Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Mahasiswa Indonesia: Generasi Emas Ukir Nama di AYCF+3

Pernahkah merasa dilema memilih baju untuk _first date_ sampai bikin seisi lemari berantakan? Atau pusing tujuh keliling merencanakan _weekend_ yang _aesthetic_ tapi berakhir di kasur rebahan? Nah, itu baru dilema personal. Bayangkan kalau harus mewakili satu negara di panggung internasional, sendirian pula! Universitas Airlangga (UNAIR) ternyata punya level _stress_ yang berbeda, yaitu ketika mereka menjadi satu-satunya delegasi dari Indonesia di kancah global.

Kisah heroik ini bukan sekadar fiksi _superhero_ lokal, melainkan nyata adanya. UNAIR, dengan gagah berani, melenggang ke 20th ASEAN dan 10th ASEAN+3 Youth Cultural Forum (AYCF+3). Acara akbar ini berlangsung dari Minggu, 22 Juni, hingga Jumat, 27 Juni 2025, bertempat di Thailand. Tuan rumahnya pun tidak main-main: Chulalongkorn University, Mahidol University, dan Burapha University bergantian menjadi saksi bisu kebolehan anak bangsa. Di ajang ini, UNAIR dengan bangga membentangkan karpet merah budaya Indonesia di hadapan khalayak ASEAN yang beragam.

Forum tahunan ini, yang digagas oleh ASEAN University Network (AUN), adalah semacam ajang kumpul-kumpul siswa dari negara-negara ASEAN dan tiga negara mitra utama—Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Dengan tema “Cultural Convergence: Embracing Diversity, Empowering Youth,” forum ini berhasil menumbuhkan pertukaran budaya dan mendorong kolaborasi kreatif di antara para pemuda lintas negara. Seolah menegaskan bahwa _cross-cultural friendship_ itu bukan cuma ada di drama Korea.

Delegasi UNAIR kali ini terdiri dari empat mahasiswa pilihan yang mewakili kemitraan epik antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM UNAIR) dan Forum Unit Kegiatan Mahasiswa (FORKOM UKM). Mereka adalah Anggun Zifa Anindia (Presiden BEM UNAIR), Melvin Hermawan (Wakil Presiden), Rodesti Florence (Ketua FORKOM), dan Trikiranna Purnama (Sekretaris FORKOM). Sebuah tim yang tidak hanya kompak, tetapi juga punya _sense of humor_ tinggi.

“Keputusan UNAIR untuk berpartisipasi dalam forum ini mencerminkan misi kami yang lebih luas. Kami di sini tidak hanya untuk tampil, tetapi untuk membangun diplomasi budaya sebagai bentuk _soft power_ yang dapat dirasakan langsung,” ujar Anindia, pemimpin delegasi yang juga menjabat sebagai Presiden BEM UNAIR. Anindia juga menambahkan, “Kami ingin mahasiswa UNAIR tidak hanya dikenal cerdas secara akademis, tetapi juga berwawasan global dan sadar akan kekayaan budaya mereka.”

## Ketika “Indonesia Wonderland” Mengguncang Panggung Dunia

Dalam malam budaya ASEAN+3, UNAIR mempersembahkan sebuah penampilan berjudul “Indonesia Wonderland.” Ini bukan sekadar pertunjukan tari biasa, melainkan sebuah _medley_ yang memadukan tari-tarian tradisional Indonesia seperti Saman, Piring, Kecak, Legong, dan Yospan dengan sentuhan modern. Rasanya seperti melihat pertunjukan Broadway versi kearifan lokal.

Para delegasi tampil memukau dengan balutan busana tradisional yang _effortlessly chic_, diiringi musik etnik kontemporer dan narasi pemersatu. Penampilan berdurasi lima menit itu berhasil menyihir penonton internasional. Ruangan pun hening, terhipnotis oleh setiap gerak dan irama.

“Kami menerima _standing ovation_ dari hampir semua orang di ruangan itu. Bahkan delegasi dari Jepang dan Korea Selatan datang menghampiri untuk mengungkapkan betapa terkesannya mereka dengan kekayaan budaya Indonesia yang kami sajikan,” Anggun Anindia menceritakan dengan nada bangga. Sepertinya _soft power_ ini bekerja lebih cepat dari yang dibayangkan.

## Bazaar Budaya: Ketika Indomie Bertemu Wayang Kulit

Di bazaar budaya, _booth_ UNAIR menjadi magnet bagi kerumunan. Pengunjung disuguhi pengalaman mendalam tentang budaya Indonesia. Mereka mencicipi berbagai camilan seperti aneka rasa Indomie—tentu saja—kemudian brem, basreng, keripik pisang, dan permen jahe. Sebuah pesta rasa yang memanjakan lidah.

Tidak hanya kuliner, para pengunjung juga bisa menjelajahi berbagai barang budaya. Ada batik, kaus Barong Bali, wayang kulit, serta alat musik seperti rebana dan gendang, yang bisa mereka coba langsung. Seolah pengunjung diajak melakukan _field trip_ mini ke Indonesia.

“Kami tidak hanya memamerkan budaya kami—kami membuatnya hidup. Pengunjung dari Laos, Vietnam, bahkan Jepang memainkan rebana, mencicipi makanan tradisional kami, dan bertanya tentang makna di balik batik dan wayang. Kami berbicara kepada mereka melalui rasa, gerakan, dan suara,” tambahnya.

## Diplomat Muda yang Gercep, Bukan Baper

Anindia menekankan bahwa partisipasi UNAIR adalah hasil dari perencanaan yang matang. Meskipun hanya memiliki waktu dua minggu untuk persiapan—mirip dikejar _deadline_ skripsi—delegasi berhasil menyajikan pertunjukan yang sangat terkurasi dan berdampak. Ini membuktikan bahwa mahasiswa Indonesia memang punya daya juang tinggi.

“Forum ini bukan sekadar panggung—ini adalah platform bagi gerakan mahasiswa untuk menyuarakan pesan mereka secara strategis. Kolaborasi antara BEM dan FORKOM UKM adalah kunci. Kami menyajikan narasi bersama, bukan hanya upaya individu,” jelasnya. Sebuah sinergi yang layak dijadikan contoh bagi tim manapun.

Kehadiran UNAIR di AYCF+3 2025 bukan sekadar pertunjukan budaya semata, melainkan cerminan komitmen universitas terhadap internasionalisasi yang tetap berakar pada identitas nasional. Dengan absennya universitas terkemuka Indonesia lainnya seperti UI, ITB, dan UGM—yang mungkin sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri—UNAIR dengan percaya diri mengambil alih panggung. Mereka menunjukkan bahwa mahasiswanya siap dan mampu mewakili negara di platform global, dengan segala kecerdasan dan kelincahan ala Gen Z.

“Kami memang tidak datang dengan jumlah besar, tetapi pesan kami keras dan jelas. Forum ini bukan hanya tentang memamerkan budaya—ini tentang siapa yang bersedia berbicara untuk negaranya dengan bangga. UNAIR memilih untuk hadir, naik panggung, dan membuat suaranya didengar,” pungkas Anindia. Dan begitulah, UNAIR sekali lagi membuktikan bahwa mereka bukan hanya jago di dalam kelas, tetapi juga di kancah dunia.

Previous Post

Joe Jonas Terbang Terlalu Tinggi: Skandal di Atas Awan

Next Post

Pixel Fold 10 Pro Vs Z Fold 7: Merebut Tahta Lipat

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *