Pernah nggak sih, lagi asyik dengerin musik metal sambil headbang, tiba-tiba kepikiran: “Jangan-jangan musik brutal ini bisa menyelamatkan bumi?”. Kedengarannya absurd kayak teori konspirasi, tapi seorang akademisi dari Inggris punya argumen yang cukup bikin dahi berkerut sambil mikir keras.
Ketika Metalhead Jadi Garda Depan Lingkungan
Dr. David Gange, seorang profesor dari University of Birmingham, mengklaim bahwa akar gerakan aktivisme lingkungan global modern bisa jadi berasal dari jantung industri Birmingham tahun 1970-an. Lho, kok bisa? Menurutnya, band-band metal seperti Black Sabbath punya pengaruh yang “terabaikan tapi krusial” terhadap aktivisme lingkungan dalam musik metal. Gaya hidup non-conformist, komitmen beberapa personel pada veganisme, dan lagu “Into the Void” yang dianggap sebagai “himne lingkungan yang visioner” telah menginspirasi banyak generasi.
Bahkan, ada band death metal “gnarly” bernama Unearthly Rites dari Finlandia yang terang-terangan kampanye melawan penambangan terbuka yang mereka anggap merusak lanskap Arktik. “They’re fiercely environmentalist songs, rousing communities into action against extractionist destruction,” kata Dr. Gange. Mereka hanyalah sebagian kecil dari ribuan band serupa di seluruh dunia yang berada di “garis depan kehancuran iklim” dan menggunakan musik sebagai medium untuk menyuarakan isu lingkungan.
Yang lebih mencengangkan, menurut Dr. Gange, Birmingham adalah inti dari dunia “ecometal” ini. Kok bisa kota industri yang penuh polusi jadi pusat aktivisme lingkungan metal? Nah, di sinilah letak keunikan teori ini.
Black Sabbath: Bapak Ecometal Dunia?
Black Sabbath, band legendaris yang identik dengan riff gitar yang berat dan lirik-lirik kelam, ternyata punya dimensi lain yang jarang disorot. Dr. Gange berpendapat bahwa lirik-lirik lagu mereka yang seringkali menyentuh tema kehancuran dan kiamat bisa diinterpretasikan sebagai peringatan tentang kerusakan lingkungan. Selain itu, gaya hidup beberapa personel band yang vegan juga menjadi inspirasi bagi para metalhead yang peduli lingkungan.
Lebih jauh lagi, lagu “Into the Void” dari album “Master of Reality” (1971) dianggap sebagai “himne lingkungan” karena liriknya yang menggambarkan bumi yang sekarat akibat polusi dan perang. Walaupun interpretasi ini mungkin terdengar agak maksa, tapi Dr. Gange punya argumen yang cukup kuat untuk mendukung teorinya.
Bahkan, Unearthly Rites mengakui bahwa mereka terinspirasi oleh tiga band dari West Midlands: Black Sabbath dan Napalm Death dari Birmingham, serta Bolt Thrower dari Coventry. “These bands are classics for a reason: they’ve paved the way for metal to become a voice for social and ecological awareness,” kata mereka.
Birmingham: Paspor Menuju Persahabatan Metal
Dr. Gange bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan dua pekerja Inuit di sebuah bengkel kayak tradisional di Greenland yang sedang memutar musik metal. Kecintaan mereka pada Black Sabbath begitu besar sampai-sampai mereka pernah berziarah ke Birmingham untuk mengunjungi tempat-tempat yang berhubungan dengan idola mereka. Bahkan, nama Birmingham saja sudah menjadi “paspor menuju persahabatan” di kalangan metalhead.
Kisah ini menggambarkan betapa besar pengaruh Black Sabbath dan musik metal dari Birmingham terhadap komunitas metal di seluruh dunia. Musik mereka bukan hanya sekadar hiburan, tapi juga menjadi identitas dan perekat sosial yang menghubungkan orang-orang dari berbagai latar belakang.
Dari Kehancuran ke Kesadaran: Evolusi Metal
Musik metal memang seringkali dianggap sebagai musik yang destruktif dan negatif. Tapi, Dr. Gange melihatnya sebagai medium untuk menyuarakan keprihatinan terhadap masalah-masalah sosial dan lingkungan. Band-band metal modern seperti Gojira, Architects, dan Wolves in the Throne Room secara aktif menggunakan musik mereka untuk mengkampanyekan isu-isu lingkungan dan mengajak pendengar untuk lebih peduli terhadap bumi.
Bahkan, ada band-band black metal Amerika seperti Wolves in the Throne Room, Agalloch, dan Yellow Eyes yang liriknya banyak terinspirasi oleh alam. Setiap lagu di album “Sick With Bloom” milik Yellow Eyes, misalnya, bercerita tentang sungai yang tercemar.
Ecometal: Ketika Brutalitas Bertemu dengan Idealism
Fenomena “ecometal” ini menunjukkan bahwa musik metal tidak hanya sekadar soal distorsi gitar dan vokal growl. Di balik keganasan musiknya, ada idealisme dan kepedulian terhadap lingkungan yang sangat kuat. Band-band metal ini menggunakan musik mereka sebagai senjata untuk melawan kerusakan lingkungan dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Dr. Gange menambahkan bahwa band-band ini memiliki interpretasi yang berbeda tentang sejarah musik metal. Mereka tidak mengasosiasikan Black Sabbath dengan band-band sezamannya seperti Judas Priest, tapi dengan band-band yang lebih muda seperti Napalm Death yang membawa aktivisme lingkungan dan hak-hak hewan ke level yang lebih tinggi. Mereka juga memberikan visi yang lebih lengkap tentang Black Sabbath di mana setiap personel memiliki peran yang sama penting, termasuk Geezer Butler dan Bill Ward yang vegan.
Mencari Akar di Masa Lalu untuk Masa Depan Metal
Dr. Gange menyimpulkan bahwa band-band metal modern sedang melakukan penemuan kembali akar musik metal. Mereka tidak menolak asal-usul metal, tapi justru menemukan ide-ide dan suara-suara yang mereka butuhkan di dalam musik Black Sabbath. Hanya saja, citra Black Sabbath yang selama ini dikenal belum siap untuk diinterpretasikan seperti ini sampai sekarang.
Acara “Forging Metal: Black Sabbath and Birmingham” di University of Birmingham pada hari Selasa malam akan membahas lebih lanjut tentang dampak Black Sabbath terhadap kota Birmingham dan dunia. Acara ini juga akan menampilkan Tony Iommi dan Carlos Acosta dari Royal Ballet Company dalam percakapan.
Jadi, lain kali kalau kamu lagi dengerin musik metal, coba deh perhatikan liriknya. Siapa tahu kamu menemukan pesan-pesan tersembunyi tentang lingkungan yang bisa mengubah pandanganmu tentang musik brutal ini.


