Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Infeksi Paru-paru Parah: Cicilan Risiko Kanker Paru-paru?

Pernahkah terpikir bahwa flu atau COVID-19 parah bukan sekadar ‘masuk angin’ biasa, melainkan bisa jadi semacam ‘alarm kebakaran’ yang membangkitkan sel kanker tersembunyi di paru-paru? Penelitian terbaru berani berspekulasi, dan hasilnya bikin merinding sekaligus nagih untuk tahu lebih lanjut, layaknya menunggu patch terbaru game favorit.

Dari Batuk Pilek Jadi ‘Main Musuh’ di Paru-paru

Bayangkan paru-paru sebagai base camp utama yang harus dijaga ketat dari serangan virus. Nah, studi terbaru mengindikasikan bahwa serangan virus pernapasan yang cukup brutal, sekelas COVID-19 atau flu berat yang sampai bikin harus nginep di rumah sakit, ternyata bisa meninggalkan ‘bekas luka’ di paru-paru. Bekas luka ini, ibaratnya, menciptakan medan yang lebih ramah bagi sel kanker untuk tumbuh subur, bahkan bertahun-tahun setelah infeksi mereda.

Bukan cuma sekadar teori konspirasi, para ilmuwan sudah melihat pola ini pada tikus percobaan. Hewan pengerat yang mengalami infeksi pernapasan parah, baik itu akibat flu maupun virus penyebab COVID-19, terbukti lebih rentan mengembangkan kanker paru-paru dan lebih mungkin kalah perang melawan penyakit mematikan ini. Ini seperti menemukan bug di sistem operasi yang membuat satu level jadi lebih sulit dilalui.

Demi memastikan fenomena ini bukan sekadar kebetulan di dunia mamalia kecil, peneliti mengalihkan pandangan ke data manusia. Mereka menelusuri rekam medis jutaan orang dari Amerika Serikat, Lebanon, dan Arab Saudi yang pernah dirawat di rumah sakit karena COVID-19, namun belum pernah terdiagnosis kanker sebelumnya. Tujuannya jelas: memantau apakah ada peningkatan kasus kanker paru-paru setelah mereka sembuh dari infeksi virus.

Hasilnya? Mengejutkan. Orang yang pernah dirawat karena COVID-19 menunjukkan peningkatan risiko diagnosis kanker paru-paru sebesar 24 persen. Angka ini signifikan, apalagi terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat setelah infeksi, dan yang lebih mencengangkan, risiko ini tetap tinggi terlepas dari status perokok pasien atau ada tidaknya kondisi kesehatan lain yang lazimnya meningkatkan kemungkinan kanker paru-paru.

Inflamasi Kronis: ‘Selingkuhan’ Virus yang Membuka Pintu Kanker

Bagaimana virus bisa ‘bermain api’ dengan kanker? Para ahli menduga bahwa respons inflamasi ekstrem yang dipicu oleh infeksi virus parah bisa mengacaukan sistem pertahanan alami paru-paru. Sel-sel imun yang seharusnya melindungi jaringan paru-paru justru bisa ikut ‘terluka’ atau berubah fungsi, menciptakan kondisi inflamasi kronis. Ibaratnya, pasukan penjaga malah jadi bingung dan malah membuka gerbang pertahanan.

James DeGregori, PhD, seorang peneliti di University of Colorado Anschutz School of Medicine, menjelaskan bahwa temuan ini mengindikasikan adanya semacam ‘memori’ di dalam lingkungan paru-paru. Infeksi tersebut tampaknya mengubah ‘suasana’ paru-paru, menjadikannya lebih kondusif untuk sel kanker memulai perjalanannya atau bahkan mempercepat pertumbuhannya jika sel kanker sudah ada sebelumnya.

Menariknya, ini bukan kali pertama virus dikaitkan dengan kanker. Hepatitis B sudah lama dikenal sebagai biang keladi kanker hati, sementara Human Papillomavirus (HPV) menjadi penyebab utama kanker serviks. Penelitian sebelumnya juga sudah mengaitkan COVID-19 dengan berbagai jenis kanker, dan kini semakin jelas bahwa infeksi virus pernapasan bisa ‘membangunkan’ sel kanker yang sedang ‘tertidur’ atau mempercepat perkembangan kanker paru-paru yang sudah ada.

Ketika ‘Sistem’ Gagal: Keterbatasan Penelitian yang Perlu Dicermati

Meskipun studi ini berhasil membangun korelasi yang kuat, para peneliti sendiri mengakui ada beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah kemungkinan bias dari data medis itu sendiri. Pasien yang dirawat di rumah sakit, terutama sebelum tahun 2022, kemungkinan besar menjalani pemeriksaan pencitraan medis dan perawatan lanjutan. Hal ini bisa saja meningkatkan kemungkinan terdeteksinya kanker paru-paru yang mungkin sudah ada namun belum terdiagnosis, atau bahkan lesi prakanker.

Charlotte Kuperwasser, PhD, seorang peneliti dari Tufts University School of Medicine, menyoroti bahwa pasien dengan COVID-19 parah mungkin saja sudah memiliki kondisi paru-paru yang rentan sebelumnya, seperti kanker paru-paru yang belum terdeteksi, penyakit paru kronis, atau gangguan imun. Kondisi-kondisi ini bisa menjadi alasan mengapa mereka mengalami infeksi yang lebih parah, bukan semata-mata karena virus itu sendiri.

Selain itu, studi ini juga belum mempertimbangkan status vaksinasi COVID-19 para partisipan. Wafik S. El-Deiry, MD, PhD, dari Legorreta Cancer Center at Brown University, berpendapat bahwa informasi mengenai status vaksinasi, serta alasan mengapa pasien yang sudah divaksinasi tetap mengalami pneumonia parah, sangat krusial untuk dipahami lebih dalam, terutama untuk menyelaraskannya dengan data dari percobaan pada tikus.

Namun, data dari tikus ini setidaknya memberikan satu titik terang: virus penyebab COVID-19 itu sendiri bukanlah satu-satunya ‘tersangka’. Infeksi virus lain yang menyebabkan pneumonia parah pada tikus juga menunjukkan peningkatan risiko kanker paru-paru. Ini menguatkan dugaan bahwa mekanisme ‘kerusakan’ dan inflamasi yang ditimbulkan oleh infeksi pernapasan parah itulah yang menjadi kunci masalahnya.

Menjaga Pertahanan: Langkah Cerdik Melawan Serangan Ganda

Temuan ini sejatinya adalah pengingat keras tentang pentingnya menjaga ‘benteng’ pertahanan tubuh, terutama melalui vaksinasi. Para peneliti menganjurkan agar tenaga medis lebih waspada dan mempertimbangkan skrining kanker paru-paru secara rutin bagi individu yang memiliki riwayat infeksi COVID-19, flu, atau pneumonia berat. Ini seperti melakukan scan rutin pada karakter game untuk mendeteksi potensi ancaman.

Jie Sun, PhD, penulis utama studi ini, menekankan bahwa infeksi virus parah bukan hanya berbahaya saat akut, tetapi juga dapat berkontribusi pada penyakit kronis, termasuk kanker. Oleh karena itu, melindungi diri dari infeksi berat sebisa mungkin adalah langkah pencegahan yang krusial. Bukan hanya soal kesehatan jangka pendek, tapi investasi jangka panjang.

Bagi individu yang berisiko tinggi mengalami penyakit parah akibat infeksi virus, sangat disarankan untuk berdiskusi dengan tim medis mengenai opsi pengobatan antivirus, seperti Tamiflu untuk flu atau Paxlovid untuk COVID-19. Obat-obatan ini dapat membantu mencegah infeksi ringan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, ibarat menaikkan armor class karakter.

Selain langkah medis, pertimbangan personal juga memegang peranan. DeGregori menyarankan, jika seseorang adalah penyintas kanker, menjaga status vaksinasi tetap prima dan sebisa mungkin menghindari situasi berisiko tinggi terpapar infeksi adalah strategi yang bijak. Namun, pada akhirnya, setiap individu harus membuat keputusan berdasarkan penilaian risiko pribadi. Pilihan ada di tangan masing-masing, layaknya memilih build karakter yang paling sesuai dengan gaya bermain.

Previous Post

Teck Rilis Laporan Keberlanjutan: Janji Hijau atau Sekadar Janji Manis?

Next Post

Nottingham Forest ‘Kecele’: Midtjylland Curi Kemenangan, Asa Europa Pupus

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *