Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Konflik Timur Tengah: Inilah Saham Pengaman Portofoliomu Saat Harga Minyak Meroket

Situasi geopolitik yang memanas di Teluk Persia saat ini ibarat sinyal darurat yang berkedip merah di layar portofolio investasi. Bukan sekadar drama di layar kaca, melainkan potensi gejolak ekonomi riil yang bisa merusak struktur bisnis yang sudah mapan. Dalam menghadapi badai yang tak terduga ini, strategi perlindungan portofolio menjadi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Bayangkan saja, aset yang tadinya kokoh tiba-tiba rapuh seperti kerupuk terkena angin kencang. Nah, untuk mengantisipasi skenario terburuk, atau bahkan sekadar meminimalisir kerugian akibat gelombang kejut ekonomi, ada baiknya melirik sejumlah instrumen investasi yang berpotensi menawarkan benteng pertahanan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, sebuah tinjauan singkat terhadap sepuluh saham yang bisa menjadi amunisi tambahan bagi investor di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini patut dipertimbangkan. Anggap saja ini adalah pemetaan medan perang finansial, di mana setiap instrumen memiliki peran strategisnya masing-masing.

Tiga Saham Energi: Potensi Keuntungan Jika Harga Minyak Meroket

Menyebut perusahaan eksplorasi dan produksi minyak serta gas sebagai pilihan utama saat potensi kenaikan harga komoditas ini mungkin terdengar seperti menyatakan matahari terbit di timur. Namun, fakta tetaplah fakta. Terutama bagi perusahaan yang beroperasi di Amerika Serikat, seperti Devon Energy ((DVN 2.45%)) dan Diamondback Energy ((FANG 0.46%)) yang fokus di Permian Basin. Keduanya tidak hanya menarik sebagai strategi taktis untuk mengelola risiko lonjakan harga minyak, tetapi juga menawarkan valuasi yang menggiurkan jika dibandingkan dengan harga minyak sebelum eskalasi konflik.

Menyusul trio ini adalah raksasa energi terintegrasi, Chevron ((CVX 1.87%)). Operasi hulu perusahaan ini (eksplorasi dan produksi) jelas diuntungkan oleh kenaikan harga minyak. Lebih menarik lagi, operasi hilirnya (kilang) juga turut menikmati keuntungan dari pelebaran crack spread—selisih antara harga minyak mentah dan produk olahannya. Fenomena ini diperparah oleh kesulitan yang dihadapi kilang-kilang Asia dalam mendapatkan pasokan minyak mentah, ditambah lagi dengan minimnya stok produk olahan.

Chevron Stock Quote

Today’s Change

(-1.87%) $-3.94

Current Price

$206.78

DVN Chart

DVN data by YCharts

Kilang Produk Minyak: Mesin Pencetak Uang di Tengah Krisis

Berbicara soal crack spread, rata-rata 3-2-1 (selisih antara biaya tiga barel minyak mentah dengan dua barel bensin plus satu barel solar) kini melonjak drastis. Angkanya menembus $54, padahal di awal tahun masih berkisar di bawah $20. Ini ibarat menemukan emas di tengah kekacauan.

Situasi ini menjadi kabar gembira bagi para pemain di industri kilang minyak, seperti Valero Energy ((VLO 1.27%)) dan PBF Energy ((NYSE: PBF)). Keduanya memiliki keunggulan karena sumber minyak mentah mereka berasal dari AS, terlepas dari fluktuasi harga global. PBF Energy, sebagai kilang murni, menunjukkan performa yang mengungguli pasar. Prospek kedua saham ini akan tetap cerah selama crack spread tetap tinggi dan tidak terjadi demand destruction—penurunan permintaan produk transportasi akibat harga yang melambung.

Jangan Lupakan Energi Gas Alam Cair (LNG)

Menurut International Energy Agency (IEA), sebuah fakta mengejutkan: 34% perdagangan minyak mentah global melewati Selat Hormuz, dan 20% perdagangan LNG global juga demikian. Hampir 90% volume LNG yang melintas di selat tersebut menuju Asia, sisanya ke Eropa. Pemulihan pasokan LNG bisa jadi memakan waktu lebih lama dibandingkan minyak, bahkan jika selat kembali dibuka. Terlebih lagi jika fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia, Ras Laffan di Qatar, terus mengalami kerusakan.

An LNG shipper.

Image source: Getty Images.

Dalam kekacauan pasokan LNG ini, ada tiga perusahaan yang berpotensi mengisi kekosongan yang tercipta akibat blokade selat. Pertama, Woodside Energy Group ((WDS 1.71%)), produsen LNG asal Australia ini memiliki dividend yield 4.5% dan terdaftar di AS, menjadikannya posisi ideal untuk memasok LNG ke pasar Asia. Kedua, Cheniere Energy ((LNG 3.36%)), eksportir LNG terbesar di AS. Meskipun saat ini beroperasi pada kapasitas maksimal, perusahaan ini sedang dalam proses ekspansi kapasitas ekspor multi-tahun. Peluncuran LNG train baru—unit untuk mencairkan gas alam—diharapkan segera meningkatkan produksi. Ketiga, Equinor ((EQNR 0.47%)) asal Norwegia. Perusahaan ini adalah eksportir LNG terkemuka dengan aset di lepas pantai Norwegia, dan diproyeksikan akan menutup celah pasokan bagi negara-negara Eropa yang sebelumnya bergantung pada LNG dari Selat Hormuz.

Pelayaran dan Pupuk: Sektor yang Tak Terduga

Berbicara soal Norwegia dan LNG, perusahaan pelayaran Flex LNG ((FLNG 0.23%)) juga diprediksi akan meraup untung. Lonjakan tarif pengiriman LNG dan permintaan armada modern yang efisien bahan bakar menjadi daya tarik utamanya. Jika LNG tidak bisa mencapai Asia melalui Selat Hormuz, pengirimannya akan dialihkan melalui rute yang jauh lebih panjang. Ini kabar baik bagi perusahaan pelayaran, tarif harian, dan utilisasi armada.

Terakhir, bukan hanya minyak mentah, LNG, dan produk minyak olahan yang terpengaruh. Sekitar sepertiga aliran pupuk laut global juga melewati Selat Hormuz, menurut PBB. Gas alam adalah komponen utama pupuk. Dengan terganggunya pasokan gas dan pupuk melalui selat tersebut, produsen pupuk yang fokus di AS seperti CF Industries ((CF 5.64%)) akan diuntungkan. Fasilitas manufaktur mereka di Barat serta pasokan gas dari AS menjadi keunggulan kompetitif dalam situasi ini.

Previous Post

ExpressAI: AI Pribadi Tanpa Bikin Data Anda Jadi Konsumsi Publik

Next Post

Tak Jadi Dokter: Pilih Spesialisasi yang Bikin Geleng Kepala

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *