Kalian sudah pernah jadi cyborg, maling, bahkan cyborg maling di berbagai immersive sim. Sekarang, bagaimana kalau jadi iblis dominatrix yang gesit? Jangan kaget, ini bukan tawaran pekerjaan sampingan, tapi premis dari Brush Burial: Gutter World, game terbaru dari Knife Demon Software.
Saatnya Jadi Iblis yang Lincah dan Mematikan
Di Brush Burial: Gutter World, kalian akan kembali berperan sebagai Fennel, iblis rawa berekor cabang. Ekor ini bukan cuma hiasan, tapi bisa jadi cambuk sekaligus alat untuk grappling. Bayangkan bisa menjatuhkan properti seenaknya dan menangkis anak panah crossbow di udara. Lebih seru dari sekadar joget TikTok, kan?
Fennel tetap lincah seperti di seri sebelumnya, Brush Burial. Gerakannya gesit bak kutu loncat, tapi kali ini diperkuat dengan koppōjutsu yang sudah di-overclock. Kalian bisa menjerat musuh dan melakukan takedown yang sinuous dan mematikan. Tapi ingat, saat eksekusi, kalian jadi rentan. Risikonya sepadan dengan kepuasan yang didapat. Animasi patah tulang di game ini lebih bikin ngilu daripada semua adegan brutal di Doom Eternal. Serius, trailernya saja bikin saya merinding.
Demo yang Bikin Penasaran dan Wardrobe yang Bikin Iri Adam Jensen
Ada demo gratis Gutter World di Steam. Versi lengkapnya nanti akan punya empat level. Fokusnya adalah replayability, jadi kalian bisa bereksperimen dengan berbagai cara “membengkokkan” tulang belakang musuh dan membuka berbagai kosmetik. Soal kosmetik, saya suka banget wardrobe-nya Fennel. Adam Jensen nggak pernah punya kesempatan pakai korset dan stoking selutut. Kan, kasihan.
Lingkungan di game ini didesain dengan gaya okultisme yang unik. Semua objek terlihat seperti dihancurkan dan dibentuk ulang. Tempat-tempat yang suram dan bobrok ini terasa seperti improvisasi liar sekaligus rekayasa yang cermat. Ini adalah dunia yang penuh keburukan dan kekurangan. Dan kalian nggak wajib bersikap baik padanya. Seperti yang tertulis di halaman Steam: “Tersesatlah di dalam usus licin dari bagian bawah kolonial. Hasilkan kekayaan dari kesengsaraan.” Mantap.
Fitur yang Dijanjikan: Lebih dari Sekadar Cambuk dan Korset
Ini dia daftar fitur yang dijanjikan oleh developer:
- Level yang didesain dengan ketat dan saling berhubungan, dengan banyak jalur menuju tujuan. Penuh dengan NPC yang ramah atau bermusuhan, yang bereaksi terhadap kejahatan seperti mencuri, masuk tanpa izin, dan membunuh.
- Pertarungan cepat dan instan yang sederhana tapi kuat. Mendorong penggunaan senjata improvisasi atau curian, objek lingkungan, dan sistem takedown hand-to-hand yang unik.
- Puluhan kosmetik unik yang bisa dibuka melalui tantangan gameplay, serta progres melalui level game.
- Satu ‘Kontrak Besar’ dan Tiga ‘Kontrak Kecil’ untuk diselesaikan. Empat level secara total, dibuat untuk dimainkan ulang.
Rekomendasi dari Para Ahli: Bukan Cuma Gutter World yang Layak Dilirik
Saya tahu soal demo baru ini dari Liz Ryerson, developer Problem Attic. Dia juga sudah mengumpulkan beberapa permata Next Fest di Bluesky. Ryerson juga menyebut 「TERROR」type:【A.L.C.H.E.M.Y.】, sebuah game yang cukup menarik perhatian saya meski pilihan tipografinya agak mengerikan. Intinya, ini adalah immersive sim di mana kalian bermain sebagai pembuat bom. Kalian harus mencampur reagen sambil bergegas melewati bayang-bayang.
Alternatif untuk yang Bosan Jadi Iblis: Telur Jahat yang Menghibur
Kalau kalian mulai nggak suka immersive sim setelah melihat Fennel mengubah penjaga jadi pretzel, mungkin bisa coba demo Evil Egg. Ini adalah shmup yang mengingatkan saya pada Crystal Quest, hit lama di Macintosh. Terima kasih, Liz!
Immersive Sim: Bukan Sekadar Genre, Tapi Gaya Hidup?
Immersive sim, atau simulasi imersif, memang bukan genre yang mudah dijelaskan. Tapi intinya, game-game ini memberikan kebebasan luas kepada pemain untuk berinteraksi dengan dunia game dan menyelesaikan tujuan dengan cara yang kreatif. Bayangkan seperti main teater improvisasi, tapi di dalam komputer. Kalian dikasih properti dan setting, lalu disuruh bikin cerita sendiri.
Brush Burial: Gutter World sepertinya mencoba menawarkan sesuatu yang segar dalam genre ini. Bukan cuma dari segi premis yang unik (iblis dominatrix, siapa yang kepikiran?), tapi juga dari segi gameplay yang menekankan pada kelincahan dan kreativitas. Ditambah lagi dengan grafis yang artistik dan atmosfer yang suram, game ini menjanjikan pengalaman yang tak terlupakan. Atau setidaknya, bikin kalian bertanya-tanya, “Ini sebenarnya lagi main game atau lagi terapi?”.
Kenapa Kita Butuh Game Seperti Gutter World?
Di tengah gempuran game AAA yang generik dan formulaik, game-game indie seperti Gutter World hadir sebagai angin segar. Mereka berani mengambil risiko, bereksperimen dengan ide-ide gila, dan memberikan pengalaman yang benar-benar unik. Game seperti ini mengingatkan kita bahwa gaming bukan cuma soal grafis yang memukau atau cerita yang bombastis, tapi juga soal inovasi dan kreativitas.
Selain itu, game-game indie juga seringkali menyentuh isu-isu sosial yang relevan. Mungkin Gutter World nggak secara eksplisit membahas isu-isu politik atau lingkungan, tapi dengan menghadirkan karakter utama seorang iblis dominatrix, game ini menantang norma-norma gender dan seksualitas yang ada. Siapa tahu, setelah main game ini, kalian jadi lebih open-minded dan toleran. Atau minimal, jadi punya bahan obrolan baru di tongkrongan.
Jadi, Siapkah Kalian Jadi Iblis Dominatrix?
Brush Burial: Gutter World menawarkan pengalaman gaming yang unik, brutal, dan mungkin sedikit aneh. Tapi justru itulah yang membuatnya menarik. Kalau kalian bosan dengan game-game yang itu-itu saja, dan ingin mencoba sesuatu yang benar-benar berbeda, game ini layak untuk dilirik. Siapa tahu, setelah main Gutter World, kalian jadi menemukan jati diri kalian yang sebenarnya: seorang iblis dominatrix yang gesit dan mematikan. Jangan lupa korset dan cambuknya!


