Gaborone, Botswana – Tensi lari estafet 4x400m mixed di Debswana World Athletics Relays Gaborone 2026 bukan sekadar adu cepat lintas negara, melainkan ajang pamer performa yang membuktikan bahwa batas-batas rekor itu ada untuk dilampaui. Lupakan sejenak drama perebutan medali di Olimpiade; di sini, kita menyaksikan empat tim secara kolektif memecahkan rekor waktu di bawah 3 menit 10 detik dalam nomor 4x400m beregu campuran, sebuah pencapaian yang sebelumnya hanya pernah terjadi satu kali dalam sejarah ajang ini. Rasanya seperti seluruh timnas tiba-tiba menemukan turbo button rahasia, memborbardir lintasan dengan kecepatan yang membuat penonton terheran-heran. Dan jangan lupakan performa Inggris Raya di nomor putri; mereka tak hanya dominan, tapi juga mencatatkan waktu tercepat kedua sepanjang masa di World Relays. Australia? Mereka berhasil mengudeta tuan rumah Botswana, membuktikan bahwa rekor regional tak selamanya abadi, apalagi rekor yang sudah bertahan sejak zaman batu (eh, 1984 maksudnya).
Panggung utama di Gaborone pada Sabtu (2) itu benar-benar menjadi saksi bisu jatuhnya berbagai world-leading marks di tiga nomor 4x400m sekaligus. Inggris Raya dan Australia, yang tampil memukau di babak awal, sukses mencuri perhatian publik. Khusus untuk nomor mixed 4x400m, fenomena empat tim tembus 3:10 di satu ronde kualifikasi adalah bukti nyata betapa ketatnya persaingan. Amerika Serikat, sang juara dunia dan pemegang rekor dunia, memulai aksinya sebagai favorit kuat. Namun, bahkan tim sekaliber mereka pun harus bekerja ekstra keras menghadapi gempuran tim lain.
Di heat pertama, duo Bryce Deadmon dan Paris Peoples dari Amerika Serikat langsung memimpin. Brian Faust di leg ketiga sempat tertinggal oleh Thomas Reynolds dari Australia. Namun, Bailey Lear di leg terakhir berhasil merebut kembali keunggulan, meski harus berjuang keras menahan laju Blanca Hervas dari Spanyol. Lear melintasi garis finis dengan 3:09.82, disusul Spanyol yang mencetak rekor nasional 3:09.89. Australia juga tak mau kalah, membukukan rekor Oceania 3:10.57, yang ternyata cukup untuk lolos ke Kejuaraan Dunia dan final. Ironisnya, juara Eropa dua tahun lalu, Irlandia, harus rela tersingkir dengan catatan waktu 3:12.05.
Heat kedua berjalan lebih mulus bagi Jamaika. Deandre Watkin dan Shana Kaye Anderson memberi keunggulan awal, yang kemudian diperlebar oleh juara dunia 2023, Antonio Watson. Rushell Clayton di leg pamungkas menjaga jarak, namun di belakangnya, Natalia Bukowiecka dari Polandia merangsek naik dari posisi keempat ke kedua, sementara Patience Okon George dari Nigeria tak kalah gigih. Jamaika menang dengan 3:11.68, diikuti Polandia (3:13.00) dan Nigeria (3:13.12).
Sementara itu, heat ketiga menampilkan Kenya yang sempat memimpin di awal melalui George Mutinda dan Mercy Oketch. Namun, Inggris Raya yang merupakan peraih medali perunggu Olimpiade, menunjukkan taji di leg terakhir. Yemi Mary John tampil gemilang, menyalip Kenya sesaat sebelum garis finis dan membawa Inggris Raya menang dengan 3:09.69. Kenya finis di posisi kedua dengan rekor Afrika 3:09.87, disusul Italia yang mengamankan tiket terakhir ke Kejuaraan Dunia dengan 3:10.60.
Kekuatan Inggris Raya di Lini Belakang Putri: Lebih dari Sekadar Kemenangan
Perlombaan estafet 4x400m putri dibuka oleh juara bertahan Spanyol. Mereka bersaing ketat dengan Jerman, namun Blanca Hervas, yang rupanya baru saja berlomba di nomor mixed hanya 88 menit sebelumnya, berhasil keluar sebagai pemenang dengan 3:24.44. Ini adalah waktu tercepat kedua mereka, hanya kalah dari rekor nasional 3:24.13 yang dicetak saat juara di Guangzhou. Lurdes Gloria Manuel dari Ceko, juara dunia indoor, tampil memukau di leg terakhir, menyalip Jerman (3:25.76) untuk finis kedua dengan 3:25.42.
Heat kedua menjadi panggung Kanada. Zoe Sherar dan Lauren Gale membangun keunggulan signifikan di paruh pertama, yang kemudian dijaga ketat oleh rekan-rekannya hingga finis. Kanada menang dengan nyaman 3:23.52, mencatatkan waktu terbaik mereka di World Relays. Italia mengamankan posisi kedua dengan 3:24.46, sementara Polandia (3:27.62) harus gigit jari karena gagal lolos ke Kejuaraan Dunia.
Namun, heat ketiga adalah milik Inggris Raya. Laviai Nielsen, Emily Newnham, Charlotte Henrich, dan Nicole Yeargin menampilkan performa solid yang tak tertandingi. Mereka menang dengan 3:21.28, catatan waktu tercepat keempat mereka sepanjang masa dan hanya kalah dari tiga penampilan yang berujung medali global. Angka 3:21.28 ini juga menjadi waktu tercepat kedua sepanjang sejarah World Relays, tertinggal tipis dari rekor kompetisi Amerika Serikat 3:19.39 yang dibuat tahun 2015. Di belakang mereka, Norwegia, dengan Henriette Jaeger sebagai pelari penutup, mencetak rekor nasional 3:22.78, dan Belanda finis ketiga dengan 3:24.74, mengamankan tiket terakhir ke Kejuaraan Dunia.
Hasil kualifikasi untuk Kejuaraan Dunia dan final mixed 4x400m World Relays terlihat sebagai berikut:
- Heat 1: USA (3:09.82), Spanyol (3:09.89), Australia (3:10.57)
- Heat 2: Jamaika (3:11.68), Polandia (3:13.00)
- Heat 3: Inggris Raya & NI (3:09.69), Kenya (3:09.87), Italia (3:10.60)
Australia Mengancam Rekor Kompetisi, Portugal dan Zimbabwe Pecahkan Rekor Nasional
Di nomor putra 4x400m, kuartet Australia yang digawangi Luke van Ratingen, Reece Holder, Matthew Hunt, dan Aidan Murphy, berhasil menumbangkan rekor Oceania 4x400m yang telah bertahan sejak 1984. Meski tuan rumah Botswana mendapatkan dukungan penuh dari publik, Australia berhasil memimpin setelah dua leg, mencapai paruh waktu di 1:27.71. Collen Kebinatshipi, juara dunia dari Botswana, sempat membawa timnya memimpin di leg ketiga, namun insiden fumble exchange membuat Australia kembali unggul.
Aidan Murphy menutup lomba untuk Australia dengan catatan waktu 2:57.30, sebuah rekor Oceania sekaligus world-leading, hanya terpaut 0.05 detik dari rekor kompetisi Amerika Serikat tahun 2015. Botswana finis kedua dengan 2:57.52, waktu tercepat ketiga dalam sejarah World Relays. Belanda menempati posisi ketiga dengan 2:58.22, yang ternyata cukup untuk mengamankan satu tempat di Kejuaraan Dunia.
Heat kedua menyajikan kejutan dari Zimbabwe yang sempat memimpin di paruh pertama, mengungguli juara bertahan Afrika Selatan. Namun, Leendert Koekemoer yang masih remaja, tampil luar biasa di leg ketiga, memberikan keunggulan yang dijaga hingga finis oleh Afrika Selatan dengan 2:58.04. Portugal menunjukkan performa impresif di akhir lomba, menyalip Zimbabwe sesaat sebelum garis finis. Kedua tim mencetak rekor nasional masing-masing dengan 2:59.01 dan berhasil mengamankan tiket ke Beijing.
Heat ketiga menjadi yang paling dramatis. Qatar dan Belgia harus puas berbagi podium juara setelah waktu mereka tidak terpisahkan hingga seperseribu detik, keduanya mencatat 2:59.83. Spanyol finis ketiga dengan rekor nasional 3:00.26, namun sayangnya waktu tersebut tidak cukup untuk membawa mereka lolos ke Kejuaraan Dunia.
Berikut adalah tim-tim yang lolos ke Kejuaraan Dunia dan melaju ke final World Relays men’s 4x400m:
- Heat 1: Australia (2:57.30), Botswana (2:57.52), Belanda (2:58.22)
- Heat 2: Afrika Selatan (2:58.04), Portugal (2:59.01), Zimbabwe (2:59.01)
- Heat 3: Belgia (2:59.83), Qatar (2:59.83)


