Raja-Raja Game Turun Gunung, Kok Malah Nyungsep? Drama di Balik Layar Industri Game Modern
Bayangkan saja, para dewa-dewi industri game, yang jari-jemarinya sudah bersahabat akrab dengan joystick dan keyboard sejak era dinosaurus, kini malah terlihat seperti karakter level 1 yang tersesat di dungeon terlarang. Bukan kisah biasa tentang studio indie yang merintis dari nol, melainkan drama “Raja-Raja Game Turun Gunung, Kok Malah Nyungsep?” yang sedang memanas di balik layar industri game modern. Ternyata, memiliki nama besar dan sejarah gemilang tidak selalu menjamin kesuksesan di pasar yang semakin kompetitif, bahkan untuk Mike Morhaime, salah satu pendiri raksasa Blizzard Entertainment sekalipun.
Morhaime, yang dikenal sebagai salah satu otak di balik game legendaris seperti World of Warcraft, Diablo, dan Overwatch, mendirikan perusahaan barunya, Dreamhaven, pada tahun 2020. Dengan harapan tinggi, Dreamhaven meluncurkan game multiplayer shooter bernama Wildgate, dan tak lama kemudian disusul oleh Sunderfolk. Namun, surat yang ia kirimkan kepada stafnya minggu ini mengungkapkan sebuah kenyataan pahit yang mungkin ia harap tidak perlu pernah ditulis.
Menurut surat yang beredar, satu bulan setelah peluncuran Wildgate, game tersebut hanya terjual 130.000 unit. Sementara itu, Sunderfolk, yang debut pada April lalu, hanya mencatat penjualan 62.000 kopi. Meskipun Morhaime menyebutkan bahwa kedua game tersebut menerima ulasan positif, performa penjualannya jauh di bawah ekspektasi awal.
Kondisi finansial Dreamhaven kini memerlukan perhatian serius. Morhaime menulis bahwa pengeluaran bulanan perusahaannya jauh melampaui pendapatan yang dihasilkan. Fokus utama saat ini adalah “mengurangi biaya secara mendesak”, demi memastikan Dreamhaven dapat bertahan hidup di tengah badai industri.
Situasi yang dihadapi Dreamhaven ternyata bukan anomali, melainkan sebuah tren yang tengah melanda industri. Beberapa studio game baru yang digawangi oleh veteran-veteran ternama lainnya juga menghadapi tantangan serupa dalam menarik perhatian pemain. Para pembuat game berkaliber tinggi yang meninggalkan perusahaan mapan untuk memulai petualangan sendiri, kini berjuang keras untuk menciptakan hit dan berkembang, bahkan setelah mengamankan investasi puluhan juta dolar.
Ketika Sang Raja Merana: Mimpi yang Belum Terwujud
Frost Giant Studios Inc., yang juga didirikan oleh para veteran Blizzard, meluncurkan Stormgate pada bulan Agustus lalu. Namun, Co-Founder dan CEO Tim Morten mengungkapkan dalam unggahan LinkedIn bahwa game tersebut tidak mendapatkan lalu lintas atau penjualan seperti yang ia harapkan. Ironisnya, perusahaan itu sendiri sudah melaporkan pada April lalu bahwa “pendapatan dari penjualan early access game tidak cukup untuk mendukung biaya operasional perusahaan di masa depan”.
Tahun lalu, Frost Giant Studios mencatat kerugian sekitar 11,7 juta dolar AS dengan penjualan hanya 1,4 juta dolar AS. Morten menjelaskan bahwa bisnis game selalu didorong oleh hit besar, namun kini persaingan semakin ketat. “Semakin banyak game baru diluncurkan, jadi tantangannya lebih berat dari sebelumnya,” ujar Morten, menekankan persaingan dengan media digital lain seperti TikTok yang juga berebut perhatian audiens.
Banyak perusahaan game baru kesulitan merebut perhatian gamer dari “forever games” yang sudah mapan. Judul-judul seperti Fortnite, League of Legends, Counter-Strike 2, dan DoTA 2 secara rutin diperbarui dengan konten baru. Ini menjaga pemain tetap tertarik, menjadikan rilis baru sulit bersaing dengan daya tarik komunitas lama dan katalog item digital yang sudah dibeli.
Sebagian besar game baru yang berjuang keras mencari audiens dirancang untuk mode multiplayer yang sekaligus menjadi genre paling jenuh. Model bisnis ini memang berambisi menghasilkan pendapatan dari pembelian in-game yang berulang, alih-alih hanya penjualan cepat di awal. Namun, dengan banyaknya pilihan, pemain menjadi lebih selektif.
Bukan Cuma Satu, Tapi Banyak Hati yang Patah
Selama pandemi, jumlah orang yang beralih ke game untuk menghabiskan waktu melonjak drastis, dan para investor tentu saja mencatat fenomena ini. Antusias dengan lonjakan tersebut, jumlah kesepakatan dan total investasi di industri game dari modal ventura hampir berlipat ganda pada tahun 2021. Menurut data PitchBook, angka ini mencapai 1.683 kesepakatan dengan total 13,7 miliar dolar AS. Dana besar ini mengalir ke banyak studio game baru yang dipimpin oleh pengembang yang ingin mengambil pendekatan lebih lincah dalam membuat game, berbeda dari perusahaan besar seperti Activision Blizzard atau Riot Games.
Uang yang “mudah” ini memicu bermunculannya banyak studio baru. Namun, kini setelah game mereka dalam tahap pengembangan atau sudah dirilis sepenuhnya, banyak yang harus berhadapan dengan pasar yang lebih jenuh dan tantangan untuk mendapatkan pendanaan tambahan. Sejak puncaknya di tahun 2021, jumlah kesepakatan dan total dana yang berhasil dihimpun telah turun hingga setengahnya. Eric Bellomo, analis senior untuk gaming di PitchBook, dalam laporannya pada bulan Juni, menyebut kurangnya hit besar dan pasar yang jenuh sebagai penyebab penurunan ini.
Fantastic Pixel Castle, yang didirikan oleh Greg Street, seorang alumnus Riot Games, kini berisiko kehilangan pendanaan dari NetEase Inc. Perusahaan ini sedang mengerjakan massively-multiplayer online role-playing game (MMORPG) yang ambisius, genre yang sama dengan yang dikembangkan Street di Riot Games. Awalnya, game Fantastic Pixel yang diberi kode nama Ghost memiliki anggaran lebih dari 100 juta dolar AS dari NetEase, namun kini perusahaan tersebut berusaha mengurangi ukuran anggarannya.
NetEase sendiri memang sedang mengurangi pengeluaran, didorong oleh skeptisisme CEO William Ding yang semakin meningkat terhadap industri game, seperti yang dilaporkan sebelumnya. Saat ditanya mengenai investasinya di Fantastic Pixel, NetEase menyatakan komitmennya untuk menawarkan berbagai game yang menarik. Mereka juga menegaskan bahwa “menilai kemajuan, kelangsungan, dan potensi keberhasilan semua game dan studio kami adalah praktik standar industri dan tanggung jawab bisnis.”
Dilema ‘Game Abadi’ dan Medan Perang Digital Baru
Fenomena “forever games” menjadi salah satu momok menakutkan bagi para pendatang baru. Bayangkan saja, pemain sudah terlanjur nyaman dengan dunia Fortnite yang terus-menerus memberikan update baru, atau karakter kesayangan di League of Legends yang sudah memiliki segudang skin premium. Membuat pemain pindah ke game baru yang belum memiliki komunitas kuat atau sejarah panjang, adalah seperti meminta seseorang meninggalkan rumah nyaman mereka untuk pindah ke kontrakan tanpa furniture.
Genre multiplayer yang dipilih banyak studio baru ini memang menjanjikan pendapatan jangka panjang dari transaksi in-game. Namun, untuk mencapai titik itu, mereka harus terlebih dahulu melewati gerbang neraka persaingan. Setiap minggunya, ada lusinan game multiplayer baru yang mengklaim menawarkan pengalaman unik, namun hanya sedikit yang benar-benar bisa menembus kebisingan pasar.
Selain game lain, kompetisi juga datang dari luar ekosistem gaming. Tim Morten benar: aplikasi seperti TikTok kini menjadi pesaing berat dalam merebut waktu dan perhatian pengguna. Jika dulu orang bisa menghabiskan berjam-jam di depan konsol, kini mereka juga terpecah antara scrolling video viral, streaming serial TV, atau berbagai platform media sosial lainnya. Dunia digital telah menjadi medan perang multi-sisi, dan game bukan lagi satu-satunya raja.
Titanic Gaming: Kisah Investasi yang Tenggelam
Ledakan investasi di tahun 2021 memang terasa seperti era gold rush baru di industri game. Modal ventura seolah-olah berlomba-lomba menanamkan dana segar, memercayai para veteran yang menjanjikan “era baru” gaming yang lebih lincah dan inovatif. Namun, ketiadaan hit besar yang bisa mengguncang pasar, ditambah dengan kondisi pasar yang semakin jenuh, membuat kapal investasi ini mulai menunjukkan retakan.
Kisah Fantastic Pixel Castle dan NetEase menjadi cerminan nyata dari hangover investasi ini. Bahkan anggaran game yang semula fantastis, lebih dari 100 juta dolar AS, kini harus ditinjau ulang. Skeptisisme CEO NetEase terhadap industri game secara keseluruhan, ditambah dengan praktik standar untuk menilai kelayakan proyek, menunjukkan bahwa era cek kosong untuk para veteran sudah berakhir. Para investor kini lebih berhati-hati, menuntut bukti nyata keberhasilan, bukan hanya janji-janji manis dari curriculum vitae yang mengilap.
Strategi Bertahan Hidup: Potong Harga Atau Potong Harapan?
Di tengah badai ini, Mike Morhaime, sang legenda, mencoba berbagai cara untuk menjaga Dreamhaven tetap berlayar. Ia bahkan memotong harga Wildgate sepertiga, menjadi 20 dolar AS di platform gaming Steam. Langkah ini diambil dengan harapan membuat game lebih mudah dijangkau oleh lebih banyak pemain, sebuah upaya adaptasi yang mendesak di tengah persaingan sengit.
Dalam wawancaranya, Morhaime mengakui bahwa membuat game yang sukses secara komersial selalu menjadi tantangan sepanjang kariernya. Ia menekankan pentingnya bagi para pembuat game untuk beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah, serta terus mendengarkan komunitas dan umpan balik mereka. Ini bukan hanya tentang membuat game yang bagus, tetapi juga tentang memahami denyut nadi pasar dan keinginan pemain yang semakin kompleks.
Intinya, bahkan para titan yang pernah berjaya pun tidak kebal terhadap gejolak pasar yang tak terduga. Era di mana nama besar saja sudah cukup untuk menarik jutaan pemain sepertinya sudah berlalu, digantikan oleh realitas keras di mana kualitas, inovasi, dan kemampuan untuk bersaing dengan “game abadi” menjadi kunci utama. Masa depan industri game menuntut lebih dari sekadar resume legendaris; ia membutuhkan koneksi yang tulus dengan basis pemain yang terus berkembang dan adaptasi yang gesit di arena yang semakin hyper-kompetitif.


