Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Marathon: Surgawi Cuan, Neraka Sabar

Mendengar nama Marathon kembali muncul di permukaan bisa memicu nostalgia bagi segelintir orang, namun bagi banyak kalangan, ini adalah pengenalan ke sebuah medan pertempuran digital yang brutal, sebuah penciptaan Bungie yang tampaknya sengaja dirancang untuk menguji kesabaran sampai batasnya, sambil tetap menawarkan kilasan kesenangan yang adiktif.

Perasaan pertama kali terjun ke dunia Marathon seringkali digambarkan sebagai terjebak dalam permainan yang terlalu cerdas untuk dirinya sendiri. Ada pesona dalam gaya visualnya yang futuristik namun sedikit kasar, sebuah estetika yang terasa asing di tengah lautan game yang mengkilap dan seragam. Namun, pesona ini cepat terkikis oleh realitas mekanik inti yang terasa lebih seperti ujian daripada hiburan. Pengembang tampaknya telah memutuskan bahwa kesenangan sejati hanya bisa diraih setelah melewati serangkaian rintangan yang membingungkan, sebuah filosofi yang patut dipertanyakan bagi sebuah produk yang seharusnya dinikmati.

Para pengulas tampaknya sepakat bahwa Marathon adalah pengalaman yang penuh kontradiksi. Satu sisi menawarkan potensi besar, potensi untuk sebuah pengalaman extraction shooter yang menegangkan dan imersif. Di sisi lain, ada kegagalan dalam eksekusi yang membuat progres terasa seperti mendaki gunung es licin menggunakan sarung tangan bowling. Kualitasnya naik turun secara dramatis, menciptakan jurang pemisah antara momen-momen brilian dan periode frustrasi yang membuat pemain bertanya-tanya apakah waktu yang diinvestasikan sepadan.

Salah satu keluhan utama yang terus muncul adalah bagaimana misi atau quest yang seharusnya memandu pemain justru menjadi penghalang utama. Alih-alih memberikan arah yang jelas atau tantangan yang menarik, quest ini seringkali terasa rumit, tidak intuitif, dan membosankan. Bayangkan sedang asyik menikmati firefight sengit, lalu tiba-tiba harus berhenti untuk mencari item acak yang entah bagaimana tersembunyi di sudut terjauh peta, hanya untuk memastikan kelanjutan progres. Ini bukan strategi desain yang cerdas; ini lebih seperti sabotase diri yang disengaja.

Mekanisme extraction shooter sendiri, yang seharusnya menjadi inti keseruan, seringkali terganggu oleh elemen-elemen yang terasa dipaksakan. Tingkat kesulitan yang brutal, ditambah dengan kurangnya panduan yang memadai, bisa membuat sesi bermain terasa seperti upaya bertahan hidup tanpa harapan. Sensasi kehilangan semua loot yang susah payah dikumpulkan karena satu kesalahan kecil adalah bumbu yang mungkin disukai oleh segelintir pemain hardcore, tetapi bagi mayoritas, ini adalah resep untuk trauma gaming ringan.

Perjuangan Melawan Ketiadaan Arah

Inti dari masalah tampaknya terletak pada bagaimana Marathon memperlakukan pemainnya. Alih-alih merangkul, game ini justru mendorong. Penekanan pada hardcore gameplay seringkali berbenturan dengan kurangnya kejelasan instruksi. Pemain dibiarkan menebak-nebak, menjelajahi lingkungan yang luas namun seringkali steril, dengan tujuan yang samar. Ini menciptakan siklus frustrasi di mana waktu yang dihabiskan untuk mencari tahu apa yang harus dilakukan jauh lebih banyak daripada waktu yang dihabiskan untuk benar-benar bermain dan menikmati aksi.

Model extraction shooter, yang bergantung pada pengambilan risiko dan perencanaan strategis, membutuhkan sistem yang adil dan responsif. Di Marathon, sistem ini terkadang terasa seperti bermain melawan musuh yang mendapatkan keuntungan tidak adil. AI musuh bisa jadi tak terduga, namun bukan dalam cara yang memicu rasa tertantang, melainkan lebih kepada rasa kesal karena kalah oleh taktik yang terasa tidak terduga atau bahkan curang. Ini bukan tentang strategi; ini tentang keberuntungan dan kesabaran yang luar biasa.

Estetika yang unik dan ambisius patut mendapat pujian tersendiri. Ada upaya untuk menciptakan dunia yang kaya dengan lore dan atmosfer. Namun, keindahan visual dan narasi yang mendasarinya seringkali tenggelam di bawah gelombang kesulitan yang tidak perlu dan desain misi yang membingungkan. Ini seperti memiliki lukisan mahakarya yang dipajang di tengah gudang sampah; potensinya ada, tetapi konteksnya merusaknya.

Hubungan antara kesenangan dan frustrasi dalam Marathon sangatlah rapuh. Ada momen ketika semuanya menyatu – pertarungan yang intens, perolehan loot yang berharga, dan rasa pencapaian yang manis. Momen-momen ini adalah yang membuat para pengembang terus mendorong desain mereka yang keras. Namun, jeda antar momen tersebut bisa terasa sangat panjang, diisi dengan eksplorasi yang membosankan dan quest yang menguji kesabaran.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Marathon sulit. Itu sudah jelas. Pertanyaannya adalah, apakah kesulitan tersebut dilayani oleh desain yang cerdas dan memuaskan? Berdasarkan konsensus para peninjau, jawabannya cenderung mengarah pada ‘tidak’. Kesulitan yang terasa dipaksakan, tanpa dibarengi dengan mekanika yang solid dan panduan yang memadai, mengubah pengalaman yang berpotensi menarik menjadi sebuah siksaan.

Taming the Beast? Perhaps, After Therapy

Bungie jelas berusaha menciptakan sesuatu yang berbeda, sebuah pengalaman yang menantang batas-batas genre extraction shooter. Namun, dalam upaya tersebut, tampaknya mereka kehilangan keseimbangan antara tantangan dan kesenangan. Fokus yang berlebihan pada kesulitan dan elemen hardcore mengorbankan aksesibilitas dan kenikmatan bagi sebagian besar pemain.

Keinginan untuk taming binatang buas ini mungkin ada, tetapi banyak yang akan berpendapat bahwa binatang itu perlu dijinakkan lebih dulu dengan sedikit lebih banyak perhatian pada detail desain antarmuka dan alur misi. Tanpa perbaikan signifikan di area tersebut, Marathon berisiko menjadi permata tersembunyi yang terlalu sulit ditemukan, atau lebih buruk lagi, sebuah eksperimen ambisius yang gagal mencapai potensinya karena kekerasan hati pada desainnya sendiri.

Pada akhirnya, Marathon hadir sebagai sebuah proposisi yang menarik namun penuh tantangan. Ia menawarkan dunia yang kaya dan mekanik yang berpotensi memuaskan, tetapi dibalut dalam lapisan kesulitan dan kebingungan yang membuatnya sulit dijangkau. Bagi mereka yang memiliki kesabaran dewa dan toleransi luar biasa terhadap frustrasi, mungkin ada imbalan yang menanti. Namun, bagi kebanyakan pemain, ini mungkin hanyalah pengingat bahwa tidak semua hal yang ‘sulit’ secara inheren berarti ‘baik’.

Previous Post

ASEAN Gagas Forum Hukum: Lawan Senjata Pemusnah Massal, Jangan Sampai Bikin Geger

Next Post

Pussycat Dolls Kembali: Nostalgia Noughties Atau Reuni Dadakan?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *