Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Mantan Kandidat Knicks Hengkang, Guncang Pacers dan Simpang Siur Masa Depan

Mencari asisten pelatih kepala ibarat kencan buta yang rumit, dan New York Knicks sepertinya menjalaninya dengan level kesulitan “legendary”. Setelah serangkaian drama dan penolakan yang bikin geleng-geleng kepala, tim ini akhirnya berhasil merombak staf kepelatihan mereka. Perjalanan panjang dan berliku ini dimulai dari sebuah kepergian mengejutkan, berlanjut dengan penolakan demi penolakan, hingga akhirnya menemukan “jodoh” yang pas.

Plot Twist dari Indiana: Mike Weinar yang Menghilang

Awalnya, pencarian asisten pelatih kepala oleh New York Knicks sempat diguncang plot twist tak terduga. Mike Weinar, asisten pelatih Indiana Pacers yang digadang-gadang jadi kandidat kuat untuk posisi associate head coach Knicks, tiba-tiba memutuskan untuk cabut dari Pacers. Pengumuman mendadak ini disampaikan Pacers pada 22 Agustus, tanpa penjelasan detail mengenai alasannya, meninggalkan banyak tanda tanya di kalangan penggemar dan pengamat.

Beberapa minggu sebelum pengumuman itu, Weinar sebenarnya sudah lebih dulu menarik diri dari pertimbangan untuk posisi di Knicks, dengan alasan keluarga. Stefan Bondy dari New York Post melaporkan hal ini, yang tentu saja menambah bumbu misteri di balik kepergiannya. Rick Carlisle, pelatih kepala Pacers yang sudah bekerja sama dengan Weinar selama lebih dari 17 tahun, memberikan pujian setinggi langit untuk koleganya itu.

Carlisle menyebut Weinar sebagai “teman terpercaya dan kolega setia” yang punya rekam jejak juara. Ia mengklaim Weinar punya dua cincin Juara Nasional dengan Florida pada 2006 dan 2007, serta cincin Juara NBA dari Dallas Mavericks pada 2011. Bahkan, Weinar disebut punya peran besar dalam keberhasilan Pacers mencapai Final yang “bersejarah” tahun ini. Jelas sekali bahwa profesionalisme Weinar tidak perlu diragukan, dan sukses selalu mengikutinya.

Sebelum drama pengunduran diri Weinar, SNY’s Ian Begley lah yang pertama kali melaporkan adanya pembicaraan antara Weinar dan Knicks. Kepergiannya ini otomatis membuat Knicks harus kembali ke papan gambar, mencari opsi lain untuk posisi krusial tersebut. Ini adalah awal dari episode pencarian yang tak kalah dramatis.

Misi Mencari Pendamping Kepala: Banyak Ditolak, Akhirnya Ada Jodoh

Setelah Weinar tidak lagi menjadi pilihan, New York Knicks buru-buru mengalihkan perhatian mereka. Seperti dalam sebuah aplikasi kencan, mereka harus mencari kandidat lain. Mereka dengan cepat melirik Chris Jent, asisten pelatih Charlotte Hornets, dan akhirnya mencapai kesepakatan untuk menjadikannya associate head coach di bawah kepemimpinan Mike Brown yang baru direkrut.

Pencarian ini bukan tanpa rintangan. Knicks sempat menghadapi serangkaian penolakan yang cukup “menyakitkan” di bursa pelatih. Pablo Prigioni dari Minnesota Timberwolves, James Borrego dari New Orleans Pelicans, dan Jay Triano dari Dallas Mavericks semuanya menolak ketertarikan dari Knicks. Sepertinya Knicks saat itu sedang dalam fase “ditolak mulu.”

Jent, yang kini berusia 55 tahun, dipandang sebagai asisten paling berpengalaman yang tersedia di pasar. Ia baru saja memimpin Hornets meraih gelar juara Summer League di Las Vegas, sebuah pencapaian yang menandai gelar pertama dalam sejarah waralaba tersebut. Frank Isola dari SiriusXM NBA Radio sebelumnya sudah melaporkan bahwa Jent adalah kandidat terdepan untuk posisi di Knicks ini.

Penunjukan Jent juga berarti reuni dengan Mike Brown, karena keduanya pernah bekerja sama di staf Cleveland Cavaliers dari 2006 hingga 2009. Sepertinya, setelah banyak cobaan, Knicks akhirnya menemukan koneksi yang sudah teruji. Jent sendiri telah menghabiskan lebih dari dua dekade di bangku cadangan NBA dan G League, bahkan sempat menjadi pelatih interim Orlando pada 2005 dan memimpin Bakersfield Jam pada 2015-16. Yang menarik, sebagai pemain, ia memenangkan gelar NBA bersama Houston Rockets pada 1994, ironisnya, melawan Knicks.

Rombak Staf: Brunson Berkurang, O’Connor Datang Membantu Pertahanan

Kedatangan Jent membawa perubahan signifikan di struktur kepelatihan Knicks. Ia akan menggantikan Rick Brunson, ayah dari bintang Knicks Jalen Brunson, yang sebelumnya memegang peran associate head coach di bawah Tom Thibodeau musim lalu. Rick Brunson memang akan tetap berada di staf, namun dengan tanggung jawab yang berkurang.

Perubahan ini bukan tanpa alasan. Kabar dari Hoops Wire’s Sam Amico pada bulan Juni lalu menyebutkan bahwa beberapa pemain Knicks merasa tidak nyaman dengan pengaruh Rick Brunson. Bahkan, ada sumber yang menggambarkan Brunson senior sebagai “orang dengan kekuatan terbesar di seluruh organisasi.” Pengurangan tanggung jawab ini bisa jadi langkah strategis untuk menyeimbangkan dinamika tim.

Tak hanya itu, Knicks juga menambah amunisi baru dengan merekrut Brendan O’Connor dari Los Angeles Clippers. O’Connor akan bertanggung jawab mengelola lini pertahanan tim. Ia bukan wajah baru di New York; O’Connor sebelumnya pernah bekerja di Knicks di bawah Larry Brown dan memiliki hubungan yang kuat dengan eksekutif Knicks William Wesley, yang akrab disapa “World Wide Wes.”

Wesley, seorang “power broker” yang sudah lama berkecimpung di lingkaran NBA, disebut-sebut sebagai kunci utama dalam membujuk O’Connor untuk meninggalkan Los Angeles. Kini, dengan Jent yang akan mengurus lini serangan dan O’Connor yang akan mengawasi pertahanan, Knicks siap memasuki training camp dengan staf kepelatihan yang benar-benar baru di bawah Brown. Sebuah proses yang penuh penolakan, perombakan, dan kepergian tak terduga, akhirnya membuahkan hasil berupa skuad kepelatihan yang komplit.

New York Knicks memasuki musim baru dengan vibe staf kepelatihan yang segar dan strategi yang lebih terstruktur. Setelah melewati saga pencarian yang mirip drama percintaan di reality show, mereka akhirnya berhasil menyusun tim impian. Semoga saja, chemistry baru ini bisa membawa Knicks terbang lebih tinggi dan memberikan tontonan yang jauh lebih seru di lapangan.

Previous Post

Pixel 10 Buka Era Baru: WhatsApp Satelit Hapus Batas

Next Post

Budaya Oti Ikomi: Jati Diri Kuat Generasi Penerus Bangsa

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *