Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Onimusha: Way of the Sword – Kebangkitan Legenda Samurai

Hidup ini penuh drama, tapi Onimusha: Way of the Sword – Petualangan Klasik yang Lebih _Edgy_ dari Mantanmu! Sebuah janji manis hadir dari Capcom untuk para penggemar aksi yang mendambakan sensasi pedang legendaris. Bagi mereka yang hanya bisa mengagumi serial Onimusha dari kejauhan di masa keemasannya, entri modern ini menawarkan kesempatan emas untuk terjun langsung ke dunia iblis Genma, lengkap dengan _vibes_ pertarungan yang terasa akrab sekaligus segar.

## Dari Jauh Tampak Indah, Dari Dekat Bikin Nagih: Mengenal “Way of the Sword”

Onimusha: Way of the Sword dirancang sebagai gerbang baru bagi pendatang. Pengembangnya telah memadukan _combat cues_ dari game-game kontemporer, namun berhasil mempertahankan nuansa khas era game aksi 2000-an. Kesan pertama dari demo yang bisa dimainkan di kantor Capcom San Francisco, meskipun singkat, telah meninggalkan optimisme tinggi. Ini bukan hanya sekadar game, melainkan sebuah ekspedisi iblis yang menjanjikan ketegangan sekaligus keseruan yang tak terduga.

Petualangan dimulai pada fase awal, memperkenalkan protagonis Miyamoto Musashi. Karakter fiksi ini mengambil inspirasi dari pendekar pedang sejarah nyata dan menampilkan kemiripan dengan legenda akting Jepang, Toshiro Mifune. Ia tiba di Kuil Kiyomizu-dera di Kyoto, dengan misi mulia untuk membersihkannya dari invasi Genma, iblis-iblis jahat yang merajalela. Dibekali _Oni gauntlet_ yang kuat—sebuah pusaka yang awalnya tidak diinginkan Musashi—dan katana kesayangannya, ia siap menghadapi tantangan.

Saat Musashi menyusuri jalur pegunungan menuju kuil, para penduduk desa terlihat berlarian ketakutan dari serangan Genma. Momen ini menjadi kesempatan pertama untuk mencoba sistem pertarungan game. Gaya serangan ringan dan berat di Way of the Sword mengingatkan pada judul Capcom terbaru lainnya, Kunitsu-Gami: Path of the Goddess. Meskipun tidak secepat game aksi modern lainnya, nuansa pertarungan jarak dekat ini justru membawa kembali memori game-game aksi tahun 2000-an, era kejayaan Onimusha. Sebagian besar musuh yang ditemui di bagian awal ini berhasil dikalahkan dengan cepat, menunjukkan tingkat kesulitan yang masih sangat mudah dikelola.

Musashi dan para musuh dilengkapi dengan meteran stamina. Menguras energi lawan dengan serangan berturut-turut memungkinkan pelaksanaan gerakan penyelesaian yang disebut serangan Break Issen. Contohnya, Musashi dapat menusuk punggung musuh, kemudian membelahnya menjadi dua dengan tebasan pedangnya. Dari sisi pertahanan, fitur _auto-directional blocking_ Musashi berarti ia bisa bertahan dari segala arah tanpa mempedulikan posisi menghadapnya, asalkan staminanya mencukupi. Namun, kemampuan _parrying_ atau menangkis serangan terasa jauh lebih superior.

_Parrying_ tidak hanya menguras stamina musuh lebih cepat, tetapi juga terlihat dan terasa luar biasa berkat animasi bentrokan pedang yang keren. Aksi ini seringkali memposisikan Musashi di belakang musuh, membuka jendela kesempatan untuk menebas tanpa hambatan. Menekan tombol _parry_ dan segera diikuti dengan menekan X (pada PlayStation) akan mengeksekusi serangan balasan yang kuat, seperti memantulkan anak panah kembali ke penyerangnya.

## Jurus Pedang Lama, _Feeling_ Baru: Ketika Musashi Bertemu _Gauntlet Lady_

_Parrying_ atau menghindar secara berurutan juga membangun meteran khusus: biru untuk _parry_ dan merah untuk _dodge_. Ketika terisi penuh, meteran _parry_ akan menyelimuti pedang Musashi dengan aura biru berkilauan, memungkinkannya mengeksekusi beberapa musuh secara beruntun. Sementara itu, meteran _dodge_ yang penuh akan melepaskan serangan _multi-hit_ yang menghancurkan.

Musuh yang berhasil dikalahkan akan menjatuhkan _soul_ berwarna-warni yang dapat diserap Musashi dengan _Oni Gauntlet_ miliknya. _Soul_ merah berfungsi sebagai mata uang untuk membeli peningkatan, sedangkan _soul_ kuning mengisi kembali kesehatan. _Soul_ biru mengisi _Oni Power Gauge_, yang memungkinkan penggunaan senjata khusus yang disebut _Oni Armaments_. Dalam demo, Musashi memiliki belati kembar bernama _Two Celestials_. Ketika _Oni Power Gauge_ penuh, menekan R1 akan melepaskan serangan bertubi-tubi yang singkat namun kuat. Menyerang dengan _Oni Armaments_ juga mengekstrak _soul_ kuning, menjadikannya sangat efektif untuk menyerap kesehatan saat Musashi terdesak.

Setelah menebas musuh dan mengumpulkan tanaman bernama Hozuki untuk mengisi kantung kesehatannya, Musashi akhirnya mencapai kompleks kuil. Sebuah massa energi gelap tiba-tiba muncul, menyebabkan _Gauntlet_ bereaksi dan menyerapnya. Ini secara dramatis memicu sebuah visi masa lalu. Sebuah prosesi penduduk desa yang menyerupai bayangan berbaris dengan muram menuju platform tinggi kuil, tempat tujuan Musashi, namun untuk tujuan apa? _Oni Gauntlet_ kemudian berbicara kepada Musashi—ya, _gauntlet_ itu bisa berbicara—menjelaskan bahwa massa hitam tersebut adalah konsentrasi kebencian yang diciptakan oleh memori kejam yang sedang disaksikannya. Memurnikan kuil berarti menemukan sumber kegelapan ini.

## Drama Gauntlet Bikin Ngakak, Visi Jahat Bikin Merinding

“Baik, Nona Gauntlet. Cukup sudah,” ujar Musashi dengan nada ketus. Ia mulai mengajukan pertanyaan, tetapi _gauntlet_ itu dengan singkat memotongnya dan menolak pertanyaan lebih lanjut. Ia menolak untuk dipanggil “Nona Gauntlet”, rupanya. Musashi yang kesal memutar matanya dan diam-diam menyerah. Ini adalah pertukaran humor yang kecil namun menarik, dan perkembangan hubungan yang enggan ini sangat dinantikan.

Menyaksikan visi ini juga membuka kemampuan yang disebut _Oni Vision_. Ini memungkinkan Musashi melihat keberadaan iblis di lingkungan yang tidak terlihat oleh mata manusia. Untuk melewati gerbang yang terhalang oleh medan kekuatan supernatural, menekan tombol bahu kiri dan kanan akan mengirimkan denyutan emas, menampakkan tali spektral raksasa. Mengikuti tali tersebut akan mengarahkannya ke makhluk mirip laba-laba yang menggantung di dasar tali. Membunuhnya akan menghilangkan tali, dan medan kekuatan pun lenyap.

## Duel Samurai yang Lebih Asyik dari _Chatting_ Sama Gebetan

Musashi melanjutkan perjalanannya menuju platform tinggi kuil, tempat ia menemukan massa Malice lainnya. Visi kali ini menunjukkan penduduk desa yang tak berdaya menyaksikan tetangga mereka dilemparkan secara paksa dari gedung ke jurang di bawah, termasuk seorang ayah yang mengorbankan putranya meskipun sang anak memohon agar nyawanya diampuni. Adegan mengerikan ini tiba-tiba terganggu oleh serangan mendadak dari Sasaki Ganryu, pendekar pedang lain yang juga penting secara historis dan merupakan rival lama Musashi. Ia juga mengenakan _Oni Gauntlet_ dan terlihat sangat bersemangat untuk menguji kekuatan barunya.

Pertarungan bos yang terjadi adalah duel pedang yang menyenangkan, menguji kehebatan _parrying_ Musashi. Sayangnya bagi Sasaki yang angkuh, Musashi memiliki kontrol yang baik dalam membelokkan serangan. Melawan serangannya menciptakan celah bagi Musashi untuk menebasnya sambil dengan cepat menguras staminanya. Melelahkan Sasaki menciptakan bentuk khusus dari serangan Break Issen di mana Musashi dapat dengan bebas memilih bagian tubuh yang akan diserang, seperti kepala atau anggota tubuhnya. Setiap area diberi kode warna, menunjukkan jenis kerusakan yang akan ditimbulkannya; merah menimbulkan kerusakan ekstra, sementara ungu memberikan _soul_ ekstra. Pertarungan ini, dengan cara ia mendorong dan menghargai _parrying_ yang konstan, mengingatkan pada duel pedang dalam Sekiro: Shadows Die Twice, namun tanpa tingkat kesulitan yang brutal. Musashi mengalahkan Sasaki dengan cepat dan, bisa dibilang, dominan. Meskipun tidak berlangsung lama, pertarungan itu meninggalkan kesan yang kuat.

## _Comeback_ Onimusha: Antara Nostalgia dan Inovasi yang Menggoda

Onimusha: Way of the Sword mengikuti pola “lama-dibuat-baru-lagi” dari beberapa _hit_ terbaru Capcom, seperti Resident Evil dan Kunitsu-Gami. Pada dasarnya, aksi ini menangkap kembali bagaimana genre ini terasa beberapa generasi yang lalu, tetapi sistem _parry_ yang canggih dan _flashy_ terasa cukup modern untuk bersaing dengan sistem serupa di game-game kontemporer. Di dunia di mana genre aksi semakin menjadi sinonim untuk Soulslike, senang rasanya memiliki apa yang tampaknya akan menjadi interpretasi gaya lama yang menyenangkan. Masih harus menunggu hingga 2026 untuk melihat apakah Way of the Sword dapat memulai _renaissance_ serupa untuk Onimusha seperti yang dinikmati Resident Evil dan Monster Hunter, namun prospeknya sejauh ini terlihat sangat menjanjikan.

Previous Post

Knicks: Percikan Poin Tak Terduga usai Investigasi Judi

Next Post

Apple Tuduh Konspirasi Curi Rahasia Watch untuk Oppo

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *