Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Pepsi Gagal Ngebut? Kisah Concorde Biru yang Bikin Rugi Jutaan Dolar

Di era 90-an, Pepsi memasuki zona *ora penak*. Bayangkan, Coke, si raja soda, dengan santainya menguasai pasar. Tapi, tim Pepsi nggak terima nasib begitu saja. Mereka launching “Project Blue,” sebuah rebranding gila-gilaan senilai 500 juta dolar! Pertanyaannya, seberapa jauh kegilaan ini?

Dari Kaleng Biru ke Langit Biru: Transformasi Pepsi yang Bikin Geleng-Geleng Kepala

Kalau kamu bukan pakar sejarah branding Pepsi, tebak aja deh fokus kampanye ini: Biru! Bukan sodanya yang berubah warna, meski beberapa tahun kemudian Pepsi beneran bikin soda biru. Kali ini, yang kena transformasi adalah brandingnya. Logo lingkaran merah, putih, biru tetap ada, tapi background putihnya diganti biru royal yang sekarang kita kenal. Nggak cuma kaleng, tapi juga… pesawat Concorde!

Air France menang tender untuk mengoperasikan Pepsi Concorde. Proses pengecatannya dilakukan secara rahasia di Paris, lalu dipamerkan di London dengan gegap gempita. Maklum, ini kan peluncuran kaleng biru Pepsi pertama. Acara ini kabarnya menelan biaya sekitar 5 juta dolar, menampilkan pertunjukan cahaya, supermodel naik motor, dan tentu saja, Concorde biru. Sayangnya, biru royal ternyata bukan warna yang ideal untuk pesawat supersonik.

Concorde itu spesial di dunia penerbangan komersial. Pesawat supersonik komersial pertama yang sukses, bisa melaju dengan kecepatan Mach 2.04 (dua kali kecepatan suara), atau sekitar 2.518 km per jam. Dengan kecepatan itu, penerbangan New York ke London cuma butuh waktu kurang dari tiga jam. Tapi, untuk mencapai kecepatan itu, pesawat ini beroperasi di batas maksimal. Dan ternyata, warna cat pesawat berpengaruh signifikan pada performanya.

Kenapa Concorde Pepsi Nggak Secepat Kilat? Fisika, Bro!

Biasanya, Concorde dicat putih, karena warna putih lebih efektif membuang panas. Saat melaju supersonik, gesekan dengan udara menghasilkan panas yang bisa bikin suhu hidung pesawat mencapai 100 derajat Celcius, dan badan pesawat 90 derajat Celcius. Cat putih khusus membantu membuang panas ini. Tapi, Pepsi Concorde? Beda cerita. Hasilnya, penurunan performa yang signifikan.

Akibat perubahan warna badan pesawat, Concorde Pepsi disarankan untuk tidak terbang dengan kecepatan maksimal lebih dari 20 menit. Meski begitu, pesawat ini masih bisa melaju dengan kecepatan Mach 1.7 tanpa batas waktu. Itu masih 2.092 km per jam, atau dua kali lebih cepat dari pesawat komersial modern. Air France memilih rute yang lebih pendek untuk Concorde Pepsi, yang nggak akan mencapai kecepatan maksimal, jadi masalah kecepatan bukan isu utama.

Jadi, bisa dibilang, Pepsi rela mengorbankan sedikit performa demi branding yang cetar membahana. Ibarat kata, demi konten, rela deh internet lemot dikit. Tapi, ini bukan satu-satunya petualangan Pepsi di dunia penerbangan.

Pepsi di Angkasa: Dari Iklan di Luar Angkasa Sampai Nyaris Punya Jet Tempur

Nggak lama setelah Concorde diluncurkan, Pepsi merilis iklan pertama yang syutingnya di luar angkasa. Kosmonaut di stasiun luar angkasa Mir memamerkan replika kaleng Pepsi setinggi 1,2 meter saat jalan-jalan di luar angkasa. Biaya aksi ini nggak jelas, sumbernya bilang antara 5 juta hingga 300 juta dolar (kayaknya sih yang terakhir agak lebay).

Pepsi juga sempat bikin heboh dengan promosi berbau penerbangan. Mereka memperkenalkan Pepsi Points, sistem hadiah di mana pelanggan bisa mengumpulkan label dan menukarkannya dengan merchandise Pepsi. Hadiahnya standar, topi dan kaos misalnya, bisa ditukar dengan 60 dan 75 Pepsi Points. Tapi, di daftar teratas, ada jet tempur Harrier seharga 7 juta Pepsi Points. Ini jelas bercanda.

Tapi, kejutan! Ada yang beneran ngumpulin poin sebanyak itu! Sebuah celah memungkinkan Pepsi Points dibeli seharga 0,10 dolar per poin. Artinya, 7 juta poin cuma seharga 700 ribu dolar. Murah banget kan? Tapi, tunggu dulu. Jet tempur Harrier harganya 23 juta dolar! Tetep aja nggak kebeli. Sayangnya, meski ada orang bernama John Leonard yang berhasil mengumpulkan poin, Pepsi berhasil menghindar dari kewajiban di pengadilan.

Sejak itu, Pepsi lebih memilih branding yang lebih masuk akal, kayak masang logo di badan pesawat komersial biasa. Tapi, dengan Pepsi yang berencana menghidupkan kembali perang cola di 2025, siapa tahu kegilaan apa lagi yang bakal terjadi di udara?

Pelajaran dari Pepsi: Branding Itu Penting, Tapi Jangan Sampai Bikin Pesawat Nggak Bisa Terbang

Dari kisah Pepsi ini, kita bisa belajar bahwa branding itu penting banget. Tapi, jangan sampai kebablasan. Jangan sampai demi branding, performa jadi korban. Ibarat kata, jangan sampai demi konten viral, etika jurnalistik dilanggar. Atau, jangan sampai demi followers banyak, harga diri dijual murah.

Pepsi Concorde mungkin nggak secepat kilat seperti Concorde lainnya. Tapi, kehadirannya jadi bukti bahwa Pepsi berani keluar dari zona nyaman. Mereka berani melakukan hal gila demi merebut perhatian pasar. Dan meski kadang gagal, mereka tetap dikenang sebagai salah satu merek yang paling inovatif. Gimana, tertarik bikin gebrakan kayak Pepsi?

Previous Post

Kode Racket Rivals Terbaru: Dapatkan Spin Gratis dan Yen untuk Update 2025!

Next Post

Faith No More Bubar? Roddy Bottum Ungkap Kemungkinan Reunifikasi yang Suram

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *