Sudah sekian lama dunia gaming mencerca dan memuji Hideo Kojima dengan kadar yang nyaris sama. Sebuah paradoks yang mengundang decak tanya: bagaimana bisa seorang jenius dengan visi nan puitis justru seringkali membuat orang awam, atau bahkan yang sudah lama berkecimpung di medan perang digital, justru geleng-geleng kepala? Pengalaman pribadi yang jauh dari kata menikmati karya-karya sang maestro, mulai dari Metal Gear Solid hingga Death Stranding, membuat penulis artikel ini menjadi semacam anomali di tengah lautan penggemar yang fanatik. Namun, ironisnya, justru melalui penolakan itulah sebuah penemuan mengejutkan justru terungkap, sebuah momen pencerahan ala gerhana matahari total di tengah hari bolong dunia review gim.
Selama bertahun-tahun, penulis telah berusaha keras untuk terpikat oleh narasi serumit benang kusut dan mekanisme stealth yang kadang membingungkan ala Kojima. Entah itu berjam-jam mencoba memahami konspirasi Metal Gear Solid 5 yang semakin absurd, atau menyerah pada atmosfer yang terlalu mencekam di Death Stranding awal, selalu ada jurang pemisah antara ekspektasi dan realitas. Setiap kali mencoba menyelami dunianya, seolah ada dinding tak kasat mata yang menghalangi, membuat apresiasi terhadap klaim kejeniusan sang kreator terasa bagai memuji lukisan abstrak yang hanya dipahami segelintir orang.
Sikap skeptis ini bukan tanpa alasan. Perhatian yang begitu besar, pujian yang dilambungkan tinggi untuk satu orang, seringkali menimbulkan pertanyaan tentang kontribusi tim di baliknya. Fenomena ini mengingatkan pada anekdot lama tentang bagaimana seorang kreator tunggal dipuja, sementara puluhan tangan lain yang ikut membangun mahakarya tersebut luput dari perhatian. Sebuah pola yang sama terlihat pada produksi besar Kojima; desain, skenario, hingga detail visual, semua tersusun berkat kolaborasi banyak pihak, bukan semata hasil pikiran satu individu.
Namun, jiwa seorang petarung tidak mudah padam. Dengan tekad baja, dan sedikit dorongan rasa penasaran yang sudah mengakar, percobaan kembali dilakukan. Menghabiskan lebih dari 40 jam di Death Stranding 2, bahkan hingga merampungkan permainannya, memberikan sebuah pukulan telak yang tak terduga. Sebuah pengalaman yang melampaui kata “menikmati”, sebuah resonansi emosional yang terus bergema jauh setelah credits roll. Ternyata, jurang pemisah itu bisa dijembatani, dan sebuah pemahaman baru terbuka lebar.
Sang Pengantar yang Gagal, Kini Terpesona
Perjalanan penulis di jagat Hideo Kojima selalu diwarnai keraguan. Dari Metal Gear Solid pertama yang dianggap “lumayan” hingga seri-seri berikutnya yang mulai terasa janggal, ada semacam penolakan alami terhadap gaya narasi dan permainan yang ditawarkan. Bahkan Metal Gear Solid 5, yang seharusnya menjadi titik temu dengan konsep sandbox stealth yang lebih modern, pada akhirnya tetap gagal memikat sepenuhnya. Semakin dalam cerita menggali keanehan, semakin penulis merasa tersesat, jauh dari inti yang ingin disampaikan.
Upaya menaklukkan Death Stranding pertama pun berakhir antiklimaks. Ancaman dari entitas tak kasat mata, yang dikenal sebagai BT, terasa terlalu menyeramkan dan atmosfernya terlalu mencekam. Alih-alih merasa tertantang, justru ada dorongan kuat untuk segera mengakhiri sesi permainan. Ini adalah pola yang berulang; setiap karya besar Kojima, meskipun dipuja jutaan pemain, selalu terasa seperti arena yang tidak cocok untuk gaya bermain dan apresiasi penulis.
Pola ini begitu konsisten sehingga muncul sebuah teori: mungkin ada segmen pemain yang, karena berbagai alasan personal atau preferensi, memang tidak terhubung dengan “Kojima Experience” yang begitu khas. Penggemar berat mungkin melihat kedalaman yang tak terjangkau, sementara yang lain hanya melihat keanehan yang tak berujung. Penulis berada di kubu kedua ini, selalu mempertanyakan apa yang terlewatkan oleh mata awam di tengah pujian yang tak henti-hentinya mengalir.
Sebuah Dunia yang Terasa Kosong, Justru Menjadi Kekuatan
Salah satu elemen paling mencolok dari Death Stranding 2 adalah lanskapnya yang terkesan tandus dan sunyi. Berbeda dengan kebanyakan gim open-world yang berusaha mengisi setiap sudut peta dengan aktivitas dan karakter, gim ini justru merangkul kekosongan. Minimalisme ini bukan kelemahan, melainkan sebuah pilar yang memperkuat suasana dan pesan yang ingin disampaikan. Pengalaman bermain dalam mode offline, di mana jejak ban dan alunan musik menjadi satu-satunya teman, terasa begitu selaras dengan esensi cerita tentang isolasi dan koneksi.
Ketika penulis akhirnya memutuskan untuk terhubung kembali ke jaringan, dunia yang tiba-tiba dipenuhi dengan konstruksi pemain lain seperti tanjakan dan jalanan terasa mengganggu. Pengalaman bermain yang awalnya intim dan reflektif berubah menjadi sedikit riuh. Keputusan untuk segera kembali ke mode offline menegaskan betapa berharganya kesendirian di dunia gim ini. Kesepian yang dihadirkan bukan sebagai beban, melainkan sebagai sebuah pencapaian artistik yang langka.
Visual gim ini sungguh memanjakan mata. Di atas spesifikasi PC yang mumpuni, Death Stranding 2 tampil memukau dalam resolusi 4K dengan semua pengaturan grafis di tingkat tertinggi. Dari detail sinematik hingga pencahayaan dinamis saat melintasi pegunungan bersalju, gim ini menawarkan pemandangan yang sulit ditandingi. Momen-momen seperti menyaksikan si bayi merekam, atau pantulan matahari senja di bebatuan terpencil, mampu meninggalkan decak kagum tanpa kata.
Setting di Australia, sebuah lokasi yang jarang dieksplorasi dalam gim, menjadi nilai tambah yang signifikan. Meskipun bukan representasi geografis yang akurat, nuansa gurun yang khas, aksen, dan kehadiran kanguru berhasil terintegrasi dengan mulus ke dalam narasi. Ini bukan sekadar latar belakang tempelan, melainkan elemen yang terasa hidup dan menjadi bagian integral dari petualangan.
Keanehan yang Diterima, Narasi yang Mengejutkan
Hal yang paling mengejutkan adalah bagaimana penulis akhirnya menerima bahkan merangkul keanehan yang selama ini menjadi batu sandungan. Jika sebelumnya selera absurditas Kojima terasa mengganggu, di Death Stranding 2, perpaduan antara adegan dramatis yang menyayat hati dan pertarungan gitar elektrik terasa mengalir begitu saja. Setelah puluhan jam tenggelam dalam cerita, segala sesuatu terasa mungkin, termasuk adegan tari di alam baka.
Puncak apresiasi datang dari pergeseran fokus narasi. Awalnya, ekspektasi tertuju pada kisah seorang kurir kesepian yang diperankan Norman Reedus. Ternyata, gim ini lebih dalam dari itu; ia adalah perayaan terhadap karakter-karakter wanita yang kompleks dan hubungan mereka yang terus berkembang. Sam Porter Bridges, sang protagonis, seringkali hanya menjadi saksi bisu atau bahkan tidak dilibatkan dalam dinamika yang terjadi. Ini adalah narasi yang berani, sebuah pengingat bahwa tidak semua cerita harus berpusat pada satu karakter utama.
Desain visual yang memukau, terutama sentuhan dari Yoji Shinkawa dan busana dari Acronym, memainkan peran penting dalam menarik perhatian. Keinginan untuk melihat seragam keren dan pesawat anti-gravitasi menjadi pintu gerbang awal. Namun, yang benar-benar memikat adalah pergeseran energi gim ini. Death Stranding 2 terasa seperti “liburan” dari nuansa suram gim pertama atau obsesi militeristik seri Metal Gear Solid. Latar yang cerah di Meksiko, kehadiran anak yang menggemaskan, hingga petualangan di Australia, semuanya terasa ringan dan menyenangkan.
Meskipun kenyataan pahit tentang akhir umat manusia akhirnya terbentang di depan mata, pada titik itu, penulis sudah terlalu jauh terhanyut untuk bisa beranjak. Keputusan untuk tidak lagi memperdebatkan keengganan terhadap karya Kojima selama ini menjadi sebuah pengakuan tersendiri. Bukan pengakuan kekalahan, melainkan penemuan bahwa terkadang, sebuah karya seni yang luar biasa bisa datang dari arah yang paling tidak terduga, pada waktu yang paling tidak terduga.
Momen ini terasa seperti gerhana langka di dunia kritik gim. Teaterikalitas Kojima yang berlebihan dan kecintaan pada desain yang keren berpadu sempurna selama 40 jam. Ini bukan sekadar mengulas sebuah gim, melainkan sebuah jendela menuju kemungkinan lain, sebuah dunia di mana setiap karya Kojima bisa memberikan kegembiraan yang sama mendalamnya. Sebuah pengingat bahwa apresiasi terhadap seni bisa datang dalam berbagai bentuk, bahkan dari sumber yang paling mungkin ditolak.


