Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Last Christmas: Wham! Rajai Billboard Global, Bukti Lagu Natal Abadi

Di tengah hiruk pikuk akhir tahun yang bikin saldo ATM megap-megap, ada kabar yang lebih mengguncang dunia permusikan global daripada harga tiket konser Coldplay: “Last Christmas”-nya Wham! kembali merajai tangga lagu. Iya, lagu yang sama yang diputar setiap Desember tanpa ampun itu.

Lagu yang dirilis tahun 1984 ini, seperti hantu Natal yang selalu kembali, menduduki puncak Billboard Global 200 dan Billboard Global Excl. U.S. selama dua minggu berturut-turut. Sebuah pencapaian yang lebih membanggakan daripada dapat hadiah giveaway dari influencer kesayangan.

Ketika Nostalgia Mengalahkan Algoritma Spotify

Bagaimana bisa lagu lawas yang liriknya sudah dihafal luar kepala ini masih relevan di era algoritma Spotify dan TikTok? Mungkin karena generasi Z diam-diam merindukan era sebelum internet mendikte selera musik mereka. Atau mungkin karena melodi “Last Christmas” memang se-catchy utang pinjol.

Andrew Ridgeley, separuh dari duo Wham! yang masih hidup (George Michael wafat pada 2016), bahkan sampai terheran-heran melihat lagu ini dicintai lintas generasi. Katanya sih, “tempat istimewa yang dimiliki lagu ini di begitu banyak hati” adalah alasannya. Hmm, atau mungkin karena memang nggak ada lagu Natal lain yang se-iconic ini?

Estate George Michael pun ikut nimbrung dengan ucapan terima kasih kepada semua orang yang menjaga lagu ini “di jantung Natal.” Sebuah pernyataan yang lebih tulus daripada janji manis mantan pas Valentine.

Dominasi Natal: Ketika Tangga Lagu Berubah Jadi Pohon Natal

“Last Christmas” memimpin 10 besar yang didominasi lagu-lagu Natal di kedua tangga lagu internasional tersebut. Bahkan, sampai 13 lagu teratas di Global 200 diisi oleh lagu-lagu bertema liburan. Dua tahun lalu, dominasi lagu Natal bahkan lebih parah: 19 lagu teratas di Global 200 dan 20 lagu teratas di Global Excl. U.S.!

Ini seperti pasar malam yang tiba-tiba berubah jadi konser Natal dadakan. Tapi ya sudahlah, namanya juga musim liburan. Yang penting jangan sampai dompet ikut libur juga.

Rumus Tangga Lagu: Antara Streaming dan Jualan MP3

Billboard Global 200 dan Global Excl. U.S. menentukan peringkat lagu berdasarkan aktivitas streaming dan penjualan dari lebih dari 200 wilayah di seluruh dunia. Data ini dikumpulkan oleh Luminate, sebuah perusahaan analisis data yang mungkin lebih tahu tentang selera musik kita daripada kita sendiri.

Peringkat tangga lagu dihitung menggunakan formula yang menggabungkan streaming dari layanan musik berbayar dan gratis, serta penjualan download dari toko musik digital. Penjualan dari situs direct-to-consumer (D2C) tidak dihitung, karena dianggap kurang valid. Jadi, jangan coba-coba curang ya.

“Last Christmas”: Kebangkitan Sang Raja Natal

“Last Christmas” kembali naik ke posisi puncak Global 200 dengan 192 juta streaming (naik 92% dari minggu sebelumnya) dan 10.000 kopi terjual (naik 48%) di seluruh dunia. Sebuah angka yang lebih tinggi daripada jumlah pengangguran di Jakarta.

Lagu ini mencatat minggu streaming global terbesar ke-10 sejak Global 200 dimulai pada September 2020. Tahun lalu, lagu ini juga mencetak rekor dengan 192,5 juta streaming di seluruh dunia. BTS dengan “Butter” masih memimpin dengan 289,2 juta streaming, tapi setidaknya “Last Christmas” berhasil masuk 10 besar.

Para Pesaing: Mariah Carey Hingga Ariana Grande

Melengkapi lima besar di Global 200, ada Mariah Carey dengan “All I Want for Christmas Is You” yang turun ke posisi kedua setelah 20 minggu bertengger di puncak. Brenda Lee dengan “Rockin’ Around the Christmas Tree” tetap di posisi ketiga, Bobby Helms dengan “Jingle Bell Rock” naik ke posisi keempat, dan Ariana Grande dengan “Santa Tell Me” kembali ke posisi kelima.

Persaingan yang lebih sengit daripada rebutan diskon akhir tahun di e-commerce. Tapi setidaknya, semua lagu ini membuat suasana Natal jadi lebih meriah.

“Last Christmas” Mendominasi di Luar AS

“Last Christmas” juga merajai Global Excl. U.S. dengan 131,1 juta streaming (naik 103%) dan 5.000 kopi terjual (naik 34%) di luar Amerika Serikat. Ini membuktikan bahwa lagu ini memang punya daya tarik universal.

Pergeseran di Global Excl. U.S.: Dari Mariah Carey Hingga Bobby Helms

“All I Want for Christmas Is You” naik dari posisi ketiga ke posisi kedua di Global Excl. U.S. “Rockin’ Around the Christmas Tree” melonjak dari posisi keenam ke posisi ketiga, “Jingle Bell Rock” mencapai posisi tertinggi baru (7-4), dan “Santa Tell Me” naik dari posisi kedelapan ke posisi kelima.

Perubahan posisi yang lebih dramatis daripada plot twist sinetron Indonesia. Tapi ya sudahlah, yang penting semua lagu ini enak didengar.

Jadi, Apa Hikmahnya?

Di tengah gempuran musik baru dan tren yang berubah-ubah, “Last Christmas” membuktikan bahwa lagu yang bagus akan selalu relevan. Mungkin karena lagu ini berhasil menangkap esensi Natal yang sesungguhnya: kebersamaan, nostalgia, dan tentu saja, cinta yang kandas. Atau mungkin karena memang nggak ada yang lebih ikonik daripada George Michael dengan jaket putihnya.

Previous Post

Samsung: Resolusi Tahun Baru Lebih Mudah dengan Ekosistem Terhubung & AI

Next Post

Elyoya Perpanjang Kontrak dengan KOI: Bukti Loyalitas dan Masa Depan Cerah di LEC!

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *