Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Kesatuan Global: Revival Kampus Rayakan Keberagaman Budaya

Bayangkan dunia di mana perbedaan budaya dirayakan dengan joget heboh, makanan enak bertebaran, dan tebak-tebakan Alkitab ala emoji. Kedengarannya seperti pesta anak Tuhan yang seru abis? Nah, itulah yang terjadi di International Thursday: Taste the Nations, acara tahunan yang digelar Campus Revival di University of Memphis. Sebuah perayaan keberagaman yang lebih meriah dari reunian keluarga besar saat Lebaran.

Acara ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa. Mahasiswa dari berbagai negara seperti Ghana, Kenya, Kamerun, dan Amerika Serikat, hadir dengan bangga mengenakan pakaian tradisional dan mengibarkan bendera kebangsaan mereka. Suasana kampus mendadak jadi semarak, seolah-olah kita lagi teleportasi keliling dunia tanpa perlu antre imigrasi.

Malam itu dibuka dengan icebreaker yang memaksa para peserta untuk berkenalan dengan orang baru. Bayangkan, stranger yang tadinya cuma lewat, tiba-tiba jadi teman seperjuangan dalam misi mencari jodoh… eh, maksudnya, mencari teman baru. Setelah itu, hadirin diajak untuk bernyanyi dan menari dalam sesi pujian dan penyembahan yang penuh semangat. Bishop Lindsay dari Revival International Memphis Church kemudian memberikan khotbah yang… ya, namanya juga acara rohani.

“Tujuan dari acara ini adalah untuk menyoroti persatuan yang kita miliki sebagai umat Kristiani dalam tubuh Kristus, sambil menekankan pentingnya menyebarkan Injil dan berbagi kasih Tuhan,” kata Gabrielle Richardson, presiden Campus Revival. Intinya, sih, biar makin solid dan makin rajin ibadah. Tapi, dengan cara yang asyik dan nggak bikin ngantuk.

Ketika Persatuan Diukur dengan Goyangan dan Makanan

Persatuan itu memang abstrak, tapi di acara ini, ia diwujudkan dalam bentuk yang lebih konkret: tawa, makanan, dan budaya. Setiap negara menampilkan tarian dan musik tradisional mereka dengan semangat membara. Beberapa bahkan sampai melakukan gerakan-gerakan yang bikin penonton bertanya-tanya, “Ini tarian apa senam aerobik?”

Nggak cuma itu, panitia juga menyempatkan diri untuk bermain “Tebak Cerita Alkitab: Edisi Emoji.” Bayangkan, kisah Nabi Nuh dengan bahteranya direpresentasikan dengan emoji perahu, hewan-hewan, dan air bah. Kreatif, sih, tapi agak kasihan juga sama yang nggak apal cerita Alkitab. Pasti bingung banget.

Soal makanan, jangan ditanya. Ada hidangan Italia, Asia, Afrika, dan Amerika. Dari pizza sampai nasi goreng, dari samosa sampai burger. Semuanya tumplek blek jadi satu, memberikan kesempatan bagi para hadirin untuk benar-benar “mencicipi bangsa-bangsa.” Istilahnya, wisata kuliner tanpa harus keluar duit banyak.

Menyanyi dalam Lima Bahasa: Sebuah Simbol Persatuan yang Bikin Merinding (atau Bingung?)

Puncak acara adalah ketika semua orang bernyanyi bersama lagu persatuan. Liriknya, “Walaupun kita banyak, kita adalah satu tubuh, kita adalah satu tubuh dalam Kristus,” dinyanyikan dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Perancis, Swahili, Twi, dan Spanyol. Buat yang fasih lima bahasa, sih, oke-oke aja. Tapi buat yang cuma bisa bahasa Indonesia, mungkin cuma bisa ikut nyanyi “la la la” sambil senyum-senyum.

“Alkitab mengingatkan kita bahwa Tuhan memutuskan terlebih dahulu untuk mengadopsi kita ke dalam keluarga-Nya dengan membawa kita kepada diri-Nya melalui Kristus,” tambah Richardson. Intinya, sih, kita semua bersaudara. Nggak peduli dari mana asal kita, apa bahasa kita, atau apa makanan favorit kita. Selama kita percaya pada Tuhan, kita adalah satu keluarga.

Momen tersebut, menurut banyak peserta, adalah momen favorit mereka. Mungkin karena merasa terharu, mungkin karena lagunya enak didengar, atau mungkin karena akhirnya acara mau selesai dan mereka bisa segera pulang. Entahlah, yang jelas, semua orang terlihat bahagia.

Kampus Revival: Bukan Sekadar Organisasi Rohani Biasa

Campus Revival memang organisasi rohani, tapi mereka nggak cuma fokus pada kegiatan-kegiatan yang serius dan khusyuk. Mereka juga berusaha untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan inklusif bagi semua orang. Acara International Thursday: Taste the Nations adalah salah satu contohnya. Sebuah perayaan keberagaman yang nggak cuma bikin kenyang perut, tapi juga bikin hati hangat.

Acara seperti ini penting banget, terutama di tengah dunia yang semakin terpecah belah. Di saat orang-orang lebih fokus pada perbedaan daripada persamaan, Campus Revival justru mengajak kita untuk merayakan keberagaman dan mencari titik temu. Sebuah pesan yang sederhana, tapi sangat berarti.

Kita seringkali terjebak dalam echo chamber kita sendiri, bergaul hanya dengan orang-orang yang sepemikiran dan se-ideologi. Akibatnya, kita jadi sulit untuk memahami perspektif orang lain dan rentan terhadap prasangka dan diskriminasi. Acara seperti International Thursday: Taste the Nations adalah cara yang bagus untuk keluar dari zona nyaman kita dan membuka diri terhadap dunia yang lebih luas.

Apakah Keberagaman Cuma Jadi Bahan Konten?

Tapi, tentu saja, kita juga perlu kritis. Apakah acara seperti ini benar-benar efektif dalam membangun persatuan dan kesatuan? Atau cuma jadi ajang pamer keberagaman yang dangkal? Apakah setelah acara selesai, para peserta akan kembali ke lingkaran pertemanan mereka yang homogen dan melupakan semua yang mereka pelajari?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Karena, membangun persatuan dan kesatuan itu butuh proses yang panjang dan berkelanjutan. Nggak cukup cuma dengan sekali acara yang meriah. Kita perlu terus berupaya untuk memahami dan menghargai perbedaan, serta mencari cara untuk hidup berdampingan secara damai dan harmonis.

Yang jelas, International Thursday: Taste the Nations adalah langkah awal yang baik. Sebuah upaya untuk merayakan keberagaman dan membangun jembatan antar budaya. Semoga, acara ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk melakukan hal yang sama, di mana pun kita berada.

Jadi, kapan nih Mojok bikin acara “Taste the Nations” versi lokal? Pasti seru banget kalau kita bisa mencicipi rendang, gudeg, papeda, dan makanan khas Indonesia lainnya sambil joget-joget dangdut koplo. Siapa tahu, dengan begitu, kita bisa lebih menghargai keberagaman budaya kita sendiri.

Previous Post

Nano Banana Google Messages: Era Baru Edit Foto AI, Saingi Meta?

Next Post

Phasmophobia: Restoran Berhantu Neil’s Diner Siap Hantui Gamers Mulai November!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *