminasi yang efektif. Bahkan, ada contoh model perawatan dari penjara di Jerman, Spanyol, Prancis, Italia, dan Luksemburg, yang bisa menjadi inspirasi bagi yang lain. Semacam “best practice” yang sudah terbukti di lapangan.
Melalui EuroHePP, EUDA dan ECDC menyediakan informasi yang praktis dan berbasis bukti bagi para profesional kesehatan di penjara tentang bagaimana membangun intervensi yang efektif. Namun, manfaatnya tidak berhenti di situ; informasi ini juga relevan bagi pembuat kebijakan, staf keamanan, narapidana, pekerja dukungan sebaya, dan pekerja sukarela. Intinya, siapa pun yang punya niat baik untuk berkontribusi.
Tidak hanya berhenti pada toolkit, dukungan lebih lanjut akan tersedia dalam bentuk sesi pelatihan khusus yang disediakan oleh EUDA dan ECDC. Pelatihan ini akan diberikan dalam beberapa bulan mendatang, memastikan implementasi toolkit yang efektif dan skalabilitas layanan. Jadi, ini bukan hanya teori, melainkan panduan aksi nyata.
## Prinsip Kesetaraan: Kesehatan Bukan Fitur Premium di Penjara
Salah satu sorotan utama proyek ini adalah prinsip kesetaraan perawatan, yang diakui dalam hukum Eropa dan internasional. Prinsip ini menyatakan bahwa individu di penjara harus menerima perawatan kesehatan yang sama dengan mereka yang berada di komunitas. ECDC bahkan menegaskan, “Orang yang dicabut kebebasannya tidak boleh juga dicabut haknya atas kesehatan.” Ini semacam pengingat bahwa hak asasi manusia tidak berhenti di pintu masuk penjara.
Dossier berjudul _Invisible Populations_ dalam jurnal _Epidemiologia & Prevenzione_ mengungkapkan bahwa penyakit menular masih menjadi penyebab utama kematian yang dapat dicegah di penjara. Penelitian yang dipimpin oleh Erica De Vita, MD, dari Universitas Pisa ini menunjukkan bagaimana kondisi penjara—seperti kepadatan berlebih, sanitasi yang buruk, pergantian narapidana yang cepat, dan kesehatan yang rapuh—membuat para narapidana sangat rentan.
Faktor-faktor ini menciptakan lingkungan berisiko tinggi untuk penyebaran infeksi, termasuk hepatitis B, influenza, human papillomavirus, COVID-19, dan penyakit pneumokokus. Singkatnya, lingkungan penjara bisa menjadi semacam “percepatan” untuk virus dan bakteri, membuat mereka berkembang biak dengan cepat.
Artikel tersebut juga menjelaskan proyek RISE-Vac (_Reaching the hard-to-reach: increasing access and vaccine uptake among prison populations in Europe_), yang dikoordinasikan oleh Universitas Pisa. Proyek yang berakhir pada November 2024 ini telah bekerja di enam negara: Italia, Inggris, Prancis, Jerman, Siprus, dan Moldova. Hasilnya luar biasa, termasuk pendirian klinik vaksinasi di penjara, seperti di Milan, yang dikombinasikan dengan kampanye kesadaran dan program pemberdayaan kesehatan.
Proyek ini juga mempelajari keraguan vaksin di kalangan narapidana dan staf, menunjukkan bahwa literasi kesehatan sangat penting untuk meningkatkan penerimaan vaksin dan cakupan vaksinasi. Ini bukti bahwa informasi yang tepat adalah kunci, bahkan di balik tembok.
## Dari Balik Jeruji, Kesehatan Publik Jadi Lebih ‘Auto-Win’
Jangkauan “toolbox” Eropa yang baru ini ternyata melampaui tembok penjara. Dengan hukuman singkat dan penahanan berulang, kelompok orang yang sama seringkali bergerak antara penjara dan komunitas. Ini berarti bahwa masalah kesehatan yang ditangani di lingkungan penjara, seperti hepatitis virus, dapat memberikan manfaat kesehatan bagi komunitas yang lebih luas.
Dengan mengurangi beban penyakit secara keseluruhan di dalam penjara, kita juga mencegah penularan infeksi di masa depan begitu narapidana kembali ke masyarakat. Ini seperti efek domino positif; satu masalah diselesaikan di satu tempat, dampaknya terasa di mana-mana. Para ahli ECDC di Stockholm, Swedia, bahkan memuji toolkit baru ini sebagai “terstruktur dengan baik, mudah diadaptasi, dan berbasis bukti.”
Mereka juga menekankan perlunya keberanian politik dan organisasi untuk menjadikan toolkit ini inti dari upaya kesehatan masyarakat dalam memerangi hepatitis virus di penjara. Ini bukan hanya tentang kesehatan narapidana, tetapi tentang kesehatan kita semua. Karena pada akhirnya, kesehatan publik adalah tanggung jawab bersama, dan tidak ada yang boleh tertinggal, bahkan mereka yang berada di balik jeruji besi sekalipun.

