Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Ozzy Osbourne: Josh Homme Puji Sajak Akhir Sang Ikon

Josh Homme Mengupas Kepergian Ozzy Osbourne: Drama Rock ‘n’ Roll Paling Epik yang Bikin Kamu Merasa Nggak Cukup Punya Kuota Internet!

Di era digital yang serba cepat ini, mungkin kita merasa sudah melihat semuanya: mulai dari _battle_ lisan di media sosial hingga drama _reality show_ yang bikin pusing tujuh keliling. Namun, kabar terkini dari dunia musik rock ‘n’ roll membuktikan bahwa drama paling epik justru datang dari para legenda. Josh Homme, _frontman_ Queens of the Stone Age yang karismatik, baru-baru ini berbagi pandangannya mengenai kepergian Ozzy Osbourne, dan ini bukan sekadar obrolan biasa. Ada cerita di baliknya, lengkap dengan bumbu masa lalu dan pandangan filosofis yang layak disimak, bahkan mungkin lebih menarik dari _season finale_ serial favorit yang sedang kamu tonton.

## Ketika Raja Batu Berkomentar tentang Pangeran Kegelapan

Sebelumnya, hubungan Josh Homme dengan keluarga Osbourne memang sempat diwarnai intrik. Homme pernah terang-terangan mengatakan kepada majalah US Blender bahwa tur Ozzfest 2000 adalah “pekerjaan musim panas terburuk” yang pernah ia jalani. Pernyataan pedas itu sukses memicu perselisihan sengit dengan Sharon Osbourne, yang dikenal sebagai manajer sekaligus istri dari _Prince of Darkness_ itu. Sepertinya, di dunia rock, “terburuk” bisa berarti banyak hal, termasuk potensi drama yang tak terduga.

Namun, waktu memang punya cara unik untuk mengubah perspektif. Berbicara kepada Radio X, musisi berusia 52 tahun itu menunjukkan sisi yang lebih dewasa dan anggun saat membahas kepergian Ozzy Osbourne. Homme memberikan penghormatan atas karier sang legenda, termasuk konser perpisahan Ozzy di Birmingham pada 5 Juli, yang menurutnya adalah sebuah akhir yang sangat puitis.

Homme menyampaikan kekagumannya terhadap Ozzy dengan cara yang khas. “Menurut saya, ini adalah akhir karier yang begitu puitis sehingga mata dan telinga tidak bisa berpaling,” ujarnya. Homme bahkan menambahkan bahwa ia bisa menonton Ozzy melakukan “hampir apa saja,” bahkan jika hanya memeras jus jeruk. Baginya, Ozzy adalah seorang “klasik” yang selalu menghadirkan sesuatu yang “lebih dari sekadar jus.”

Kepergian Ozzy, menurut Homme, juga memiliki kesamaan dengan momen perpisahan David Bowie. Bowie dikenal karena merilis album fenomenal _Blackstar_ hanya beberapa hari sebelum kematiannya pada tahun 2016, memberikan sebuah “surat perpisahan” artistik yang mendalam kepada para penggemarnya. Homme melihat kedua peristiwa ini sebagai cara yang “puitis untuk pergi,” sebuah narasi akhir yang kuat dari para ikon musik.

## Menyelami “Catacombs Tour”: Bukan Sekadar Konser Biasa

Sementara itu, band Josh Homme, Queens of the Stone Age (QOTSA), juga sedang sibuk menata panggung untuk babak baru dalam karier mereka. Mereka baru saja mengumumkan jadwal tur “Catacombs Tour” di Inggris dan Eropa, sebuah konsep tur yang tampaknya akan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para penggemar setia. Tur ini bukan hanya sekadar deretan tanggal konser, melainkan sebuah undangan untuk menyelami kedalaman musikal yang berbeda.

“Catacombs Tour” mengikuti jejak film dan album _live_ mereka sebelumnya, “Queens Of The Stone Age: Alive In The Catacombs.” Karya ini mendokumentasikan penampilan epik band tahun lalu di Paris Catacombs, lokasi bawah tanah yang menjadi peristirahatan terakhir bagi lebih dari enam juta jiwa. Bayangkan saja, konser di antara tulang belulang sejarah, pastinya bukan _gigs_ biasa di _venue_ konvensional.

Menurut pernyataan band, “Catacombs Tour” akan menghidupkan kembali semangat pertunjukan bawah tanah yang sublim tersebut. Mereka berjanji akan menyajikan versi lagu-lagu yang “ditata ulang” dan “memutar tombol volume ke kedua arah,” menjanjikan intensitas yang berbeda dari biasanya. Ini adalah janji bahwa setiap malam akan menjadi pengalaman yang unik.

Tur ini juga akan diperkaya dengan “ansambel yang dirakit,” mengisyaratkan bahwa QOTSA tidak datang sendirian. Penambahan elemen musikal ini bertujuan untuk menciptakan “beberapa pertunjukan intim yang unik” yang akan berbeda dari tur QOTSA sebelumnya. Para penggemar bisa mengharapkan sebuah sajian yang lebih dari sekadar penampilan rock biasa.

Jadwal tur QOTSA yang terperinci mencakup berbagai kota ikonik di Eropa. Perjalanan mereka akan dimulai pada 18 November di Teatro Lirico Giorgio Gaber di Milan, Italia. Kemudian, mereka akan melanjutkan petualangan musik ini ke Berlin, Copenhagen, Amsterdam, dan Antwerp, sebelum mencapai puncaknya di Royal Albert Hall yang legendaris di London pada 29 November. Sebuah jadwal yang padat, menjanjikan pengalaman sonik yang memuaskan.

Tak hanya di Eropa, QOTSA juga telah merilis daftar tanggal tur untuk Amerika Utara, menunjukkan skala global dari ambisi musikal mereka. Termasuk di dalamnya adalah Chicago Theatre, Fox Theatre di Detroit, Massey Hall di Toronto, dan Beacon Theatre di New York. Ini menegaskan bahwa band ini siap mengguncang panggung di berbagai belahan dunia dengan konsep tur mereka yang tidak biasa.

Band ini bahkan menganjurkan “pakaian yang sesuai” untuk malam istimewa di teater ini. Entah apa maksudnya, mungkin tidak harus _gothic_ total, tapi yang jelas ini bukan sekadar konser _standing_ dengan kaus band. Ini adalah isyarat bahwa mereka ingin menciptakan atmosfer yang lebih dari sekadar pertunjukan musik, melainkan sebuah acara budaya.

Singkatnya, baik Josh Homme dalam refleksinya tentang Ozzy Osbourne maupun Queens of the Stone Age dengan “Catacombs Tour” mereka, keduanya menunjukkan bagaimana para seniman sejati terus berevolusi dan memberikan makna baru pada seni mereka. Dari penghormatan puitis kepada seorang legenda hingga eksplorasi konsep tur yang inovatif, mereka membuktikan bahwa di dunia rock ‘n’ roll, warisan dan kreativitas tak pernah berhenti berdenyut, bahkan di kedalaman katakombe sekalipun.

Previous Post

Baseus 10-in-1 Charging: Hemat 40%, Setop Pusing Urus Colokan

Next Post

Mantan Presiden Sri Lanka Ditangkap: Karma Korupsi Dana Publik

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *