Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Meta, AI & Masa Depan Travel: Kilas Balik Para Maverick Skyscanner, Wego, Travel.jp

Dulu, mereka adalah para pemberontak dunia perjalanan online – para maverick yang membangun meta-search jadi sebuah gerakan. Sekarang, bayangkan mereka bertiga nongkrong di warung kopi, ngebahas masa lalu sambil ngeliatin masa depan meta-search yang katanya “so screwed” gara-gara AI. Seru, kan?

Meta-Search: Dulu Puzzle, Sekarang… Apa?

Buat Gareth Williams (Skyscanner), idenya itu kayak iseng-iseng berhadiah. Awal 2000-an, lagi nongkrong sama temen di Edinburgh, eh, kepikiran bikin kode buat nyari tiket murah buat ski. Katanya sih, “Jangan bikin tools buat diri sendiri.” Tapi ya namanya juga rejeki, ternyata banyak yang butuh juga.

Skyscanner di awal kemunculannya itu lahir dari rasa frustrasi dan keyakinan. Ibaratnya, kalo lo bukan orang dalam dunia travel, lo nggak bakal ngerti betapa pecah belahnya dunia ini. Jadi, ya, bikin aja sesuatu yang lo yakini.

Filosofinya sederhana: hormatin maskapai yang udah susah payah nerbangin pesawat, tapi utamain traveller. Simpel, kan?

Meta: Dari Pasar ke… Penguasaan?

Ross Veitch (Wego) dari Singapura, model bisnisnya emang fleksibel dari dulu. Katanya, “Kita masih punya pasar yang ramai, tapi yang paling cepet berkembang sekarang itu OTA (Online Travel Agent).”

Dia nyamain Wego sama Amazon atau Alibaba – platform yang sekaligus pasar dan pedagang. Pengguna harus punya pilihan mau booking sama siapa, tapi kalo lo bisa layanin dari A sampai Z – dari nyari sampe in-trip support – nilainya bakal lebih tinggi.

Pendekatan hybrid itu penting di era AI. Kalo sistem agentic mau ngerencanain dan ngatur perjalanan kita, mereka harus jago belanja dan jago eksekusi.

Williams setuju kalo masalah di dunia travel itu nggak berubah, cuma alatnya aja yang beda. Yang ketinggalan itu aspek sosial. Kita bikin buat pengguna solo, padahal travel itu jarang banget sendirian.

Kei Shibata: Taruhan di Line, Belajar dari Kehilangan

Di Jepang, Kei Shibata (Travel.jp) juga nggak kalah gelisah. Perusahaannya udah 25 tahun reinventing diri sendiri – dari meta murni ke bisnis travel sampe akuisisi Trip101 buat mainan konten.

Risiko terbesarnya? Jual sebagian besar saham ke Line, aplikasi messaging itu. Mereka full taruhan di Line, sampe lupa sama web. Tapi ya, nggak bertahan lama.

Shibata nyengir, “Itu keputusan besar. Tapi lo harus ambil risiko biar tetep relevan.”

Sekarang, Shibata ngaku kalo meta itu “udah hampir rusak.” Dia ngeliat momen ini sebagai kesempatan buat bangun ulang. Ketergantungan sama Google itu nyata – kayak Presiden Trump. Lo mungkin nggak suka, tapi lo nggak bisa abaikan. Kalo dia nggak suka sama lo, ya, wassalam.

Asia Bangkit: Pelajaran dari Zaman Dulu

Waktu Williams pertama kali dateng ke WiT tahun 2006, itu perjalanan bisnis pertamanya ke Asia. “Rasanya seru banget,” katanya. “Eropa udah jenuh, tapi Asia itu penuh sama pasar yang pecah – banyak maskapai, bahasa, dan kesempatan.”

Obsesi Skyscanner sama cakupan itu berbuah manis. Setiap kali ada maskapai baru, mereka pengen semua rutenya. Begitu punya cakupan itu, otomatis ngebuka pasar baru.

Visinya buat taruhan di Asia jelas berhasil, dengan exit $1.74 miliar ke Ctrip (sekarang Trip.com Group) tahun 2016.

Veitch, sementara itu, belajar dari pengalaman pahit kalo produk bagus butuh model bisnis yang bagus juga. Mereka bikin produk yang cakep di Asia Tenggara, tapi bukan bisnis yang bagus. Frekuensi travel rendah, keranjang kecil, aggregator dikit – ya, nggak scale.

Solusinya? Pivot fokus Wego ke Timur Tengah, tempat “ada lebih banyak pemain, lebih banyak nilai yang bisa ditambah.”

Kalo Shibata? Dia ngarahin fokusnya ke luar. Jepang itu besar buat mereka, tapi mereka ngeluncurin Trip101 di luar negeri. Kondisi yang bikin Meta sukses dulu – fragmentasi, timing, nggak ada Google Travel – udah nggak ada sekarang. Tapi di era AI, kondisi itu mungkin balik lagi dalam bentuk baru.

AI: Babak Kedua Meta?

Kalo Meta lahir dari kelebihan informasi, AI mungkin jadi kelahiran kembalinya.

“Kenapa Google masuk ke pencarian travel?” tanya Shibata. “Karena mereka pengen nguasain intent. Sekarang platform AI – ChatGPT, Perplexity – pengen ngelakuin hal yang sama. Mereka media baru. Dan kayak Meta, mereka harus netral. Jadi, ada kecocokan alami.”

Williams setuju kalo mimpi lama – personal travel assistant – akhirnya dalam jangkauan. Dulu kita cuma ngomongin doang, sekarang udah mungkin. Setiap business traveller harus punya AI agent sendiri. Masalahnya bukan di teknologi, tapi pelanggannya itu bagian keuangan, bukan traveller.

Masa Depan: Passion, Pembayaran, dan Tujuan

Waktu obrolan ngebahas masa depan, tiga founder ini ngeliat ke luar lagi – ke generasi entrepreneur selanjutnya.

“Gue nungguin orang yang bisa nyelesain pembayaran travel B2B,” kata Veitch. “Stablecoin bakal ngerubah industri ini – ngeluarin bank, ngilangin friksi. Ini masalah 12-18 bulan.”

Passion Shibata ada di theme-based travel. Sekarang orang travel buat alasan yang spesifik – konser, snowboarding, obsesi sejarah. Dia baru aja ngeluncurin HistoricStays101, situs buat traveller yang pengen “nginep di dalam sejarah – di kastil atau ryokan berumur 200 tahun.”

Williams, sementara itu, lagi ngoding lagi. Abis exit Skyscanner ke Trip.com Group, dia beli tanah, nanem 40.000 pohon di Skotlandia, ikutan balap motor (“Gue benci jadi mantan founder klise, tapi ini seru”), dan balik ke cinta pertamanya – komputasi.

“Gue lagi belajar matematika lagi sama ChatGPT,” katanya. “Gue lagi ngerjain neuro-symbolic AI – dan ide intellectual firewall. Kita punya tech firewall, kita butuh yang buat pikiran. Kalo nggak, opini kita bakal dibentuk sama perusahaan dan pemerintah besar.”

Perjalanan Founder: Pesona, Kegigihan, dan… Sakitnya Tuh di Sini

Ditanya apa yang mereka pelajari dengan susah payah, jawabannya revealing banget.

“Gue payah banget di media sosial,” aku Shibata. “Tapi setiap entrepreneur butuh pesona – senyum, karisma. Barry Diller, Masayoshi Son – mereka punya itu.”

Williams lebih introspektif. “Gue ngelakuin ini dari tempat yang secara psikologis nggak seimbang,” katanya. “Gue kagum sama founder yang ngelakuin ini dari kebahagiaan. Kalo gue terlalu lembut, gue nggak bakal bisa ngelakuin ini lagi.”

Veitch ngangguk. “Tempat bahagia gue masih bikin produk,” katanya. “Tapi gue harus belajar semuanya – hiring, jualan, pitching – semua urusan orang.”

Meta Berat, Hati Ringan

Di sesi kilat terakhir, Shibata nyebut perjalanannya “berat tapi rock and roll.” Williams nyimpulin punya dia sebagai “belajar nilai tim.” Veitch? “Twisted.”

Apa yang bakal mereka bilang ke diri mereka yang umur 27 tahun?

“Jangan terlalu percaya diri,” kata Williams.
“Beli Bitcoin,” kata Veitch.
“Berpesonalah,” Shibata mungkin nambahin.

Dan gimana mereka ngeliat travel di tahun 2045?

“Industri terbesar di dunia,” kata Shibata.
“Leisure bakal nguasain hidup,” kata Williams.
“Ini bakal jadi bagian yang lebih besar dari hidup semua orang,” kata Veitch.

Buat tiga pionir yang ngebangun peta travel Internet di awal kemunculannya, jelas kalo mereka belum selesai menjelajah. Kata Yeoh di akhir sesi, dia nyimpulin apa yang dirasain semua orang di ruangan itu: “Heavy Meta, mungkin – tapi tetep rock and roll.”

Previous Post

EJAE ‘K-Pop Demon Hunters’: Royalti ‘Golden’ Saingi Hadiah ‘Squid Game’!

Next Post

Kesadaran & Otak: Model Ungkap Keterkaitan Aktivitas Spontan dengan Responsivitas

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *