Bungie, studio yang pernah membuat gamer menangis haru dengan kisah Master Chief dan gemas dengan aksi para Guardian di Destiny, baru saja merilis Marathon. Awalnya, proyek ini disambut antusiasme yang meragukan, seperti ketika mencoba genre extraction shooter yang tergolong niche. Setelah berbagai penundaan dan reaksi keras dari sesi uji coba publik yang menganggapnya terlalu sulit, game ini akhirnya hadir. Publik ramai-ramai bertanya, “Apakah penggemar Halo dan Destiny akan terintimidasi dan kabur?”
Kini, rating Metacritic Marathon merangkak naik dari 74 menjadi 82, sebuah lonjakan yang layak dipertanyakan. Peta endgame terbaru, Cryo Archive, yang hanya aktif di akhir pekan, ternyata menuai pujian nyaris tanpa cela. Mesin-mesin review bergema memuji desainnya yang brilian, meski ada pula yang mengerutkan dahi melihat tingkat kesulitannya yang konon brutal dan barrier to entry yang tinggi. PC Gamer menghadiahi game ini 9/10, ditemani GamesRadar dan Game Informer yang turut memberikan skor tinggi. Ternyata, setelah semua keraguan, para kritikus kini jatuh cinta pada Marathon.
Penjualan Marathon mungkin tidak akan membuat Sony, sang pemilik studio, bersorak kegirangan. Namun, satu segmen pasar tampaknya benar-benar tenggelam dalam game ini: para jurnalis game. Banyak mantan pemain Destiny di kalangan media yang kini terhipnotis oleh arah seni yang memesona, desain yang tak kenal kompromi, lore yang misterius, dan sentuhan khas Bungie yang tak lekang oleh waktu.
Kembalinya Sang Legenda, Sesuai Ekspektasi Atau Ilusi?
Perjalanan Marathon dari antisipasi yang dingin menjadi pujian yang hangat adalah sebuah studi kasus menarik tentang bagaimana game yang menantang bisa menemukan ceruknya. Awalnya, game ini dicap sebagai experimen hardcore Bungie yang mungkin terlalu jauh dari jangkauan audiens utamanya. Formula extraction shooter memang bukan untuk semua orang; ia menuntut kesabaran, perencanaan, dan kemampuan untuk menerima kehilangan dalam setiap misi. Respon awal dari sesi playtest publik mengonfirmasi ketakutan banyak pihak bahwa game ini lebih cocok untuk para hardcore gamer yang haus tantangan ekstrem, bukan gamer kasual yang mencari hiburan ringan.
Rilis resminya disambut dengan kehati-hatian. Para kritikus memang mengakui keindahan visual dan kedalaman mekaniknya, namun kekhawatiran tentang kurva belajar yang curam dan sifat permainan yang menguras sumber daya tetap membayangi. Keputusan Bungie untuk menunda peninjauan penuh hingga peluncuran peta Cryo Archive justru menambah spekulasi dan ketegangan. Apakah ini taktik untuk memperbaiki kelemahan atau sekadar memberi waktu bagi media untuk benar-benar memahami visi pengembang? Ternyata, setelah peta tersebut dirilis, keraguan mulai berganti menjadi kekaguman, setidaknya di kalangan jurnalis.
Lonjakan rating Metacritic bukanlah sebuah kebetulan. Cryo Archive, yang dirancang untuk menjadi ujian ultimatif kemampuan pemain, berhasil membalikkan persepsi banyak orang. Peta ini menawarkan tantangan yang brutal namun memuaskan, memaksa pemain untuk berkolaborasi dan mengasah strategi mereka hingga ke tingkat tertinggi. Ulasan-ulasan yang berdatangan menggambarkan peta ini sebagai puncak dari pengalaman Marathon, sebuah arena di mana desain game yang brilian bertemu dengan realitas yang dingin dan mematikan. Namun, tetap saja, sebagian kalangan masih bersuara sumbang, menyoroti betapa sulitnya game ini bagi pemain baru.
Fakta bahwa media game secara kolektif memberikan pujian besar terhadap Marathon pasca rilis peta terbaru, menunjukkan sebuah pola yang menarik. Ini bukan sekadar tentang skor review yang bagus; ini tentang bagaimana sebuah game berhasil merebut perhatian dan waktu luang para profesional industri itu sendiri. Di tengah ramainya game-game AAA yang dirilis setiap tahun, kemampuan Marathon untuk menarik para jurnalis dari game lain, bahkan dari produk-produk Bungie sendiri, adalah bukti kekuatannya yang tak terbantahkan.
Jalan Panjang Menuju Panggung Penghargaan
Keberhasilan Marathon dalam memenangkan hati para kritikus menempatkannya pada posisi yang sangat strategis, terutama menjelang gelaran The Game Awards. Kategori Best Multiplayer Game dan bahkan nominasi Game of the Year kini tampak bukan sekadar mimpi di siang bolong. Mengingat bahwa mayoritas pemilih di The Game Awards adalah anggota media game dan mainstream, resepsi kritis yang positif menjadi modal utama. Namun, untuk kategori multiplayer, skor review saja tidak cukup; game tersebut harus mampu menarik minat para jurnalis untuk terus dimainkan di luar jam kerja.
Secara historis, game multiplayer murni jarang mendapatkan nominasi Game of the Year. Hanya segelintir yang berhasil menembus daftar tersebut, seperti Hearthstone, Overwatch, PUBG, Super Smash Bros. Ultimate, dan It Takes Two. Sebagian besar dari mereka adalah game yang sangat populer di kalangan media, sering dimainkan sebagai “teman ngopi” di sela-sela pekerjaan, sebuah fenomena yang mungkin sulit direplikasi di era kerja jarak jauh seperti sekarang.
Meskipun demikian, potensi Marathon untuk menyusul jejak para pendahulunya tidak bisa diremehkan. Tantangan terbesar adalah aksesibilitasnya yang rendah dan lingkungan kerja yang terfragmentasi saat ini, yang mengurangi potensi viralitas di kalangan komunitas media game. Berbeda dengan game-game nominasi sebelumnya, Marathon membutuhkan dedikasi dan pemahaman mendalam untuk dinikmati, sebuah karakteristik yang mungkin kurang menarik bagi audiens yang lebih luas.
Namun, fakta bahwa Marathon berhasil mendapatkan daya tarik yang signifikan di kalangan media game, terlepas dari semua hambatan tersebut, adalah pencapaian tersendiri. Hal ini menjadikan Marathon sebagai kandidat kuat, bahkan bisa dibilang unggulan, untuk penghargaan Best Multiplayer Game. Kemenangan dalam kategori ini seringkali menjadi penentu bagi reputasi sebuah game di mata para profesional industri.
Persaingan Ketat di Kategori Multiplayer
Prediksi untuk kategori Best Multiplayer Game selalu sulit, terutama di awal tahun. Siapa yang mengira Arc Raiders akan menjadi pemenang tak terduga di tahun 2025? Munculnya Grand Theft Auto 6 dengan mode online-nya yang digadang-gadang revolusioner juga menjadi faktor penentu, meski keraguan tetap ada mengenai kapan tepatnya game ini akan dirilis.
Selain itu, beberapa judul lain juga patut diperhitungkan. Ada Kiln dari DoubleFine yang menjanjikan, The Duskbloods dari FromSoftware yang berpotensi menjadi penerus spiritual Bloodborne, game kooperatif Orbitals dari Shapefarm, dan Big Walk dari House House yang merupakan pionir dalam genre baru yang disebut “elevated friendslop.” Keberagaman genre dan pendekatan dalam game-game ini menunjukkan betapa dinamisnya lanskap multiplayer saat ini.
Namun, jangan lupakan preferensi The Game Awards yang secara konsisten mengunggulkan genre shooter. Delapan dari sebelas pemenang kategori Best Multiplayer Game sebelumnya adalah shooter. Faktor ini jelas menjadi keuntungan besar bagi Marathon. Di tengah persaingan yang ketat, Marathon kini bertengger sebagai favorit utama, kecuali jika Valve benar-benar meluncurkan Deadlock di tahun 2026. Sebuah pertarungan kelas berat yang patut dinanti.


