Di Mogadishu, ibu kota Somalia, harga bahan bakar melonjak bak roket SpaceX menembus atmosfer. Tak heran, para pengemudi tuk-tuk yang biasanya lincah bak ninja di jalanan kini teronggok pasrah di pinggir jalan, mesin meregang nyawa karena kehausan. Ada apa gerangan? Rupanya, perang di Timur Tengah, tepatnya serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak 28 Februari, telah mengirimkan gelombang kejut hingga ke Afrika Timur, menggandakan harga minyak mentah internasional dan membuat dompet para pengemudi tuk-tuk mengempis bak balon bocor.
Bayangkan saja, harga bensin di Mogadishu meroket 150 persen pada bulan Maret, naik dari sekitar 0,6 menjadi 1,5 dolar AS per liter. Angka ini bukan sekadar statistik kering di laporan Save the Children; ini adalah pukulan telak bagi puluhan ribu pemuda Somalia yang menggantungkan hidup pada sektor ini. Di negara dengan pengangguran kaum muda mencapai 34 persen menurut Bank Dunia, tuk-tuk adalah salah satu dari sedikit oasis pekerjaan yang tersedia.
Situasi ini semakin pelik karena banyak pengemudi tuk-tuk yang tidak memiliki kendaraan sendiri. Mereka menyewanya dari pemilik dengan tarif sekitar 15 dolar AS per hari, dan sisanya adalah keuntungan bersih setelah dikurangi biaya operasional, terutama bahan bakar. Namun, kini keuntungan itu menguap begitu saja. Ahmed Mohamud, seorang pengemudi yang menyewa kendaraannya, mengeluh bahwa biaya bahan bakar hariannya membengkak dua kali lipat, sementara pendapatannya anjlok drastis. Dulu ia bisa mengantongi 15-20 dolar AS setelah membayar sewa dan bensin, kini ia bersyukur jika mendapat 7-10 dolar AS. “Dulu saya habiskan sekitar delapan dolar untuk bensin seharian, sekarang dua belas dolar hanya untuk bensin saja,” keluhnya getir. “Kalau begini terus, saya tidak yakin bisa bertahan.”
Tak hanya Ahmed, Abdulkadir Sharif, pengemudi lain yang ditemui, juga menyaksikan rekan-rekannya satu per satu angkat kaki dari bisnis ini. “Beberapa teman saya yang tadinya menyewa tuk-tuk sudah berhenti. Makin sedikit orang yang pakai jasa kita, ini berdampak sekali. Tapi ya, mau bagaimana lagi, harus sabar,” tuturnya pasrah.
Ketika Angkot Jadi Barang Mewah
Dampak kenaikan harga bahan bakar ini tidak hanya dirasakan oleh para pengemudi. Warga Mogadishu yang dulunya menjadikan tuk-tuk sebagai moda transportasi andalan kini terpaksa merogoh kocek lebih dalam. Hassan Mohamed, warga yang rutin menggunakan tuk-tuk, mengaku sudah jarang lagi naik kendaraan roda tiga ini. “Perjalanan yang dulu cuma satu dolar sekarang jadi dua sampai tiga dolar. Ini semua gara-gara perang di Timur Tengah,” ujarnya.
Para penjual bahan bakar pun tak luput dari amukan pelanggan. Terjebak di antara sopir yang frustrasi dan pasar global yang di luar kendali mereka, para penjual bahan bakar kerap menjadi sasaran keluhan. “Sopir-sopir itu mengeluh soal harga terus, tapi kami kan tidak bisa mengontrolnya. Ini tergantung perubahan pasar,” kata Malin Hassan, seorang pedagang bahan bakar di Mogadishu.
Frustrasi ini memuncak pada 11 Maret lalu, ketika ratusan pengemudi tuk-tuk memblokir Jalan Maka Al-Mukarama, salah satu arteri utama yang menuju istana kepresidenan. Mereka menuntut intervensi pemerintah. Aksi protes ini berujung pada penangkapan Saadia Moalim Ali, seorang pengemudi perempuan lulusan universitas yang terpaksa banting setir menjadi pengemudi tuk-tuk karena sulitnya mencari pekerjaan formal. Kasus ini menyita perhatian nasional dan menyoroti keputusasaan kaum muda pekerja transportasi di Somalia.
Situasi di Somalia memang pelik. Sebagian besar pangan harus diimpor, dan sekitar 6,5 juta orang, atau hampir sepertiga populasi, menghadapi kerawanan pangan akut akibat kekeringan dan tekanan ekonomi, menurut data PBB. Kini, lonjakan biaya transportasi berimbas pada harga pangan, semakin membatasi akses terhadap kebutuhan pokok bagi keluarga-keluarga yang sudah berjuang keras.
Harapan yang Terus Tergerus
Bagi pemuda Somalia seperti Mohamud, tuk-tuk bukan sekadar alat mencari nafkah. Kendaraan itu adalah simbol bahwa kerja keras masih bisa mengantarkan pada kehidupan yang layak. Namun, dengan harga bahan bakar yang terus menanjak dan jumlah penumpang yang kian merosot, realitas tersebut kini semakin jauh dari jangkauan banyak pengemudi. Kisah mereka adalah cerminan getir tentang bagaimana gejolak geopolitik di belahan dunia lain dapat menghancurkan harapan dan menghidupi ketidakpastian di negeri yang sudah rentan.

