Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

iPhone Terancam: DarkSword Mengintai Lewat Klik Sembarangan

Pernahkah membayangkan ponsel kesayangan yang selalu setia menemani justru jadi biang keladi masalah? Nah, ini bukan sinetron azab, melainkan kenyataan pahit dari celah keamanan baru yang dijuluki “DarkSword.” Serangan ini, bagaikan hantu digital, mengintai para pengguna iPhone, cukup dengan mengklik tautan yang salah. Ironisnya, ancaman ini datang dari ekosistem yang sama-sama getol soal keamanan, yaitu para raksasa teknologi macam Google, Lookout, dan iVerify yang justru membongkar boroknya. Ibaratnya, tukang kunci malah bikin kunci duplikat buat maling.

Kabar baiknya, Apple bukannya diam saja. Perusahaan yang identik dengan logo apel tergigit ini kabarnya sudah menambal lubang-lubang yang dimanfaatkan DarkSword sejak versi iOS 15 hingga 26 dirilis tahun lalu. Mereka bahkan merilis pembaruan darurat untuk perangkat yang tak bisa lagi menenggak versi iOS terbaru. Namun, ada catatan penting: pengguna yang masih berkubur di iOS 13 atau 14 wajib naik kelas setidaknya ke iOS 15 agar aman. Mengingat kedua sistem operasi lawas itu lahir di era 2019 dan 2020, ini seperti meminta seseorang yang masih pakai ponsel fitur untuk langsung lompat ke smartphone canggih tanpa jembatan.

Apple juga membagikan panduan perlindungan yang sejatinya sama saja dengan yang mereka sampaikan ke publik. Intinya, update itu wajib hukumnya, bahkan untuk ancaman spesifik seperti DarkSword. Perlu dicatat, tautan berbahaya yang berhasil diidentifikasi dan dipublikasikan dalam blog keamanan Google pun sudah diblokir oleh fitur Safe Browsing Safari. Sebuah langkah defensif yang patut diapresiasi, meskipun tidak sepenuhnya menjamin kebal dari serangan yang lebih cerdik.

Senjata Fileless, Jejak Hilang

DarkSword ini bukan tipikal spyware yang hinggap permanen di perangkat. Justru sebaliknya, ia adalah tipe serangan “fileless,” artinya tidak meninggalkan jejak fisik berupa instalasi program. Alih-alih menanamkan kode jahat, DarkSword memanfaatkan proses sah dari sistem operasi iPhone untuk mencuri data sensitif. Seperti ditulis oleh Wired, metode ini membuat deteksinya jadi lebih sulit, karena ia bersembunyi di balik “pekerjaan” normal ponsel. Yang lebih mengerikan, begitu misi selesai, semua bukti keberadaannya lenyap tak bersisa.

Proses serangan dimulai saat perangkat iOS terpapar “malicious iframe” yang tertanam dalam sebuah halaman web. Dari sana, DarkSword bergerak diam-diam, mengumpulkan informasi berharga seperti kata sandi, sebelum akhirnya menghapus dirinya sendiri. Tidak hanya pesan atau konten iCloud yang menjadi target, DarkSword juga dilaporkan dirancang khusus untuk merampok crypto currency wallets. Fakta ini bisa jadi petunjuk awal mengenai siapa dalang di balik DarkSword sebelum akhirnya teknik ini menyebar luas.

Pelaporan menunjukkan bahwa DarkSword telah digunakan di berbagai negara, termasuk Ukraina, Arab Saudi, Malaysia, Turki, dan Rusia. Menariknya, jejak asal-usulnya bisa ditelusuri ke toolkit peretasan lain bernama Coruna. TechCrunch melaporkan bahwa Coruna kemungkinan dibuat untuk pemerintah AS oleh perusahaan bernama Trenchant. Terlepas dari asal-usulnya, DarkSword baru menjadi senjata publik ketika pengguna di Rusia membocorkan kode sumbernya di sebuah situs web. Lengkap dengan komentar berbahasa Inggris yang menjelaskan setiap komponen, bahkan menyertakan nama “DarkSword” itu sendiri. Sebuah ironi, teknologi canggih yang seharusnya dijaga ketat justru bisa diakses publik karena kelalaian.

Versi iOS Lawas, Target Empuk

Apple memang telah memperbaiki celah keamanan yang dimanfaatkan oleh DarkSword dan Coruna melalui pembaruan sistem operasi. Kabarnya, perbaikan ini sudah ada sejak versi iOS 26, pembaruan tahunan yang dirilis setelah iOS 18. DarkSword secara spesifik menyasar versi iOS 18 antara 18.4 hingga 18.6.2. Menurut data penggunaan iOS terbaru dari Apple untuk para pengembang, sekitar 24% perangkat iOS masih setia menggunakan salah satu varian iOS 18. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret potensi jumlah perangkat yang masih rentan terhadap serangan.

Yang lebih mengkhawatirkan, Apple merilis iOS 26 dan pembaruan iOS 18.7 secara bersamaan pada 15 September 2025. Ini berarti, bahkan bagi mereka yang enggan melakukan pembaruan besar-besaran ke iOS 28, setidaknya ada perbaikan keamanan yang sudah tersedia selama enam bulan. Meskipun data Apple menunjukkan 24% pengguna masih di iOS 18, jumlah ponsel yang benar-benar terancam mungkin lebih kecil dari itu. Namun, ini menjadi pengingat keras bahwa mengabaikan pembaruan perangkat lunak adalah undangan terbuka bagi berbagai ancaman siber, tak peduli seberapa canggih gawai yang dimiliki.

Update, March 19, 2026, 11:19AM ET

Informasi dalam artikel ini telah diperbarui dengan rincian dari Apple mengenai versi iOS yang telah secara proaktif ditambal untuk mengurangi kerentanan ini.

Update, March 19, 2026, 10:10AM ET

Artikel ini diperbarui untuk menegaskan bahwa meskipun kerentanan ini menargetkan iOS 18, Apple telah merilis pembaruan iOS 18 selama enam bulan terakhir yang aman dari serangan ini.

Previous Post

AI untuk Perdamaian: ‘Senjata’ Cerdas Hentikan Konflik, Bukan ‘Peperangan’

Next Post

Taylor Swift Muncul di iHeartRadio: Diam-diam Dominasi Panggung Musik

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *