Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Mac DeMarco Ungkap Pengaruh MJ dan Weezer di Karya Musiknya

Mac DeMarco, sosok musisi yang dikenal dengan gaya santai dan lagu-lagunya yang unik, ternyata memiliki jejak musikal yang jauh lebih berwarna dan kadang absurd dari yang mungkin dibayangkan banyak orang. Pernahkah terbayang bahwa telinga kecilnya di usia empat tahun sempat kebingungan dengan bahasa dalam lagu Pearl Jam? Atau bahwa pengalaman konser pertamanya melibatkan para “pria desa” berotot di lapangan baseball? Kisah-kisah ini, yang terekam dalam memori musisi ini, seolah menjadi bukti bahwa perjalanan menuju panggung internasional seringkali dipenuhi momen-momen yang sangat relatable, bahkan sedikit canggung. Artikel ini akan menyelami daftar putar kehidupannya, dari lagu pertama hingga pilihan terakhir, mengungkap sisi lain di balik melodi-melodi khas Mac DeMarco.

Perjalanan musikal seorang seniman seringkali bermula dari momen-momen tak terduga yang tertanam kuat dalam ingatan masa kecil. Bagi DeMarco, awal mula segalanya terjadi di jalan tol Whitemud, Edmonton, Kanada, saat usianya baru menginjak empat tahun. Saat itu, lagu “Jeremy” milik Pearl Jam mengudara dari radio mobil, menciptakan kebingungan yang membekas. Pertanyaan polosnya kepada sang ibu, “Apakah dia berbicara bahasa Inggris?” menjadi cikal bakal dari eksplorasi musikalnya yang tak terduga.

Beberapa tahun kemudian, di usia remaja, Mac DeMarco menemukan jalannya ke toko CD lokal dengan 30 dolar di saku. Pilihan jatuh pada “Blue Album” milik Weezer, sebuah pembelian krusial yang kemudian diputar berulang kali di Sony Walkman kesayangannya. Pada masa itu, Weezer memang sedang berjaya dan merajai saluran televisi musik dengan video-video mereka. Citra keren mereka yang seolah menulis lagu tentang hal-hal “terlarang” memikat imajinasi remajanya, menjelma menjadi simbol _counterculture_ yang sempurna. DeMarco bahkan mengaku sering “memutilasi” lagu-lagu Weezer dalam penampilan _live_-nya, meskipun ia tetap menyimpan hormat tinggi pada band tersebut.

Namun, sebelum petualangan remajanya dengan Weezer, pengalaman konser pertama DeMarco terjadi dalam suasana yang jauh lebih tidak biasa. Pada tahun 1995, ia yang masih berusia lima tahun dan terdaftar dalam program pengasuhan anak YMCA, dibawa bersama teman-temannya ke RE/MAX Field, lapangan baseball tim lokal Edmonton Trappers. Di sana, mereka menyaksikan penampilan legendaris Village People yang membawakan hit seperti “In the Navy” dan, tentu saja, “Y.M.C.A.” yang ikonik. Momen itu tak hanya lucu, tetapi juga sedikit _nyeleneh_ dengan kostum salah satu personel yang cukup terbuka, meninggalkan kesan yang unik pada ingatan masa kecil DeMarco.

## Melodi Tanah Air dan Mantra yang Melekat

Ketika berbicara tentang lagu yang mengingatkannya pada rumah, DeMarco dengan bangga menyebut “O Canada”, lagu kebangsaan Kanada. Pengalamannya saat muda yang sempat menolak identitas bangsanya karena dianggap “konyol” – dengan daun maple di bendera dan reputasi sebagai bangsa yang hanya “baik” – telah berubah seiring bertambahnya usia. Ia menemukan kebanggaan dalam lagu kebangsaan yang manis, berbeda dengan anthem Amerika yang konon berbicara tentang bom di udara, menunjukkan perspektif yang lebih matang dan penuh kasih terhadap asal-usulnya.

Ada kalanya, seorang musisi mendengar sebuah karya yang begitu sempurna hingga muncul keinginan untuk menjadi penciptanya. Bagi DeMarco, lagu tersebut adalah “Had to Fall in Love” dari The Moody Blues. Setiap elemen dalam lagu itu, ia ungkap, mampu memikatnya dengan cara yang tak tertandingi oleh karya lain dalam katalog band tersebut. Mendengarnya lima tahun lalu, DeMarco merasa seperti menemukan permata langka atau cawan mistis yang terkubur, merasakan adanya kekerabatan yang kuat dengan musik yang sedang ia ciptakan sendiri. Baginya, The Moody Blues seolah-olah memahami esensi dari apa yang ia coba lakukan.

Di sisi lain, ada lagu yang, entah kenapa, terus berputar di kepala tanpa henti, menjadi _earworm_ yang sulit dihilangkan. “Lucky Man” dari Emerson, Lake & Palmer adalah lagu yang membuat otak DeMarco “menggoreng”, tetapi ia tidak keberatan dengan invasi melodi tersebut. Baginya, lagu itu sungguh keren, dengan bagian _chorus_ “Ooh, what a lucky man he was” yang mustahil dilupakan, bahkan ia menganggapnya sebagai _earworm_ yang “seharusnya ilegal” saking adiktifnya.

## Dari Obsesi yang Terlalu Banyak hingga Air Mata yang Otentik

Namun, tidak semua lagu yang dicintai bisa terus-menerus didengarkan tanpa bosan. DeMarco, penggemar berat Harry Nilsson, mengakui bahwa ia telah “menghantam” “Everybody’s Talkin'” sampai mati. Meskipun masih mencintai lagu tersebut, ia sudah memutarnya terlalu banyak, hingga kini ia tidak lagi sengaja mencari lagu itu. Ini adalah dilema universal bagi penikmat musik: ketika sebuah lagu menjadi terlalu sering diputar, ia kehilangan sebagian dari pesonanya.

Kontras dengan kebosanan pada lagu sebelumnya, ada dua lagu yang secara konsisten mampu memicu emosi hingga membuat Mac DeMarco meneteskan air mata. “Turn On Your Radio” karya Harry Nilsson menjadi salah satunya, yang selalu menyentuhnya setiap kali didengar. Kisah di balik lagu ini, tentang Nilsson yang memainkan karya-karyanya di kaset di mobilnya tak lama sebelum meninggal dan berkata, “Nah, itulah hasil kerja seumur hidupku,” saat diceritakan dalam sebuah dokumenter, sungguh “menyiksa” perasaannya.

Lagu lain yang memiliki kekuatan serupa adalah “Texas Girl At The Funeral Of Her Father” dari Randy James. DeMarco pertama kali mendengarnya dalam momen yang sangat rentan dua tahun lalu, ketika kucing kesayangannya, Pickles, sedang sakit parah dan ia harus pulang untuk mengakhiri penderitaannya. Setiap kali ia mendengarkan lagu itu, kenangan menyedihkan itu kembali muncul, memicu air mata. Meskipun demikian, ia mengakui keindahan yang mendalam dalam lagu tersebut.

## Ritme Kehidupan dan Pamitan Terakhir

Saat berbicara tentang lagu yang memancingnya untuk menari, pilihannya bergantung pada suasana hati. Untuk _fun-time_ di klub, “Rock With You” milik Michael Jackson menjadi pilihan utama. Namun, jika suasana berubah menjadi lebih romantis, “Change Partners” dari Frank Sinatra adalah juaranya, dengan sentimen genit namun romantis yang _bad boy_. DeMarco mengakui dirinya bukan penari yang baik, bahkan menyebut dirinya memiliki “dua kaki kiri” saat mencoba _two-step_ di pernikahan baru-baru ini, dan dengan senang hati menerima tawaran les dansa.

Di panggung karaoke, Mac DeMarco kembali memilih “O Canada”, terutama saat berada di Amerika Serikat. Baginya, ini adalah semacam tugas sebagai orang Kanada untuk menyanyikan lagu kebangsaannya, yang seringkali berhasil membingungkan orang lain sebelum akhirnya disambut meriah. Ia bahkan memiliki anekdot lucu tentang pernah mengundang Anderson .Paak di Koreatown, Los Angeles, di mana mereka menyaksikan seseorang menyanyikan lagu .Paak di karaoke, dan .Paak kemudian bergabung untuk bernyanyi bersama.

Akhirnya, ketika memikirkan lagu yang ingin diputar di pemakamannya, DeMarco memilih “Prelude in C-sharp minor” karya Sergei Rachmaninoff. Konon, Rachmaninoff menulis lagu ini tentang perasaan dikubur hidup-hidup, yang menurut DeMarco sangatlah “pas” dan menyeramkan. Meskipun begitu, ia juga mengungkapkan bahwa ia bahkan mungkin tidak akan mengadakan pemakaman, lebih memilih untuk “dibakar dan ditanami pohon” sebagai bentuk pengembalian kepada Bumi.

Previous Post

Google Pixel 10: Ledakan Inovasi Mengubah Permainan

Next Post

Satisfactory Akhirnya Tiba di PS5: Pengalaman Otomatisasi Maksimal

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *