Dulu, TV kalau lagi nggak dipakai, ya, jadi pajangan kotak hitam yang bikin suram ruang tamu. Nggak heran kalau banyak yang nutupin TV pakai kain renda biar nggak terlalu ngenes. Tapi, itu dulu. Sekarang, zamannya TV pamer lukisan. Samsung duluan bikin The Frame, TV yang bisa jadi galeri seni dadakan. Nah, LG nggak mau ketinggalan kereta. Mereka ikutan bikin TV serupa, namanya LG Gallery TV. Jadi, siap-siap aja ruang tamu kita makin artsy kayak kafe-kafe di Kemang.
LG Gallery TV: Bukan Sekadar TV, Tapi Juga Pajangan Mahal
Bayangin, TV yang biasanya cuma buat nonton sinetron atau main PS, sekarang bisa mejeng karya seni kelas dunia. LG Gallery TV ini kerjanya sama kayak TV biasa. Bisa buat streaming film, main game, atau nonton berita. Tapi, begitu kita selesai pakai, dia otomatis berubah jadi galeri seni. Nggak ada lagi layar hitam yang bikin depresi. Layarnya juga diklaim anti-silau dan otomatis menyesuaikan warna dan kecerahan, biar gambarnya tetap kinclong sepanjang hari.
Nggak cuma itu, kita juga bisa pamer foto-foto liburan atau foto kucing kesayangan di Gallery Mode. Kurang puas? Tenang, ada fitur AI generatif yang bisa bantu kita bikin karya seni sendiri. Jadi, kita bisa jadi seniman dadakan tanpa harus les melukis dulu. Kalau masih males, TV ini udah nyediain 4.500 karya seni yang siap dipajang kayak slideshow. Lumayan buat ganti-ganti suasana ruang tamu.
Tapi, tunggu dulu. Jangan langsung kalap pengen beli. LG Gallery TV ini baru akan tersedia di tahun 2026. Itu juga baru ada ukuran 55 inci dan 65 inci. Desainnya sih lumayan, flush-mount alias rata dengan dinding, dan ada bingkai magnet yang bisa dilepas pasang. Jeroannya pakai prosesor a7 AI, yang biasanya dipakai di TV kelas menengah LG. Panelnya MiniLED yang dilapisi matte. Nah, ini yang masih jadi pertanyaan: beneran MiniLED atau cuma edge-lit yang diaku-akuin MiniLED?
MiniLED: Antara Janji Manis dan Kenyataan Pahit
Soal panel MiniLED ini memang agak abu-abu. Soalnya, ada beberapa TV LG dan Samsung yang ngaku-ngaku MiniLED, padahal aslinya cuma edge-lit. Bedanya apa? Kalau MiniLED beneran, lampu LED-nya lebih kecil dan lebih banyak, jadi kontrol cahayanya lebih presisi. Hasilnya, gambar lebih kontras dan warna lebih akurat. Nah, kalau edge-lit, lampu LED-nya cuma ada di pinggir layar, jadi kontrol cahayanya kurang maksimal. Makanya, kita tunggu aja hasil pengujiannya nanti.
Terus, harganya berapa? Nah, ini yang masih jadi misteri. Tapi, menurut Bloomberg, LG pengen harganya bersaing sama Samsung. Sekarang, Samsung The Frame yang 55 inci harganya sekitar Rp23 jutaan. Yang 65 inci nambah sekitar Rp7 jutaan. Jadi, kemungkinan besar LG Gallery TV harganya nggak jauh beda. Siap-siap nabung dari sekarang.
Persaingan Sengit di Pasar TV “Sok” Seni
LG Gallery TV ini memang pendatang baru, tapi dia langsung masuk ke pasar yang udah rame banget. Selain Samsung, ada Hisense, TCL, dan Skyworth yang juga jualan TV serupa. Mereka punya CanvasTV, NXTVision TV, dan Canvas Art TV. Harganya juga lebih murah dari Samsung. Jadi, LG harus putar otak biar bisa bersaing.
Selama ini, para peniru The Frame selalu ngiming-imingi harga yang lebih murah. Tapi, LG kayaknya pengen posisiin Gallery TV sebagai produk premium. Mereka mungkin punya satu keunggulan: The Frame versi standar masih pakai layar QLED, sementara yang MiniLED cuma ada di Frame Pro yang lebih mahal. Nah, LG Gallery TV langsung pakai MiniLED. Jadi, kualitas gambarnya mungkin sedikit lebih baik dari Samsung.
TV Pintar: Dulu Kotak Goblog, Sekarang Galeri Seni
Dulu, TV cuma dianggap sebagai kotak goblok yang bikin kita males gerak. Isinya sinetron nggak mutu, berita hoax, dan acara reality show yang isinya cuma drama. Tapi, sekarang TV udah berevolusi jadi barang yang lebih pintar. Nggak cuma buat nonton, tapi juga buat pamer karya seni, main game, atau bahkan jadi asisten pribadi. Canggih, kan?
Tapi, ya gitu deh. Harganya juga ikutan canggih. TV yang dulunya cuma buat rakyat jelata, sekarang udah jadi barang mewah yang cuma bisa dijangkau sama kaum jetset. Kita yang cuma bisa ngontrak rumah petakan gini, ya cuma bisa ngiler sambil lihat di YouTube.
Kapan Kita Bisa Punya TV yang Nggak Bikin Kantong Jebol?
Pertanyaannya sekarang, kapan kita bisa punya TV yang nggak cuma pintar, tapi juga ramah di kantong? Kapan kita bisa punya TV yang bisa jadi galeri seni tanpa harus jual ginjal dulu? Kapan kita bisa punya TV yang nggak bikin kita mikir dua kali buat beli beras?
Mungkin, jawabannya ada di tangan para produsen TV. Mereka harus mikirin gimana caranya bikin TV yang berkualitas tapi harganya tetap terjangkau. Atau, mungkin, jawabannya ada di tangan kita sendiri. Kita harus pinter-pinter cari promo, nabung dari sekarang, atau bahkan bikin TV sendiri dari kardus bekas. Siapa tahu kan, ide gila ini bisa jadi kenyataan?
Yang jelas, persaingan di pasar TV “sok” seni ini bakal semakin seru. Kita sebagai konsumen cuma bisa berharap, semoga persaingan ini bisa bikin harga TV semakin murah dan kualitasnya semakin bagus. Biar kita bisa punya TV yang nggak cuma buat nonton, tapi juga buat dipamerin ke tetangga.
Jadi, buat kalian yang pengen punya TV yang bisa jadi galeri seni dadakan, siap-siap aja nabung dari sekarang. Soalnya, LG Gallery TV ini bakal jadi incaran banyak orang di tahun 2026 nanti. Jangan sampai ketinggalan, ya!
Intinya sih, TV ini bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal gaya hidup. Kita pengen punya TV yang bisa bikin kita kelihatan lebih keren, lebih artsy, dan lebih up-to-date. Yah, meskipun ujung-ujungnya tetep aja buat nonton sinetron dan main game, sih.


