Bayangkan ini: kamu lagi asyik scroll TikTok, eh, tiba-tiba muncul berita band indie kesayanganmu, Maxïmo Park, merayakan 20 tahun album debut mereka, ‘A Certain Trigger’. Dua dekade, bro! Itu sama aja kayak umur kucing piaraanmu dikali tiga. Tapi, tunggu dulu, ini bukan sekadar nostalgia, ini tentang bagaimana musik bisa awet kayak resep rahasia emak.
Paul Smith, sang vokalis yang karismatik, baru-baru ini ngobrol sama NME, dan hasilnya? Sebuah perjalanan kilas balik yang asyik, mulai dari tur bareng Arctic Monkeys sampai hiruk pikuk era ‘indie sleaze’. Siap-siap, ini bukan sekadar cerita band indie biasa, ini tentang bagaimana Maxïmo Park tetap relevan di tengah gempuran boyband Korea dan TikTok challenge.
Album ‘A Certain Trigger’ edisi khusus ulang tahun ke-20 ini dirilis dengan tambahan B-sides, demo, dan versi alternatif lainnya. Jadi, buat kamu yang merasa ‘Apply Some Pressure’ adalah anthem hidupmu, siap-siap buat nostalgia sambil dengerin versi yang lebih mentah dan jujur.
Dan yang lebih seru lagi, Maxïmo Park bakal tur keliling Inggris bareng Art Brut. Bayangin, dua band yang sama-sama nyentrik ini bakal bikin panggung bergetar. Kata Paul Smith, mereka bakal mainin hampir semua lagu dari album itu tiap malam, tapi nggak sesuai urutan. “Pengennya sih dibalik, biar greget,” katanya. Nah, ini baru namanya anti-mainstream!
Maxïmo Park: Dari Newcastle ke Panggung Dunia
Dirilis pertama kali tahun 2005, ‘A Certain Trigger’ langsung melejit dan membawa Maxïmo Park ke jajaran band indie papan atas. Lirik-liriknya yang puitis dan jujur tentang patah hati dan kehidupan di daerah pinggiran sukses merebut hati banyak orang. Paul Smith pun jadi semacam ikon rock star Inggris yang literate, kayak Morrissey atau Jarvis Cocker versi pakai topi babi.
“Dulu, gue sempat mikir, ada nggak ya tempat buat band kayak kita di industri musik yang lebih luas,” kenang Smith. “Gue selalu yakin sama musik kita, tapi lagu-lagu kayak ‘Apply Some Pressure’ atau ‘Graffiti’ kan lumayan kasar dan nggak gampang dicerna buat kuping orang awam. Tapi, ternyata kita tetep diputer di radio dan didengerin banyak orang yang akhirnya suka sama band yang rada aneh dan eksentrik ini.”
Maxïmo Park memang beda. Mereka nggak nongkrong di bar tiap malam buat ketemu orang industri musik di London. Mereka bikin musik dengan cara mereka sendiri, dari Newcastle, dan itu yang bikin mereka unik.
Setahun kemudian, mereka jadi headliner di NME Awards Tour, ngalahin Arctic Monkeys yang waktu itu baru mau rilis album ‘Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not’. Smith inget banget kalo personel Arctic Monkeys itu “pemalu banget” dan lagi kewalahan ngadepin popularitas mereka yang meledak. Tapi, dia juga nggak mau orang meremehkan pencapaian Maxïmo Park di tur itu.
“Orang-orang suka nulis ulang sejarah tentang tur itu, tapi semua konsernya keren banget,” kata Smith. “Pernah ada yang bilang ke gue, ‘Eh, ada yang keluar pas lo main’, tapi gue kan di panggung, gue nggak liat. Kita rekam konser terakhir di Brixton Academy, dan pas gue nonton lagi, gue kayak, ‘Gila, kita keren banget’.”
‘Indie Sleaze’ dan Kenangan Masa Lalu
Smith nggak peduli sama orang lain kalo lagi di panggung. Dia merasa kayak lagi khotbah, nyebarin “ajaran” Maxïmo Park. Baginya, itu adalah masa yang menarik, apalagi album pertama Arctic Monkeys jadi album debut terlaris sepanjang masa. Tapi, tiap malam, mereka tetep berusaha kasih yang terbaik buat penonton.
Ngobrolin soal masa lalu, Smith juga cerita tentang bagaimana rasanya jadi bagian dari era yang sekarang disebut ‘indie sleaze’. Istilah ini mungkin kedengeran agak gimana gitu, tapi buat Smith, itu adalah masa di mana musik indie lagi seru-serunya. Banyak band yang muncul dengan gaya yang beda-beda, dan Maxïmo Park adalah salah satunya.
Tapi, Smith nggak terlalu suka sama istilah ‘indie sleaze’. Soalnya, menurut dia, musik Maxïmo Park nggak sepenuhnya indie. “Ini musik pop, atau rock, dan referensi kita lebih luas. Gue dengerin ’36 Chambers’ punya Wu-Tang Clan dan merasa takjub, jadi semoga kita nggak kejebak sama tren saat itu karena selera musik kita dan kesadaran diri yang lebih tinggi dibanding band lain yang akhirnya jadi parodi diri sendiri,” jelasnya.
Dari Aksen Newcastle Sampai Mercury Prize
Dulu, aksen Newcastle yang kental dari Smith sering jadi bahan omongan. Tapi, sekarang, kota itu jadi tuan rumah Mercury Prize, dan Sam Fender, musisi lokal, berhasil menang. Buat Smith, ini adalah bukti betapa pentingnya representasi daerah di industri musik.
“Ngeliat orang-orang dateng dari luar kota dan jadi bagian dari daerah kita itu penting banget,” kata Smith. Dulu, Maxïmo Park juga pernah dinominasi Mercury Prize lewat ‘A Certain Trigger’, dan itu adalah pencapaian besar buat wilayah North East. Sekarang, Sam Fender udah manggung di stadion dan menang penghargaan. “Makin banyak acara di luar London, makin bagus!” tegasnya.
Rencana Masa Depan Maxïmo Park
Setelah tur di Inggris, Maxïmo Park udah nyiapin tur Eropa dan Australia. Smith juga pengen bikin album solo lagi, dan tentu saja, dia berharap Maxïmo Park bisa nulis album baru lagi. Album kesembilan, katanya, bakal keren banget. Kadang, dia merasa udah nggak ada lagi yang perlu diomongin, tapi tiba-tiba muncul ide lagu baru dan dia langsung semangat lagi. “Kalo udah nggak ada ide, mending berhenti bikin album. Sayangnya, ada orang yang tetep bikin album padahal udah nggak ada ide, dan gue nggak mau jadi salah satunya,” pungkasnya.
Jadi, tunggu apa lagi? Buruan dengerin edisi ulang tahun ke-20 ‘A Certain Trigger’ dan siap-siap buat sing along bareng Maxïmo Park di tur mereka tahun depan. Siapa tahu, kamu bisa ketemu jodoh sesama penggemar indie yang nyentrik. Eh, tapi jangan salahkan Mojok kalo kamu malah nostalgia sama mantan, ya!


