Lupakan sejenak drama perebutan skin langka atau loot box menggiurkan. Kali ini, medan pertempuran beralih ke lorong-lorong toko kelontong dan apotek di Scranton, Pennsylvania, di mana sebuah perang baru sedang berkecamuk: perang melawan kratom. Councilman Patrick Flynn, yang tampaknya punya dendam pribadi terhadap tanaman tropis ini, siap memperkenalkan sebuah ordinansi yang tak main-main. Bukan sekadar teguran, tapi larangan total penjualan, kepemilikan, distribusi, dan manufaktur kratom beserta turunannya. Bayangkan saja, sebuah kota memutuskan untuk ‘mengunci’ pintu bagi zat yang konon bisa mengobati segalanya dari nyeri punggung sampai patah hati, namun belum sekalipun mendapat restu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS. Ini bukan lagi soal pilihan gaya hidup, tapi soal bagaimana sebuah komunitas memutuskan garis pertahanan terakhirnya terhadap zat yang definisinya saja masih abu-abu.
“Gas Station Heroin” Masuk Radar
Sebelum mengenakan toga anggota dewan terhormat, Patrick Flynn sudah lebih dulu menyuarakan kegelisahannya. Ia mendekati District Attorney Brian Gallagher, seorang pria yang mungkin punya daftar panjang penjahat kota, namun kali ini targetnya adalah daun-daunan. Flynn ingin membersihkan Scranton dari kehadiran kratom, zat yang kini legal di Pennsylvania dan diagung-agungkan sebagai solusi mujarab. Nyeri kronis? Kratom solusinya. Kecemasan melanda? Kratom meredakannya. Bahkan bagi mereka yang berjuang lepas dari jerat opioid, kratom hadir bak penyelamat. Namun, di balik klaim-klaim fantastis ini, ada fakta dingin: Badan Pengawas Obat dan Makanan AS belum pernah memberikan lampu hijau untuk penggunaan medisnya. Ini seperti dokter resep pil ajaib tanpa bukti klinis, hanya berdasarkan testimoni dari ‘forum sebelah’.
Kini, Flynn bersiap melancarkan serangan balasan. Dalam rapat dewan kota yang dijadwalkan, ia akan mengajukan sebuah ordinansi. Jika disetujui, seluruh rantai pasok kratom di Scranton akan diputus. Ada masa tenggang, tentu saja, agar para pedagang bisa ‘membersihkan’ gudang dari barang dagangan yang kini berpotensi menjadi biang keladi masalah baru. Brian Gallagher, sang jaksa agung, tak tinggal diam. Dalam konferensi pers di aula gedung pengadilan, ia menegaskan bahwa ordinansi ini bukan sekadar ancaman kosong. Ada sanksi menanti: denda hingga $300 per pelanggaran dan ancaman hukuman penjara hingga 90 hari. “Para peritel di Scranton kini telah diberi tahu,” ujarnya tegas. “Ketidakpatuhan akan berujung pada tindakan penegakan hukum, termasuk penuntutan jika perlu. Tanggung jawab ini ada di pundak kami demi anggota komunitas.”
Gallagher menekankan dukungannya terhadap toko-toko kecil, ‘mom and pop shops’, namun kebebasan berbisnis harus dibarengi dengan tanggung jawab. Menjual zat yang membahayakan anak-anak muda atau mereka yang tengah berjuang dalam masa pemulihan sama saja dengan mengkhianati kepercayaan komunitas. Ordinansi ini secara spesifik menyoroti lonjakan kunjungan Unit Gawat Darurat, insiden mengemudi di bawah pengaruh, dan kasus penggunaan polisuibstansi di Scranton yang dikaitkan dengan produk-produk berlabel ‘Kratom’, ‘K’, ‘Maeng Da’, ‘Red Bali’, ‘White Thai’, ‘Ultra Enhanced Kratom’, ‘OPMS’, ‘Extract Shots’, dan berbagai nama lain yang seringkali merupakan turunan terkonsentrasi, tercemar, atau dimodifikasi secara kimiawi. Bentuk-bentuk ini jauh dari material botani mentah yang seharusnya.
Panggilan Darurat untuk Kesehatan Publik
Dalam sebuah acara yang digelar Senin lalu, Gallagher, Flynn, Presiden Dewan Kota Tom Schuster, dan Joseph Van Wie, CEO Fellowship House sekaligus Chief Marketing Officer True North Recovery Detox, membeberkan kegelisahan yang semakin meruncing. Ketersediaan kratom yang merajalela, dijual bebas di toko kelontong, toko rokok, bahkan SPBU, ironisnya, terjadi di tengah kesadaran akan efek psikoaktif dan potensi ketergantungannya. Flynn menyuarakan prioritas utama: “Melindungi kesehatan publik dan warga yang rentan harus didahulukan.” Ia berjanji, selama menjabat di dewan kota, Scranton tidak akan menjadi ‘pasar terbuka’ bagi zat-zat yang membahayakan warganya, yang kerap dijuluki ‘gas station heroin‘. Legislasi ini, jelasnya, adalah tentang melindungi individu dalam masa pemulihan, anak-anak muda yang mungkin menganggap produk di etalase itu aman, dan mengirim pesan tegas bahwa kota ini mengambil langkah proaktif demi keselamatan warganya.
Secara ilmiah dikenal sebagai Mitragyna speciosa, kratom adalah pohon tropis asli Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Papua Nugini. Selama berabad-abad, daunnya telah menjadi ramuan herbal di Asia Tenggara, dikonsumsi dengan cara dihisap, diseduh, atau dalam bentuk kapsul. Produk-produk kratom yang membanjiri pasar saat ini hadir dalam berbagai wujud: vapes, bubuk, dan kapsul. Meskipun kratom tidak masuk dalam daftar zat terkontrol di bawah Controlled Substances Act AS, Badan Narkotika AS (DEA) telah mengidentifikasinya sebagai zat dan bahan kimia yang patut diwaspadai, menyiratkan adanya potensi regulasi atau larangan di tingkat negara bagian. Ini seperti memiliki pisau tajam tanpa sarung pelindung; bahaya mengintai di balik kemudahan akses.
“Banyak toko menjual ekstrak yang sangat terkonsentrasi dan liquid shots dengan dosis yang luar biasa kuat,” ungkap Flynn, menggarisbawahi potensi bahaya yang tersembunyi. “Sebagai sebuah kota, ada tanggung jawab untuk mencegah masalah sebelum menjadi krisis besar. Sejarah telah mengajarkan kita tentang bagaimana zat berbahaya dapat menguasai komunitas. Kita pernah merasakan kehancuran epidemi opioid, kita pernah berhadapan dengan krisis bath salts—kehilangan tetangga, teman, dan anggota keluarga terlalu banyak. Kita tidak bisa mengabaikan tanda-tanda peringatan yang mulai muncul di depan mata.”
Dua komponen kimia utama kratom, menurut FDA, adalah mitragynine dan 7-hydroxymitragynine (7-OH-mitragynine). Flynn juga menggarisbawahi bahwa terwujudnya ordinansi ini adalah hasil kerja kolektif. Dukungan dari Presiden Dewan Tom Schuster dan Jaksa Penasihat Tom Gilbride sejak awal menjadi pendorong utama. Bersama District Attorney Gallagher dan Joseph Van Wie, mereka menyusun kerangka hukum yang kuat, mengubah konsep dari sekadar ide menjadi rancangan legislasi yang konkret. Ini adalah contoh bagaimana kolaborasi antarlembaga, meskipun dalam skala yang lebih kecil, dapat menghasilkan dampak signifikan bagi masyarakat.
Meskipun Flynn yakin pelarangan kratom di Scranton adalah langkah awal yang krusial, ia tak ragu menyerukan para pemimpin kota lain untuk mengikuti jejaknya. “Ini bukan hanya tantangan bagi satu kota; penjualan kratom tidak akan berhenti di batas wilayah kita,” tegasnya. “Jika kita ingin benar-benar melindungi komunitas, kita harus bekerja sama. Seruan ini ditujukan kepada para pemimpin di berbagai kotamadya di seluruh wilayah kita—walikota, anggota dewan, supervisor, dan komisaris—untuk bergabung dalam upaya ini dengan meninjau kembali apa yang dijual di komunitas masing-masing dan mempertimbangkan tindakan serupa. Selama pemerintah negara bagian atau federal belum menetapkan aturan yang jelas mengenai kratom, komunitas lokal memegang tanggung jawab untuk bertindak.” Ini adalah panggilan untuk kesadaran regional, sebuah pengakuan bahwa masalah ini melampaui batas-batas administratif.
Krisis dalam Pemulihan dan Keamanan Publik
Joseph Van Wie, yang telah menyaksikan kratom perlahan merayap masuk ke wilayah tersebut selama dekade terakhir, kini mencatat tren yang lebih mengkhawatirkan: peningkatan jumlah orang yang mencari bantuan pengobatan. “Kratom tidak diatur, mudah diakses, dan semakin poten dalam bentuk sintetisnya,” ujarnya, menyoroti lanskap yang berbahaya. “Produk ini dijual… seringkali tanpa batasan usia, standar pelabelan, atau pengawasan yang berarti. Di Fellowship House, dan di berbagai pusat rehabilitasi, kami menyaksikan lonjakan tajam individu, banyak di antaranya masih muda, yang mengembangkan ketergantungan, mengalami gejala putus zat yang parah—bertahan 30, 40, bahkan 60 hari—dan membutuhkan intervensi medis yang menyaingi atau bahkan melebihi penanganan opioid tradisional. Kami juga menerima laporan kasus overdosis dan toksisitas yang terkait dengan dosis tinggi produk kratom sintetis. Ordinansi ini bukan tentang mengkriminalisasi individu, tapi tentang melindungi komunitas, terutama generasi muda.”
Van Wie menekankan urgensi menghilangkan akses terhadap kratom, tidak hanya di Scranton tetapi juga lebih luas. “Perkembangannya sangat pesat dalam lima tahun terakhir,” katanya. “Mayoritas kasus kambuh yang saya lihat di layanan rawat inap atau rawat jalan adalah akibat kratom karena aksesibilitasnya yang mudah. Zat ini telah menjadi ‘momok’ bagi komunitas pemulihan.” Pernyataannya menggambarkan bagaimana sebuah zat yang awalnya dianggap ‘alternatif’ kini justru menjadi penghalang utama bagi mereka yang berjuang mempertahankan kehidupan bebas narkoba. Ini seperti memberikan akses mudah ke pemicu di tengah masa penyembuhan.
District Attorney Gallagher menambahkan bahwa dampak kratom semakin nyata di area tersebut, termasuk laporan mengenai sifat adiktif dan gejala putus zatnya. “Kami menemui individu yang berada di bawah pengawasan pengadilan, di mana kratom mengganggu rehabilitasi dan kepatuhan terhadap syarat masa percobaan mereka,” jelasnya. “Sudah ada kasus overdosis di Pennsylvania, dan kami merespons insiden nyata di Scranton dan Lackawanna County, termasuk panggilan darurat dari orang tua yang anak remajanya menderita reaksi medis merugikan akibat produk yang dibeli secara terbuka di toko-toko. Ini menimbulkan kekhawatiran keamanan publik yang sah dan terus berkembang, dan ordinansi ini adalah respons langsung terhadap realitas tersebut.” Situasi ini menunjukkan bahwa kratom bukan lagi masalah ‘jauh di sana’, melainkan ancaman nyata yang sudah berada di depan pintu. Respons cepat dan tegas memang diperlukan sebelum masalah ini kian mengakar.


