Bayangkan ini: sebuah obat yang digembar-gemborkan sebagai harapan bagi penderita primary progressive multiple sclerosis (PPMS), bentuk MS yang katanya menyerang sekitar 15% pasien, kini berhadapan dengan tudingan miring yang cukup bikin geleng-geleng kepala. Seolah drama Korea, FDA tengah menimbang petisi untuk mencabut persetujuan obat terlaris dari Roche, si ocrelizumab (Ocrevus). Alasannya? Konon, persetujuan itu nekat diambil meski ada bisikan internal soal efektivitas yang meragukan pada kaum wanita dan potensi ancaman kanker payudara yang bikin bulu kuduk berdiri. Investigasi dari The BMJ pun membongkar seluk-beluk persetujuan ini, mempertanyakan apakah Ocrevus lebih banyak membawa petaka daripada pertolongan bagi para wanita penderita kondisi ini.
Aktivis pasien MS, Kaylin Bower, menjadi pemicu tinjauan ulang FDA ini. Ia mengaku terhenyak saat membaca memo-memo panjang dari ilmuwan FDA yang mengevaluasi aplikasi dari produsen. Sebagian besar dari mereka, ternyata, merekomendasikan penolakan persetujuan ocrelizumab untuk PPMS. Setelah menelisik uji klinis ocrelizumab, satu temuan menyebut hasilnya “kurang meyakinkan.” Ada pula yang menyoroti “efikasi yang nyaris nol” pada sebagian pasien, dan “ketidakseimbangan yang tidak biasa” dalam kasus kanker payudara. Para peninjau juga melayangkan keprihatinan soal potensi masalah integritas data di lokasi uji klinis dan kualitas manufaktur yang dipertanyakan.
Terlepas dari peringatan keras tersebut, Billy Dunn, pejabat tertinggi neurosains FDA kala itu, tetap menyetujui obat tersebut untuk kedua jenis kelamin. Keputusan ini diambil tanpa meminta masukan dari komite penasihat eksternal. Sebagai kompromi, ia mengarahkan agar risiko kanker payudara dicatat pada label produk dan dievaluasi lebih lanjut dalam studi observasional pasca-persetujuan ocrelizumab. Namun, para ahli kini berpendapat bahwa nilai obat ini dalam penanganan PPMS telah dilebih-lebihkan. Studi keamanan terkait risiko kanker payudara pun baru dijadwalkan rilis pada akhir 2030. Ini seperti memesan menu andalan tanpa tahu kapan bahan utamanya akan matang.
Antara Harapan Palsu dan Kekhawatiran Nyata
Beberapa pihak berpendapat, tanpa data kuat yang menopang penggunaan jangka panjang, persetujuan seharusnya dibatasi untuk penggunaan jangka pendek pada pasien yang terbukti merespons positif. Manfaat obat ini untuk PPMS pun terlihat terbatas pada pasien dengan penyakit aktif. Ini ibarat membeli tiket konser tanpa jaminan artis favorit akan tampil, hanya harapan.
Roche, sang produsen, tak tinggal diam. Mereka membela keamanan dan manfaat jangka panjang obatnya, mengutip data yang belum dipublikasikan yang diklaim membantah perbedaan berbasis gender sebelumnya. Kepada The BMJ, perusahaan menyatakan terus memantau kasus keganasan, termasuk kanker payudara, dan analisis mereka “tidak menunjukkan sinyal atau kekhawatiran keamanan baru.” Namun, mereka enggan membagikan data kanker payudara interim dengan alasan embargo publikasi. Semacam menyimpan kartu truf sampai saat yang tepat, atau mungkin sampai masalahnya mereda.
Menariknya, setelah persetujuan ocrelizumab pada tahun 2017, Dunn kabarnya mengawasi dua persetujuan obat Alzheimer yang juga kontroversial. Ada aducanumab di tahun 2021, yang diloloskan meski ada penolakan dari peninjau, pengunduran diri, dan investigasi kongres yang menemukan proses FDA “penuh dengan kejanggalan.” Lalu, lecanemab di tahun 2023, di tengah kekhawatiran akan keseimbangan manfaat dan risiko yang tidak dapat diterima. Ini seperti daftar panjang “penyelamat” yang justru menimbulkan lebih banyak tanda tanya daripada jawaban.
Dunn sendiri meninggalkan FDA pada tahun 2023 untuk bergabung dengan Prothena, sebuah perusahaan biotek yang sedang mengembangkan pengobatan Alzheimer. Keputusannya ini menambah lapisan misteri pada keseluruhan skenario. Kepergiannya dari lembaga yang seharusnya menjadi benteng terakhir keamanan obat publik menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang dinamika internal dan tekanan yang dihadapi para pengambil keputusan. Ini bukan sekadar pindah kantor; ini seperti koki bintang lima yang tiba-tiba resign di tengah jam makan malam.
Sistem yang Dipertanyakan
Persetujuan ocrelizumab untuk PPMS, serta aducanumab dan lecanemab setelahnya, semuanya di bawah program FDA yang ditujukan untuk obat dengan potensi mengatasi “kebutuhan medis yang belum terpenuhi,” memunculkan pertanyaan fundamental tentang apakah sistem ini benar-benar bekerja sesuai fungsinya. Ketika harapan bertemu realitas yang berliku, kejanggalan demi kejanggalan muncul ke permukaan, membuat publik bertanya-tanya siapa sebenarnya yang dilindungi oleh lembaga regulator ini.
Proses persetujuan obat di Amerika Serikat memang kompleks, dirancang untuk menyeimbangkan kebutuhan mendesak akan terapi baru dengan keharusan untuk memastikan keamanan dan efikasi. Namun, kasus ocrelizumab, aducanumab, dan lecanemab menunjukkan adanya potensi keretakan dalam sistem tersebut. Kritikus berpendapat bahwa tekanan komersial dan keinginan untuk menunjukkan kemajuan dapat mengaburkan penilaian objektif, terutama ketika data awal menunjukkan adanya bendera merah. Ini seperti seorang wasit yang terpengaruh sorakan penonton, mengabaikan pelanggaran yang jelas.
Perdebatan seputar ocrelizumab menyoroti dilema yang dihadapi regulator: kapan harus bersikap tegas terhadap potensi risiko, dan kapan harus memberikan kesempatan pada obat yang mungkin menawarkan harapan, meskipun datanya belum sepenuhnya meyakinkan? Keputusan untuk meloloskan obat tanpa panduan komite penasihat eksternal, seperti yang dilakukan Dunn, menjadi titik fokus kritik. Keputusan semacam ini sering kali memicu kekhawatiran tentang kurangnya pengawasan independen dan kemungkinan bias dalam proses pengambilan keputusan. Ini seperti memutuskan menu makan malam keluarga tanpa bertanya pendapat anak-anak.
Perusahaan farmasi, di sisi lain, memiliki tanggung jawab untuk menyajikan data yang akurat dan transparan. Sikap Roche yang menolak membagikan data interim kanker payudara, meskipun dengan alasan embargo publikasi, bisa jadi menimbulkan skeptisisme lebih lanjut. Dalam dunia di mana kepercayaan publik sangat penting, transparansi bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. Kegagalan untuk memenuhi standar transparansi ini dapat merusak reputasi perusahaan dan kepercayaan pasien terhadap obat-obatan yang mereka konsumsi.
Studi observasional jangka panjang memang penting untuk memahami efek penuh dari obat-obatan ini, namun menunda pengakuan risiko potensial hingga bertahun-tahun setelah persetujuan awal menimbulkan pertanyaan etis. Pasien berhak mengetahui semua informasi yang relevan tentang obat yang mereka gunakan. Ketika data keamanan yang krusial tertunda begitu lama, seolah-olah meminta pasien untuk menjadi kelinci percobaan tanpa perlengkapan pelindung yang memadai. Penundaan ini juga memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk terus meraup keuntungan dari obat yang mungkin memiliki cacat fundamental, sebelum data negatif benar-benar terungkap.
Kasus ocrelizumab dan obat-obatan lain yang disetujui di bawah program FDA untuk kebutuhan medis yang belum terpenuhi, menggarisbawahi perlunya evaluasi berkelanjutan terhadap kerangka kerja regulasi. Apakah program-program ini memberikan insentif yang tepat, atau justru membuka celah bagi persetujuan obat yang kurang teruji? Jawabannya mungkin tidak sederhana, tetapi pertanyaan ini harus diajukan secara terus-menerus agar sistem kesehatan publik tidak kehilangan arahnya.
Pada akhirnya, tragedi potensial dari persetujuan obat yang cacat bukan hanya soal kerugian finansial atau reputasi perusahaan. Ini adalah soal kesehatan dan nyawa pasien yang menjadi taruhan. Ketika keraguan muncul dari dalam sistem itu sendiri, dan ketika peringatan diabaikan demi keuntungan atau ambisi, maka seluruh fondasi kepercayaan publik terhadap otoritas kesehatan publik bisa runtuh. Pertanyaan yang menggantung adalah: seberapa banyak lagi “kejanggalan” yang diperlukan sebelum sistem ini diperbaiki secara fundamental?


