Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Pengetahuan Adat: Dialog Ottawa Membentuk Kerangka Kerja Kesehatan Global WHO yang Inklusif

Bayangkan begini: dunia lagi sibuk ngurusin bumi yang makin panas, eh, ada sekelompok orang malah asyik ngobrolin resep jamu sama dukun. Kedengarannya absurd? Nggak juga, sih. Ternyata, obrolan ini penting banget buat masa depan kesehatan global dan kelestarian alam. Mereka nggak lagi bahas “back to nature” ala-ala, tapi integrasi kearifan lokal dengan sains modern. Serius, ini bukan sinetron kolosal.

Ketika Kearifan Lokal Naik Meja Bundar: Bukan Sekadar Obrolan Warung Kopi

Awal Oktober 2025, di University of Ottawa, Kanada, terjadi sebuah dialog unik. Bukan sekadar tukar pikiran, tapi fondasi untuk kolaborasi global yang lebih inklusif. Namanya saja sudah bikin penasaran: ‘Ottawa Dialogue on Traditional Knowledge, Biodiversity and Health: Restoring Trust, Strengthening Partnerships, and Advancing Indigenous-Led Pathways’. Panjang, ya? Intinya, mereka membahas bagaimana pengetahuan tradisional, keanekaragaman hayati, dan kesehatan saling terkait erat. Lebih penting lagi, bagaimana masyarakat adat bisa memegang kendali dalam percakapan global ini.

Pertemuan ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa. Ada 25 peserta yang hadir, mulai dari tetua adat, pemegang pengetahuan, pemimpin komunitas, peneliti, pembuat kebijakan, praktisi medis, sampai perwakilan PBB. Mereka semua duduk bersama, membahas isu-isu krusial yang selama ini seringkali diabaikan. WHO (World Health Organization), bersama dengan Indigenous Peoples’ Centre for Documentation, Research and Information (Docip), the Ărramăt Project, dan Tinhinan Canada Association, menjadi tuan rumah acara ini. Tujuannya jelas: merumuskan Kerangka Kerja WHO tentang Pengetahuan Adat, Keanekaragaman Hayati, dan Kesehatan.

Dialog ini juga bertepatan dengan peringatan 10 tahun Laporan Akhir Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada. Jadi, diskusi nggak cuma soal kesehatan dan lingkungan, tapi juga soal kebenaran, keadilan restoratif, dan keterlibatan yang berbasis hak. Elder Claudette Commanda, seorang tetua Algonquin Anishinaabe dan Rektor University of Ottawa, membuka acara dengan pengakuan tanah, pemberkatan seremonial, dan refleksi. Pesannya jelas: pengetahuan adat harus dilindungi, bukan disalahgunakan.

WHO Ikut Nimbrung: Bukan Sekadar Jadi Penonton

Cristina Romanelli, WHO Biodiversity and Health Focal Point, menegaskan bahwa peran WHO dalam dialog ini adalah untuk mendukung kepemimpinan masyarakat adat dalam proses ko-kreasi. Mereka hadir untuk mendengarkan, belajar, dan berjalan bersama mitra adat, merancang Kerangka Kerja yang akan menjadi cetak biru untuk keterlibatan yang saling menghormati di seluruh tujuh wilayah sosio-kultural. Singkatnya, WHO nggak mau cuma jadi penonton, tapi ikut terlibat aktif dalam proses ini.

Dalam pembukaan tingkat tinggi, presentasi dari para pemimpin First Nations, Inuit, dan Métis menetapkan panggung untuk pilar inti Kerangka Kerja: kepercayaan, timbal balik, persetujuan bebas, didahulukan, dan diinformasikan (FPIC), kesetaraan, dan pemahaman holistik tentang kesehatan dan keanekaragaman hayati yang berakar pada hak-hak dan pandangan dunia masyarakat adat. Ini bukan sekadar jargon, tapi prinsip-prinsip yang akan memandu seluruh proses.

Kearifan Lokal vs. Sains Modern: Bukan Pertarungan, Tapi Kolaborasi Epik

Selama dua hari, para peserta berbagi perspektif yang berakar pada pengalaman hidup dan realitas komunitas, membentuk fondasi normatif, operasional, dan hukum Kerangka Kerja. Para pembicara menghubungkan kesehatan tanah, air, keanekaragaman hayati, dan manusia, serta bagaimana semua itu tidak terpisahkan dari kesehatan dan kesejahteraan. Mereka juga menekankan bagaimana, di seluruh pandangan dunia masyarakat adat, kesehatan dan keanekaragaman hayati tidak terpisahkan dari wilayah dan pengelolaan.

Mereka juga menekankan kedaulatan data adat, kesetaraan antar generasi dan gender, keamanan budaya, dan sentralitas sistem pengetahuan, budaya, bahasa, dan metodologi adat sebagai prinsip utama Kerangka Kerja. Diskusi juga menyoroti pembentukan Badan Subsidi Konvensi Keanekaragaman Hayati tentang Pasal 8(j) dan Program Kerja terkait, sebagai langkah bersejarah yang memusatkan kepemimpinan masyarakat adat dalam agenda keanekaragaman hayati.

Dr. Geetha Krishnan, seorang dokter Ayurvedic dan Petugas Teknis WHO, menjelaskan bahwa WHO Global Traditional Medicine Centre didirikan untuk mengkatalisasi kebijaksanaan leluhur bersama dengan sains modern untuk kesehatan manusia dan planet, dengan alur kerja khusus tentang keanekaragaman hayati, masyarakat adat, dan pengetahuan tradisional. Dia menegaskan kembali bahwa masyarakat adat adalah pemegang hak dan bahwa rasa hormat, timbal balik, dan FPIC harus memandu ko-desain Kerangka Kerja WHO yang baru.

Kenapa Ini Penting Buat Kita? Lebih dari Sekadar Gaya Hidup Sehat

Mungkin ada yang bertanya, “Apa urusannya sama kita?” Jelas ada. Pertama, ini soal pengakuan terhadap hak-hak masyarakat adat. Mereka bukan cuma objek penelitian, tapi subjek yang berhak menentukan arah pembangunan. Kedua, ini soal keberlanjutan. Pengetahuan tradisional seringkali menyimpan solusi untuk masalah lingkungan yang kita hadapi saat ini. Ketiga, ini soal kesehatan. Integrasi pengobatan tradisional dan modern bisa memberikan pendekatan yang lebih holistik dan personal.

“Tradisional” Itu Nggak Selalu Kuno: Justru Bisa Jadi Kunci Masa Depan

Banyak yang salah kaprah menganggap tradisional itu kuno dan nggak relevan. Padahal, di balik kesederhanaannya, pengetahuan tradisional menyimpan kearifan yang teruji oleh waktu. Coba bayangkan, nenek moyang kita dulu bisa hidup selaras dengan alam tanpa merusak lingkungan. Mereka tahu betul bagaimana memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Nah, pengetahuan inilah yang perlu kita gali dan integrasikan dengan sains modern.

Membongkar Mitos: Pengetahuan Adat Bukan Sekadar Mitos dan Legenda

Selama ini, pengetahuan adat seringkali dianggap sebagai mitos dan legenda belaka. Padahal, di balik cerita-cerita itu, tersimpan observasi empiris dan pemahaman mendalam tentang alam. Misalnya, pengetahuan tentang tanaman obat. Masyarakat adat sudah berabad-abad menggunakan tanaman tertentu untuk mengobati berbagai penyakit. Sekarang, para ilmuwan mulai meneliti kandungan kimia tanaman-tanaman tersebut dan membuktikan khasiatnya secara ilmiah.

Kolaborasi: Ketika Sains dan Kearifan Lokal Saling Melengkapi

Integrasi pengetahuan tradisional dan sains modern bukan berarti meniadakan salah satunya. Justru, keduanya saling melengkapi. Sains memberikan landasan ilmiah yang kuat, sementara pengetahuan tradisional memberikan konteks budaya dan pengalaman praktis. Kolaborasi ini bisa menghasilkan solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan untuk masalah kesehatan dan lingkungan.

Intinya, dialog di Ottawa ini bukan cuma sekadar obrolan basa-basi. Ini adalah langkah awal menuju kolaborasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Hasil dari dialog ini akan menjadi masukan untuk draf Kerangka Kerja WHO tentang Pengetahuan Adat, Keanekaragaman Hayati, dan Kesehatan, yang akan dibagikan kepada masyarakat adat di tujuh wilayah sosio-kultural pada pertemuan pertama Badan Subsidi Konvensi Keanekaragaman Hayati tentang Pasal 8(j) (27–30 Oktober 2025, Panama) dan pada KTT Global WHO tentang Pengobatan Tradisional kedua (17–19 Desember 2025, India).

Masa Depan Kesehatan Global: Bukan Cuma Vaksin dan Obat-obatan Canggih

Jadi, bisa dibilang, masa depan kesehatan global nggak cuma soal vaksin dan obat-obatan canggih. Tapi juga soal bagaimana kita menghargai dan memanfaatkan kearifan lokal yang sudah ada sejak dulu. Ini bukan soal kembali ke masa lalu, tapi soal membangun masa depan yang lebih baik dengan menggabungkan yang terbaik dari kedua dunia. Siapa tahu, resep jamu nenek moyang kita bisa jadi solusi untuk penyakit modern yang belum ada obatnya.

Mungkin terdengar klise, tapi bumi ini cuma satu-satunya yang kita punya. Kalau kita nggak menjaganya, siapa lagi? Dan menjaga bumi bukan cuma soal mengurangi emisi karbon atau mendaur ulang sampah. Tapi juga soal menghargai kearifan lokal dan melibatkan masyarakat adat dalam setiap keputusan yang kita buat. Karena pada akhirnya, kesehatan bumi dan kesehatan manusia itu saling terkait erat.

Previous Post

Apple: Analis Wall Street Bilang Saham Mahal, Optimisme Sudah Kelewatan?

Next Post

Pokemon Legends: Z-A Picu Yuri Panic, Game Freak Sengaja Goda Fans?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *