Industri gaming, oh industri gaming… Dulu, kita cuma kenal Super Mario yang lompat-lompat menghindari jamur. Sekarang, kompleksitasnya udah kayak ngurusin negara api yang nggak pernah padam. Kabar terbaru datang dari Ubisoft, raksasa game asal Prancis yang kantor cabangnya di Inggris Raya sedang meramalkan cuaca bisnis yang agak mendung. Kira-kira, kenapa ya kok bisa begitu?
Ubisoft Inggris, yang markasnya ada di Guildford, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang bikin alis kita naik sebelah. Mereka memperkirakan penjualan mereka bakal loyo di tahun fiskal yang sedang berjalan. Alasannya? Kombinasi antara game baru yang dirilis nggak sebanyak tahun lalu dan perubahan kebiasaan para gamer. Wah, ada apa nih dengan kebiasaan gamer zaman sekarang?
Menurut mereka, para gamer sekarang lebih setia sama beberapa judul game tertentu dan menghabiskan waktu lebih lama di sana. Akibatnya, game baru jadi kesulitan buat menonjol dan mencapai penjualan yang diharapkan. Ibaratnya, game baru ini kayak anak baru di sekolah yang harus bersaing sama geng lama yang udah punya nama besar. Susah gaes, susah!
Nggak cuma itu, Ubisoft juga menambahkan kalau pasar sekarang jadi lebih labil dan potensi penjualan setiap judul game jadi susah diprediksi. Dulu, kita bisa মোটামুটি tahu game A bakal laku berapa juta kopi. Sekarang? Jangankan prediksi, ngitung kancing aja lebih pasti hasilnya. Ini semua bikin Ubisoft waswas dan memproyeksikan penurunan penjualan sampai Maret 2026.
Dalam laporan keuangan terbaru yang diajukan ke Companies House, pendapatan Ubisoft sebenarnya naik 11 persen jadi 33,3 juta poundsterling. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan oleh integrasi aktivitas pusat hubungan pelanggan ke dalam bisnis mereka. Tapi, di balik angka yang kelihatan bagus ini, ada penurunan penjualan barang sebesar 29 persen jadi 18,9 juta poundsterling. Duh, kontradiktif sekali.
Ubisoft: Dari Untung Jutaan, Kini Cuma Sejuta Lebih Dikit
Lebih lanjut, keuntungan sebelum pajak Ubisoft terjun bebas dari 54,4 juta poundsterling jadi cuma 1,1 juta poundsterling. Kenapa bisa begitu? Ternyata, di tahun sebelumnya, mereka dapat dividen sebesar 55 juta poundsterling dari anak perusahaan mereka, Ubisoft Reflections. Nah, tahun ini dividen itu nggak ada lagi. Ibaratnya, tahun lalu dapet durian runtuh, tahun ini kena apesnya.
Padahal, di tahun yang sama, Ubisoft merilis beberapa game besar kayak Star Wars Outlaws, Assassin’s Creed Shadows, dan Just Dance 2025. Bandingin sama tahun sebelumnya yang ngerilis Assassin’s Creed Mirage, Avatar: Frontiers of Pandora, The Crew Motorfest, Just Dance 2024, Prince of Persia The Lost Crown, dan Skull and Bones. Kok, kayaknya tetep banyakan tahun lalu ya?
Nggak cuma Ubisoft, pasar penjualan fisik game di Inggris juga mengalami penurunan sekitar 35 persen di tahun yang sama. Ini semua gara-gara pergeseran ke game digital dan subscription-based yang makin digandrungi. Kita sekarang lebih suka langganan Netflix-nya game daripada beli satu-satu. Lebih praktis, hemat tempat, dan nggak bikin dompet bolong terlalu lebar.
Konsol Lawas, Alasan Klasik Penurunan Penjualan?
Penjualan perangkat keras game di Inggris juga ikut-ikutan nyungsep sekitar 25 persen. Ubisoft bilang, ini karena siklus konsol yang udah mulai menua. Alih-alih ngeluarin konsol baru yang benar-benar revolusioner, perusahaan konsol lebih milih ngasih update ke konsol yang udah ada. Kayak ganti baju doang, tapi dalemnya tetep itu-itu juga. Nggak heran kalo orang jadi males beli.
Ubisoft memperkirakan kinerja mereka di tahun fiskal yang sedang berjalan bakal sedikit membaik. Penurunan penjualan software fisik nggak akan separah tahun lalu. Tapi, mereka juga mengakui kalau model penjualan game tradisional yang mengharuskan kita beli satu game seharga 50-60 poundsterling udah mulai ketinggalan zaman.
Sekarang, konsumen punya banyak pilihan buat menikmati konten game. Ada layanan subscription multi-game, game as a service yang umurnya panjang, free to play game, dan cloud streaming. Semua ini nawarin cara baru dan menarik buat mengakses game. Kita jadi kayak milih menu di restoran yang menunya nggak ada abisnya.
Main Sedikit, Tapi Lama: Kebiasaan Gamer yang Bikin Pusing Ubisoft
Ubisoft menyimpulkan, konsumen sekarang main game lebih sedikit, tapi mainnya lebih lama. Akibatnya, selain beberapa pengecualian, banyak game baru yang kesulitan buat menonjol dan mencapai penjualan yang diharapkan. Pasar juga jadi lebih labil dan potensi setiap judul game jadi susah diprediksi. Ini semua bikin Ubisoft harus putar otak buat nyari strategi baru.
Sebagai akibat dari jadwal rilis fisik yang lebih sedikit, Ubisoft memperkirakan pendapatan mereka bakal turun di tahun fiskal yang sedang berjalan. Ini jadi pukulan telak buat perusahaan yang udah lama jadi penguasa industri game. Mereka harus segera adaptasi atau bakal ketinggalan kereta.
Kabar buruk nggak cuma dateng dari penjualan. Ubisoft juga baru aja nge-PHK 100 karyawan di Inggris. Ini semua bagian dari restrukturisasi yang lebih besar yang bertujuan buat ngurangin biaya sekitar 200 juta euro. Berat ya jadi perusahaan game di zaman sekarang.
Ubisoft: Era Baru Industri Game?
Intinya, Ubisoft lagi menghadapi tantangan yang berat. Perubahan kebiasaan gamer, pergeseran ke digital game, dan siklus konsol yang menua adalah faktor-faktor yang bikin mereka pusing tujuh keliling. Mereka harus segera nemuin cara buat beradaptasi dan tetep relevan di industri game yang terus berubah. Kalo nggak, bisa-bisa mereka cuma jadi kenangan indah di masa lalu. Kita tunggu aja gimana kelanjutan kisah Ubisoft ini. Moga-moga mereka bisa bangkit dan ngasih kita game yang lebih seru lagi di masa depan.

