Radiohead, band yang musiknya menemani kita melewati masa-masa galau di kamar kos, lagi-lagi bikin heboh. Kali ini bukan karena album baru yang bikin kepala manggut-manggut, tapi karena komentar mereka soal konflik Israel-Palestina. Serius amat, ya? Tapi, ya namanya juga Radiohead, band yang anggotanya suka mikirin hal-hal berat sambil petikan gitar Jonny Greenwood tetap bikin hati cenat-cenut.
Thom Yorke dan Mimpi Buruk “Witch-Hunt”
Vokalis Radiohead, Thom Yorke, mengaku terusik dengan apa yang ia sebut sebagai “witch-hunt” atau perburuan penyihir terkait posisi bandnya terhadap konflik Israel-Palestina. Ia merasa orang-orang menyuruhnya melakukan ini dan itu, seolah-olah hidupnya adalah urusan mereka. “Mereka ingin mengambil apa yang sudah saya lakukan, yang sangat berarti bagi jutaan orang, dan menghapus saya,” ujarnya dalam sebuah wawancara. Waduh, segitunya ya, Bang Thom?
Kejadian ini bermula ketika Radiohead memutuskan untuk tampil di Tel Aviv, Israel, pada tahun 2017. Keputusan itu menuai kecaman dari gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (BDS) dan sejumlah tokoh publik seperti Roger Waters dan Thurston Moore. Tahun lalu, Yorke juga sempat bersitegang dengan seorang demonstran pro-Palestina saat konser solonya di Melbourne. Lengkap sudah drama ini.
Tapi, kenapa sih Radiohead sampai jadi sasaran kritik? Apa salahnya manggung di Israel? Nah, di sinilah akar masalahnya. Banyak pihak yang menganggap bahwa tampil di Israel sama dengan mendukung kebijakan pemerintah Israel terhadap Palestina. Ini isu sensitif, bro. Ibaratnya, kayak debat antara tim Indomie vs tim Mie Sedaap, nggak ada ujungnya.
Jonny Greenwood dan Dilema Musisi Yahudi
Gitaris jenius Radiohead, Jonny Greenwood, juga nggak luput dari sorotan. Ia dikritik karena bekerja sama dengan musisi Israel, Dudu Tassa. Bahkan, dua konser mereka di Inggris dibatalkan akibat seruan boikot. Padahal, Greenwood sendiri menikah dengan seorang seniman Israel. Dilema banget, kan? Mau berkarya aja susah amat.
Greenwood menyebut bahwa dirinya merasa takut untuk mengakui bahwa ia sedang mengerjakan proyek rekaman dengan musisi Israel dan Timur Tengah. “Dan itu gila saya merasa takut untuk mengakui itu. Namun itu terasa progresif bagi saya – mencemooh di konser tidak membuat saya tampak berani atau progresif,” katanya.
Radiohead di Tengah Pusaran Konflik: Dilema Seni dan Politik
Radiohead memang bukan band pertama yang terjebak dalam pusaran konflik politik. Banyak musisi lain yang juga menghadapi dilema serupa. Apakah seorang seniman punya tanggung jawab moral untuk bersikap terhadap isu-isu politik? Atau, apakah seni harus dipisahkan dari politik? Pertanyaan-pertanyaan ini nggak ada jawaban tunggalnya. Semuanya tergantung perspektif masing-masing.
Masalahnya, ketika sebuah band sekelas Radiohead angkat bicara, dampaknya bisa sangat besar. Fans mereka di seluruh dunia punya pandangan yang berbeda-beda soal konflik Israel-Palestina. Ada yang mendukung penuh keputusan band, ada yang kecewa, ada juga yang merasa bingung. Intinya, jadi rame deh jagat media sosial.
“Free Palestine!” vs. “Ini Bukan Urusanmu!”
Yorke bercerita bahwa ia sempat diteriaki “Free Palestine!” di jalanan London. Ia pun mencoba berdiskusi dengan orang tersebut, tapi malah berujung debat kusir. Yorke merasa bahwa orang-orang yang berteriak padanya itu cuma melampiaskan rasa tidak berdaya mereka. “Ini adalah ujian kemurnian, perburuan penyihir ala Arthur Miller,” ujarnya.
Greenwood menambahkan bahwa ia merasa “muak” dengan orang-orang yang mencari “pengkhianat” di kalangan kiri. “Kiri mencari pengkhianat, kanan mencari orang yang bertobat, dan menyedihkan bahwa kami adalah yang terdekat yang bisa mereka dapatkan,” sindirnya.
Soal Konser di Israel: “Absolutely Not!” Kata Thom Yorke
Lalu, apakah Radiohead akan kembali konser di Israel? Yorke menjawab dengan tegas: “Absolutely not!” Ia nggak mau berada dekat dengan rezim Netanyahu. Tapi, ia juga memahami bahwa Greenwood punya akar di sana. Jadi, ya begitulah, complicated.
Greenwood punya pendapat berbeda. Ia berpendapat bahwa boikot justru bisa dimanfaatkan oleh pemerintah Israel untuk semakin keras kepala. “Saya berpendapat bahwa pemerintah lebih mungkin menggunakan boikot dan berkata, ‘Semua orang membenci kita – kita harus melakukan apa pun yang kita inginkan.’ Yang jauh lebih berbahaya,” katanya.
Ed O’Brien: “Seharusnya Kita Juga Manggung di Ramallah”
Gitaris Radiohead lainnya, Ed O’Brien, punya pandangan yang lebih “nyeleneh”. Ia justru berpendapat bahwa bandnya seharusnya juga manggung di Ramallah, Tepi Barat. “Kita seharusnya bermain di Ramallah di Tepi Barat juga,” ujarnya.
O’Brien mengaku nggak mau menghakimi pandangan teman-temannya di band. Ia juga mengakui bahwa mereka sudah nggak terlalu sering ngobrol satu sama lain. “Tapi kebenaran pahitnya adalah, sementara kita dulu semua akrab, kita belum benar-benar berbicara satu sama lain – dan itu tidak apa-apa,” katanya.
Radiohead: Tetaplah Berkarya, Jangan Terpancing!
Konflik Israel-Palestina adalah isu yang kompleks dan sensitif. Nggak ada solusi mudah untuk masalah ini. Radiohead, sebagai sebuah band, punya hak untuk bersikap atau tidak bersikap. Yang penting, mereka tetap berkarya dan menghasilkan musik yang bisa menemani kita melewati masa-masa sulit. Soal pandangan politik, ya itu urusan masing-masing. Nggak usah baper, guys. Santai aja kayak di pantai.


