Siapa bilang metal itu cuma soal distorsi gitar dan lirik setan-setanan? Ternyata, band metal legendaris PARADISE LOST baru saja membuktikan kalau mereka juga punya sentuhan nostalgia yang bikin kita flashback ke era ’90an. Bayangkan, di tengah gempuran musik EDM dan K-Pop, mereka malah asyik re-recording album lama dan terinspirasi dari sana. Ini seperti gamer veteran yang tiba-tiba main game jadul dan merasa lebih tertantang daripada main game AAA.
PARADISE LOST: Dari Neraka ke Nostalgia?
PARADISE LOST, band gothic metal asal Inggris, baru saja merilis album ke-17 mereka, “Ascension”. Sebuah album yang konon katanya terinspirasi dari proses re-recording album “Icon” mereka. Proses ini membawa mereka kembali ke masa muda, saat menulis lagu dengan semangat yang membara. Tapi, apakah ini berarti mereka terjebak dalam nostalgia? Ataukah ini adalah evolusi yang cerdas?
Vokalis Nick Holmes, dalam wawancaranya dengan Rock Hard Greece, mengakui bahwa proses re-recording “Icon” sangat mempengaruhi pendekatan penulisan lagu mereka. “Itu membawa kami kembali ke masa lalu, saat kami masih muda dan penuh semangat,” ujarnya. Ibaratnya, mereka menemukan cheat code lama yang ternyata masih ampuh untuk menaklukkan level baru.
Album “Ascension” diproduseri oleh gitaris Gregor Mackintosh dan di-mixing/mastering oleh Lawrence Mackrory. Sebuah tim solid yang menjanjikan kualitas suara yang mumpuni. Tapi, kualitas suara saja tidak cukup. Apakah “Ascension” mampu menawarkan sesuatu yang baru, atau hanya sekadar pengulangan formula lama?
Menghindari Tren: Jurus Ampuh Para Metalhead Sejati
Di tengah arus musik yang terus berubah, PARADISE LOST memilih untuk tidak peduli dengan tren. Mereka sadar betul bahwa mengikuti tren sama saja dengan bunuh diri. “Kami hanya tidak peduli,” kata Nick Holmes dengan tegas. Sebuah pernyataan yang menggambarkan sikap idealis para metalhead sejati. Mereka lebih memilih untuk menciptakan musik sesuai dengan jati diri mereka, tanpa terpengaruh oleh selera pasar.
Namun, bukan berarti mereka buta terhadap perkembangan zaman. Nick Holmes mengakui bahwa penting untuk tetap memantau selera pasar dan tren musik yang sedang populer. Tujuannya bukan untuk mengikuti tren, melainkan untuk memahami mengapa selera pasar berubah. Ibaratnya, mereka adalah analis pasar yang menyamar sebagai musisi metal. Mereka tahu betul apa yang sedang terjadi di luar sana, tapi tetap setia pada idealisme mereka.
‘Ascension’: Antara ‘Shades of God’ dan ‘Icon’ dengan Sentuhan Masa Kini
Gregor Mackintosh, gitaris PARADISE LOST, menambahkan bahwa album “Ascension” memiliki nuansa yang kental dengan era “Shades of God” dan “Icon”. Proses re-recording “Icon” membawa Mackintosh kembali ke era ’92-’93, yang sangat mempengaruhi proses penulisan lagu untuk album ini. Lebih dari separuh album ini bernuansa era tersebut, namun dengan sentuhan masa kini.
Mackintosh juga menampik anggapan bahwa PARADISE LOST telah “kembali ke akar” death/doom mereka. Menurutnya, album “The Plague Within” (2015) adalah awal mula kembalinya mereka ke akar tersebut. Setelah itu, mereka mencoba untuk menggali semua pengaruh dari masa lalu dengan cara yang berbeda. “Medusa” (2017) lebih bernuansa sludgy, sedangkan “Obsidian” (2020) lebih bernuansa gothic. “Ascension”, dengan inspirasi dari “Icon”, mencoba untuk menggabungkan semua elemen tersebut.
Inspirasi dari musik sendiri? Menurut Mackintosh, bukan itu masalahnya. Lebih tepatnya, proses re-recording “Icon” membawa mereka kembali ke pola pikir dan pengaruh masa lalu. Mereka kembali merenungkan makna nama “Paradise Lost”, tema-tema religius yang berlebihan (padahal mereka semua atheis), dan gaya bermusik yang unik.
Ketika Musisi Metal Jadi Kritikus Terpedas untuk Diri Sendiri
Satu hal yang menarik dari PARADISE LOST adalah sikap kritis mereka terhadap karya sendiri. Nick Holmes mengakui bahwa mereka adalah kritikus terpedas untuk diri sendiri. “Tidak ada yang mengkritik seperti yang kami lakukan,” ujarnya. Ini menunjukkan bahwa mereka sangat perfeksionis dan tidak mudah puas dengan hasil yang ada. Mereka adalah standar emas untuk diri mereka sendiri.
Sikap kritis ini menjadi semacam saringan. Jika sebuah lagu berhasil melewati saringan ini, maka ada kemungkinan lagu tersebut akan disukai oleh publik. Tapi, tentu saja, tidak ada jaminan. “Anda tidak pernah tahu,” kata Holmes. Sebuah pernyataan yang jujur dan realistis. Mereka sadar betul bahwa selera musik itu subjektif, dan tidak semua orang akan menyukai musik mereka.
The Court of Death: Visualisasi Kelam untuk Soundscape yang Gelap
Cover album “Ascension” menampilkan lukisan “The Court Of Death” (1870-1902) karya George Frederic Watts. Lukisan ini menggambarkan kematian sebagai malaikat yang bertahta, dikelilingi oleh figur-figur alegoris. Seorang prajurit menyerahkan pedangnya, seorang bangsawan menyerahkan mahkotanya. Lukisan ini menggambarkan bahwa status duniawi tidak memberikan perlindungan apa pun di hadapan kematian.
Visualisasi yang kelam ini sangat cocok dengan soundscape “Ascension” yang gelap dan penuh siksaan. Bait-bait yang melankolis berpadu dengan riff-riff yang suram dan penuh firasat buruk. Sebuah kombinasi yang menjanjikan pengalaman mendengarkan yang intens dan menggugah.
PARADISE LOST: Tetap Relevan di Tengah Gempuran Tren?
Dengan album “Ascension”, PARADISE LOST membuktikan bahwa mereka masih relevan di tengah gempuran tren musik modern. Mereka tidak terjebak dalam nostalgia, namun juga tidak berusaha untuk menjadi kekinian dengan cara yang dipaksakan. Mereka tetap setia pada jati diri mereka, sambil terus bereksplorasi dan berinovasi. Mereka adalah contoh band metal yang berhasil menjaga eksistensi mereka selama lebih dari tiga dekade. Sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.


