Bayangkan: entitas finansial dengan nama sehebat “Oasis Management Company” menyusup ke dalam konglomerat hiburan raksasa, Kadokawa. Bukan sembarang penyusupan, tapi dengan kepemilikan nyaris 9% saham. Ini bukan sekadar investasi pasif; ini adalah sinyal bahaya bagi para eksekutif yang mungkin terlalu nyaman dengan status quo, terutama mengingat sejarah Oasis yang punya kecenderungan memaksa perusahaan untuk berganti haluan, seperti mencoba mengubah Nintendo dari produsen konsol legendaris menjadi pabrik game free-to-play murah meriah.
Serangan Pagi Buta ke Benteng Kadokawa
Grup Kadokawa ini bukan entitas biasa. Anggap saja sebagai multiverse hiburan Jepang. Di dalamnya bercokol studio FromSoftware, kreator mahakarya souls-like yang bikin para gamer rela mengorbankan waktu tidur demi menaklukkan musuh yang sulit. Belum lagi Spike Chunsoft, penerbit game yang juga punya portofolio mentereng. Di luar ranah gaming, Kadokawa adalah raja di industri manga dan anime, melahirkan serial-serial fenomenal seperti Oshi no Ko dan Re: Zero. Kekayaan intelektual (IP) sebanyak ini adalah lahan basah bagi investor yang ambisius.
Momen ini datang setelah rumor kencang tentang Sony yang dikabarkan ingin mengakuisisi Kadokawa di akhir tahun 2024. Alih-alih diakuisisi, Sony justru masuk sebagai pemegang saham terbesar kedua dengan 10% saham, plus menjalin kemitraan strategis. Tujuannya? Memperkuat valuasi IP global kedua perusahaan. Intinya, Sony ingin memanfaatkan Kadokawa untuk membanjiri pasar internasional dengan anime dan game, sementara Kadokawa bisa meminjam kekuatan distribusi Sony.
Posisi Oasis Management, dengan 8.86% saham, kini hampir menyamai kekuatan Sony. Perlu dicatat, tiga pemegang saham terbesar Kadokawa (termasuk Sony) masing-masing memegang 10% saham per Maret 2025. Ini berarti Oasis tidak bisa dianggap remeh. Walaupun saat ini belum ada tuntutan publik yang dilayangkan, sepak terjang mereka di masa lalu patut jadi perhatian serius.
Inti dari seorang investor aktivis adalah membeli porsi saham yang cukup signifikan di sebuah perusahaan, bukan untuk sekadar menjadi penonton pasif, melainkan untuk ikut campur tangan dalam operasional dan manajemen. Tujuannya jelas: meningkatkan nilai saham dan keuntungan pemegang saham. Ibaratnya, mereka masuk ke sebuah tim e-sports, bukan untuk sekadar menonton match, tapi untuk memberikan strategi in-game yang tak terduga kepada kapten tim.
Nintendo Pernah Jadi Target Latihan Oasis
Lupakan sejenak Kadokawa. Mari kita mundur ke tahun 2014. Saat itu, Oasis Management sudah pernah mencoba ‘mengajari’ Nintendo. Mereka mengirim surat terbuka kepada Satoru Iwata, CEO Nintendo kala itu, mendesak perusahaan legendaris itu untuk bergeser fokus ke pasar mobile games. Argumennya? Mengambil contoh kesuksesan Netflix dan perusahaan lain, Oasis menekankan pentingnya aksesibilitas. Mereka menyarankan Nintendo untuk menjual game mobile dari IP ikonik seperti Mario dan Zelda di Google Play dan Apple App Store, tanpa perlu repot-repot membeli konsol.
Yang lebih ‘menusuk’, Oasis menyarankan model free-to-play dengan pembelian dalam aplikasi (in-app purchase). Seth Fischer, Chief Investment Officer Oasis, melontarkan kalimat yang cukup fenomenal, “Bayangkan saja membayar 99 sen hanya agar Mario bisa melompat sedikit lebih tinggi.” Kalimat ini, tentu saja, menimbulkan berbagai reaksi. Ada yang melihatnya sebagai terobosan cerdas, ada pula yang menganggapnya merusak filosofi game Nintendo yang fokus pada pengalaman bermain murni.
Hasilnya? Nintendo tetap teguh pada jalurnya mengembangkan konsol, bahkan merilis kesuksesan besar seperti Nintendo Switch dan penerusnya. Namun, perusahaan ini juga tidak sepenuhnya menutup pintu untuk platform mobile. Pokémon Go, yang dirilis tahun 2016, menjadi fenomena global, diikuti oleh Super Mario Run. Apakah ini murni inisiatif Nintendo atau ada sedikit ‘bisikan’ dari Oasis yang terngiang-ngiang, sulit untuk dipastikan. Tapi yang jelas, Nintendo menunjukkan fleksibilitas.
Mundur ke tahun 2024, tersiar kabar bahwa Bluepoint Games, studio yang dikenal piawai membuat remake game lawas seperti Shadow of the Colossus dan Demon’s Souls, pernah mengusulkan proyek Bloodborne Remake. Mengejutkan, penolakan bukan datang dari Sony, melainkan dari FromSoftware sendiri. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa FromSoftware sedang fokus pada proyek lain. Kabarnya, mereka tengah mengerjakan game bertema vampir eksklusif untuk Nintendo Switch 2, yang diberi judul The Duskbloods, sekaligus terus memberikan update untuk game multiplayer Elden Ring: Nightreign.
Apa yang Dilihat Oasis di Kadokawa?
Kembali ke inti persoalan. Apa yang membuat Kadokawa begitu menarik bagi investor seperti Oasis? Jawabannya terletak pada diversifikasi bisnisnya yang luar biasa. Mulai dari penerbitan, anime, film, hingga tentu saja, game. Mereka memiliki kendali atas IP yang sangat berharga, yang bisa dieksploitasi di berbagai media. Ini adalah strategi yang lazim dilakukan oleh holding company besar di Jepang, membangun ekosistem konten yang saling terkait.
Kepemilikan Oasis yang hampir menyamai Sony menunjukkan betapa strategisnya posisi Kadokawa saat ini. Dengan berbagai lini bisnis yang kuat dan IP yang melimpah, Kadokawa menjadi aset yang sangat diinginkan. Kehadiran investor aktivis seperti Oasis bisa memicu perubahan besar, mendorong Kadokawa untuk lebih agresif dalam mengoptimalkan aset-asetnya, baik itu melalui pengembangan game baru, ekspansi anime ke pasar global, atau bahkan mungkin divestasi unit bisnis yang dianggap kurang menguntungkan.
Kita masih harus menunggu langkah Oasis selanjutnya. Apakah mereka akan meminta posisi di dewan direksi? Mendorong restrukturisasi internal? Atau hanya sekadar menjadi pemegang saham yang vokal? Yang pasti, panggung hiburan Jepang baru saja kedatangan pemain baru yang punya rekam jejak tak terbantahkan dalam mengobrak-abrik status quo. Para eksekutif Kadokawa mungkin perlu mulai memikirkan strategi pertahanan, atau sebaliknya, bersiap untuk ‘evolusi’ yang dipaksakan.
Langkah Oasis ini juga bisa menjadi preseden bagi investor lain yang melihat potensi besar dalam konglomerat media Jepang. Kadokawa, dengan portofolio IP yang begitu luas, dari game hardcore hingga anime yang digandrungi kaula muda, adalah target yang sangat menggoda. Pergerakan seperti ini menunjukkan bahwa pasar investasi global semakin melirik industri hiburan Asia, khususnya Jepang, sebagai sumber keuntungan yang menjanjikan, meskipun terkadang datang dengan risiko dan kejutan yang tak terduga.
Perang strategi di balik layar antara investor dan manajemen perusahaan raksasa memang selalu menarik diikuti. Dalam kasus Kadokawa, pertarungan ini bukan hanya soal angka dan saham, tapi juga soal masa depan IP yang dicintai jutaan penggemar di seluruh dunia. Akankah Kadokawa bertransformasi menjadi raksasa mobile games seperti yang pernah diimpikan Oasis untuk Nintendo? Atau akankah mereka menemukan keseimbangan baru yang memuaskan semua pihak, termasuk para player yang rela membayar 99 sen untuk lompatan Mario yang lebih tinggi?


