Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Mani: Rahasia di Balik Irama Ikonik Stone Roses dan Pengaruhnya pada Britpop

Dulu, waktu kecil, kita sering denger orang bilang, “Musik itu bahasa universal.” Sekarang, setelah lihat kelakuan fans K-Pop sama fans metal berantem di komen YouTube, kayaknya universal itu cuma berlaku buat tukang parkir. Tapi, ada satu band yang musiknya kayaknya bisa bikin tukang parkir joget sambil ngitung duit: The Stone Roses.

Ledakan Manchester yang Mengguncang Dunia Permusikan

Bayangkan begini: Awal 1989, The Stone Roses cuma band lokal yang bikin heboh Manchester. Ibaratnya, mereka itu kayak warung kopi yang cuma rame di kalangan anak tongkrongan sekitar. John Peel, DJ legendaris yang seleranya kayak dewa musik indie, nggak ngefans. Media musik mainstream nyaris nggak ngelirik single mereka, “Elephant Stone”. Bahkan, buat ngisi venue sekelas Dingwalls aja mereka kesulitan. Tapi, November tahun itu, BAM! Mereka meledak. “Fools Gold” nangkring di tangga lagu nomor 8, dan penampilan mereka jadi highlight di acara Top of the Pops. Sebuah pencapaian yang nyaris mustahil buat band indie di era 80-an akhir.

Kalau dipikir-pikir, banyak faktor yang bikin The Stone Roses jadi fenomena. Mereka bukan cuma sekadar band rock alternatif biasa. Penampilan mereka lebih dekat ke scene acid house yang lagi naik daun. Sikap mereka yang songong tapi percaya diri, dan skill gitar John Squire yang nggak malu-malu virtuositasnya, bikin mereka beda. Tapi, ada satu hal yang nggak bisa dibantah: rhythm section The Stone Roses itu punya swing yang nggak ada duanya di dunia alt-rock Inggris saat itu.

Rahasia Dapur: Racikan Musik yang Bikin Nagih

Mungkin ada yang bilang melodi “Made of Stone” itu mirip-mirip sama “Velocity Girl”-nya Primal Scream. Tapi, coba dengerin bass dan drumnya. Jauh berbeda! Musik mereka itu bikin pengen joget, sesuatu yang jarang terjadi di disko-disko indie zaman itu. Kayaknya, drummer Alan “Reni” Wren dan bassist Gary “Mani” Mounfield itu tumbuh dengan musik yang beda dari band indie kebanyakan. Mani sendiri ngaku ngefans berat sama Chris Hillman, bassist The Byrds. Tapi, panutan utamanya adalah “good northern soul and funk“.

Keluwesan permainan Mani itu jadi secret sauce di album debut The Stone Roses. Dialah yang bikin “I Am the Resurrection” berubah dari Motown stomp jadi loose-limbed funk. Lick bass-nya yang melompat-lompat bikin “Waterfall” jadi lebih hidup. Kadang, sauce-nya nggak terlalu rahasia. Di “Fools Gold”, fokusnya bukan di melodi vokal atau permainan wah-pedal Squire, atau bahkan breakbeat yang dicomot dari “Hot Pants”-nya Bobby Byrd. Tapi, di bass Mani yang menggeliat dan nggak kenal ampun. Coba deh, inget-inget “She Bangs the Drums”. Pasti yang pertama muncul di kepala adalah bassline-nya.

Kurang Ngefunk, Kurang Mantap

Menurut Mani, masalah The Stone Roses itu satu: kurang funky. “One Love”, follow-up “Fools Gold” yang kurang nendang, menurutnya, kurang swing dan terlalu kaku. Dia mati-matian ngebela album kedua mereka yang sering dicibir, Second Coming. Menurutnya, album itu bisa lebih bagus kalau gitar Led Zeppelin-nya dikurangin dan “balik ke groove“.

Second Coming: Antara Ambisi dan Realita

Mungkin ada benarnya juga. Momen-momen terbaik di Second Coming biasanya pas Mani dibiarin lepas – “Daybreak”, “Love Spreads”, “Begging You”. Sementara di lagu-lagu yang loyo, kita bisa denger dia kayak lagi nyemangatin band buat ngebut. Permainannya di “Tightrope” kontras banget sama kelesuan lagu itu sendiri. Di “Straight to the Man”, dia jelas-jelas berusaha nyuntik semangat ke country-rock yang nggak jelas juntrungannya. Genre yang kayaknya nggak ada yang pengen denger dari The Stone Roses.

Setelah Mawar Layu: Mani dan Kebangkitan Primal Scream

Sayangnya, usahanya sia-sia. Wren dan Squire cabut setelah Second Coming dirilis, dan The Stone Roses bubar jalan setelah tampil payah di festival Reading 1996. Tapi, gig Mani berikutnya bareng Primal Scream punya efek luar biasa buat band yang lagi lesu setelah album rock-y Give Out But Don’t Give Up kurang laku. Suaranya jadi lebih dubby, lebih berat, dan lebih terdistorsi. Tapi, swing yang bikin The Stone Roses beda masih ada – terutama di low-slung funk “Kowalski”. Kemampuannya buat menonjolkan permainannya juga makin kelihatan. Bassline-nya yang popping dan hipnotis jadi bintang utama di single “Swastika Eyes”. Permainannya di “Kill All Hippies” – sama kayak “Swastika Eyes”, jadi highlight di album Xtrmntr, album terbaik Primal Scream sejak Screamadelica.

Super-Yob dan Mancing Mania: Pensiun dengan Gaya

Mani itu orangnya asyik dan gampang bergaul. John Robb pernah bilang kalau kesombongan The Stone Roses ke media biasanya langsung hilang kalau Mani “nurunin egonya”. Di konser reuni The Stone Roses tahun 2012 di Heaton Park, Manchester, dia mainin bass custom yang ada tulisan “Super-Yob”, julukan gitaris Slade, Dave Hill, yang rambutnya lebay dan mukanya selalu cengengesan. Sayangnya, reuni itu nggak lebih dari sekadar gig yang ngasih duit banyak. Dua single baru yang dirilis kuartet itu cuma bukti kalau magic tahun 1989 nggak bisa diulang lagi setelah 18 tahun. Mani akhirnya pensiun dengan tenang di tahun 2021. Dia udah cukup punya duit dan lebih tertarik mancing, yang menurutnya “alasan yang bagus buat nongkrong di pub”.

Warisan Musikal: Efek Mani Mounfield

Mungkin dia ngerasa udah cukup berkontribusi. The Stone Roses memang punya pengaruh besar. Oasis jelas-jelas niru gaya songong mereka. Britpop juga terinspirasi buat nembus batasan komersial musik alternatif dan menjangkau audiens yang lebih luas, kayak yang dilakuin The Stone Roses. Tapi, efek paling jelas dari mereka adalah perubahan ritmik. Setelah sukses besar, tiba-tiba banyak band indie yang pengen bikin penontonnya joget. Itulah raison d’être musikal Mani. “Itu kan emang tugasnya bass sama drum, kan?” katanya suatu kali. “Emang buat itu.”

Kenapa Bass Itu Penting? Karena…

Mani nggak cuma main bass. Dia itu kayak arsitek yang ngerancang bangunan musik dari fondasi. Dia kasih groove, dia kasih nyawa. Tanpa dia, The Stone Roses mungkin cuma jadi band indie biasa yang gampang dilupain. Tapi, karena dia, musik mereka jadi kayak virus yang nyebar dan bikin semua orang pengen joget. Bahkan, mungkin, tukang parkir sekalipun.

Previous Post

F1 26 Dilewati EA: Ekspansi F1 25 Jadi Kejutan Besar!

Next Post

WhatsApp Rilis Fitur “About” Ala Instagram Notes: Apa Artinya Bagi Kita?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *