Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Korea Week: Merayakan Budaya & Bahasa, Memperkaya Wawasan Global

Pernah merasa hidup ini kayak lagi main game yang levelnya nggak naik-naik? Nah, sama kayak mahasiswa yang sibuk kuliah tapi kadang lupa caranya menikmati budaya sendiri. Untungnya, di tengah hiruk pikuk kampus, Korea Week hadir sebagai power-up dadakan, ngasih kesempatan buat nge-refresh ingatan tentang betapa kerennya budaya Korea. Bukan cuma soal K-Pop atau drama Korea yang bikin baper, tapi juga soal seni tradisional, makanan, dan sejarah yang ternyata lebih seru dari maraton streaming.

Korea Week: Lebih dari Sekadar Festival K-Pop

Korea Week, yang digagas oleh Liu Institute for Asia and Asian Studies dan Department of East Asian Languages and Cultures, baru-baru ini mengguncang kampus dengan tema “Crafting Korean Excellence and Celebrating Hangul”. Kedengarannya memang akademis banget, tapi jangan salah, acaranya lebih seru dari yang dibayangkan. Tujuan utamanya? Pamer keindahan seni dan budaya tradisional Korea, sekaligus merayakan ulang tahun ke-579 Hangulnal, alias Hari Aksara Korea. Jadi, bukan cuma sekadar joget-joget K-Pop, tapi juga belajar sejarah dan filosofi di balik budaya yang lagi hype ini.

Professor Yeonhee Yoon, otak di balik program bahasa Korea, pengin nunjukkin struktur mendalam, pendekatan intelektual, estetika, dan filosofis yang bikin budaya Korea modern bisa berkembang pesat di seluruh dunia. Bayangin aja, dari seni tradisional sampai K-Pop, semuanya punya akar yang kuat. Ini kayak ngasih tau, “Eh, guys, jangan cuma liat luarnya aja, dalemnya juga keren!”

Acara dibuka dengan pesta makanan Korea yang sukses bikin antrean panjang di Jenkins Nanovic Hall. Jennifer Lechtanski dari Liu Institute bahkan mengakui mereka meremehkan kekuatan makanan. Ya iyalah, siapa sih yang bisa nolak bibimbap atau kimchi pancake gratis? Setelah perut kenyang, giliran otak yang dikasih makan lewat workshop “maedeup” atau seni simpul tradisional Korea yang dipandu oleh seniman Karen Ahn. Lechtanski sendiri terpesona sama koleksi seni simpul dan kerajinan tangan dari ibunya Ahn. Ini kayak ngasih tau, “Seni itu diturunin dari generasi ke generasi, bro!”

Dari Drum Samulnori sampai Nostalgia Squid Game

Malam harinya, Korean Performing Arts Institute of Chicago dan ASCEND, tim dance K-Pop dari Notre Dame, tampil dalam konser musik tradisional Korea. Taihiro Thompson, asisten mahasiswa di Liu Institute, yang jadi MC acara, bilang banyak mahasiswa yang merasa emosional dan terkesan setelah nonton konser itu. Dia bahkan masih bisa ngerasain detak jantungnya berpacu seiring dengan tabuhan drum Samulnori. Sayangnya, dia nyesel karena nggak banyak mahasiswa yang dateng. Mungkin mereka lagi sibuk ngejar chicken dinner di PUBG?

Di hari berikutnya, ada booth budaya Korea yang nawarin permainan tradisional kayak “Gonggi” dan “Ddakji”. Buat yang nggak tau, dua game ini mendadak populer gara-gara serial Netflix “Squid Game”. Selain main game, pengunjung juga bisa ngedekorasi dan bawa pulang souvenir kayak buku catatan dan pembatas buku. Lumayan buat bahan pamer di Instagram Story.

Puncak perayaan terjadi di hari Jumat dengan penampilan K-Pop dari ASCEND di Library Lawn. Bayangin aja, lagi belajar di perpustakaan, tiba-tiba ada dance cover lagu BTS. Auto semangat lagi, kan?

Hangulnal: Lebih dari Sekadar Hari Libur Nasional

Korea Week ditutup dengan workshop bikin pembatas buku di St. Joseph County Public Library. KK (Kum Kang) Lee, manajer program penelitian dan inisiatif strategis di Liu Institute, kaget sekaligus seneng dengan antusiasme keluarga dan anak-anak lokal yang dateng. Dia berharap anak-anak bisa bawa pulang kenangan indah dan punya pandangan positif tentang budaya Korea. Ini kayak ngasih tau, “Budaya itu nggak kenal usia, bro!”

Menurut Lee, Korea Week ini awalnya nggak sengaja kejadian. Beberapa acara direncanain terpisah, tapi kolaborasi dengan Korean Cultural Center of Washington, D.C. berhasil nyatuin semuanya jadi perayaan selama seminggu. Kebetulan, Korea Week juga bertepatan dengan dua hari libur besar Korea, Hangulnal dan Chuseok (Thanksgiving Korea). Lee percaya momen ini bikin acara jadi lebih bermakna.

Salah satu acara penting adalah pemutaran film “Mal-Mo-E: The Secret Mission” (2019) di Hangulnal. Film ini nyeritain kisah nyata tentang perjuangan Korean Language Society buat ngelestariin bahasa Korea selama pendudukan Jepang. Dulu, pemerintah Jepang ngelarang penggunaan bahasa Korea di institusi publik dan ngehukum siapa aja yang berusaha ngelestariinnya.

Sebelum pemutaran film, Professor Yoon ngejelasin sejarah dan makna di balik Hangulnal. Buat orang Korea, Hangul bukan cuma sistem penulisan, tapi juga simbol kebanggaan nasional, kemerdekaan intelektual, dan demokrasi. Ini kayak ngasih tau, “Bahasa itu identitas, bro!”

Antara K-Pop dan Kesadaran Budaya: Masih Jauh dari Kata Cukup?

Meskipun Korea Week sukses bikin heboh kampus, tapi tetep ada pertanyaan yang muncul: seberapa besar sih minat mahasiswa terhadap budaya Asia Timur? Professor Yoon dan Lechtanski ngeliat ada peningkatan minat terhadap mata kuliah tentang Asia, tapi Thompson merasa keterlibatan dengan budaya Asia masih gitu-gitu aja. Ini kayak ngasih tau, “Kalo cuma ikut-ikutan tren K-Pop sih gampang, tapi buat beneran peduli sama budayanya, butuh usaha lebih!”

Thompson bilang, meskipun jumlah mahasiswa dari komunitas Asia meningkat, tapi kesadaran dan minat terhadap budaya Asia secara keseluruhan nggak terlalu berubah. Ini kayak ngasih tau, “Jangan cuma ngumpul sama temen-temen yang sefrekuensi, coba deh bergaul sama orang dari budaya lain!”

Korea Week: Investasi Masa Depan atau Sekadar Euforia Sesaat?

Baik dosen maupun mahasiswa berharap bakal ada lebih banyak acara kayak Korea Week di kampus. Lechtanski bilang penting buat ngasih kesempatan buat ngehormatin budaya lain. Ini kayak ngasih tau, “Dengan saling mengenal budaya, kita bisa jadi lebih toleran dan terbuka!”

Lee, yang pernah tinggal di Korea selama lebih dari 30 tahun, bilang bahwa meskipun jumlah mahasiswa dan dosen Korea atau Amerika-Korea nggak banyak, tapi udah ada minat dan semangat yang kuat terhadap budaya Korea di kampus. Dia nyebutin ASCEND, tim dance K-Pop Notre Dame yang anggotanya beragam, sebagai contohnya. Ini kayak ngasih tau, “Nggak harus jadi orang Korea buat cinta sama budaya Korea!”

Lee juga nambahin bahwa acara budaya kayak Korea Week penting buat ngehubungin Notre Dame dengan dunia luar. Ini kayak ngasih tau, “Kampus itu bukan cuma tempat belajar, tapi juga tempat buat jadi warga dunia!”

Yoon setuju dengan pendapat Lee. Dia bilang di dunia yang saling terhubung kayak sekarang ini, ngertiin budaya dan sejarah negara penting kayak Korea Selatan itu bukan cuma sekadar hobi, tapi juga bagian penting dari jadi warga dunia yang berpendidikan. Dia berharap lewat Korea Week, mahasiswa dan kolega bisa nemuin kedalaman dan ketahanan budaya Korea. Ini kayak ngasih tau, “Jangan cuma belajar dari buku, tapi juga belajar dari pengalaman!”

Jadi, Korea Week ini bukan cuma sekadar pesta K-Pop atau makan-makan gratis, tapi juga investasi buat masa depan. Dengan saling mengenal dan menghargai budaya lain, kita bisa jadi lebih toleran, terbuka, dan siap buat ngehadepin tantangan global. Siapa tau, abis ikut Korea Week, kamu jadi tertarik buat belajar bahasa Korea atau bahkan kuliah di Korea Selatan. Keren, kan?

Previous Post

Street Fighter: Capcom Tinjau Ulang PPV Turnamen Setelah Reaksi Keras Fans!

Next Post

Back to the Beginning: Akankah Konser Penghormatan Ozzy Jadi Tradisi Baru?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *