Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Pesan Terenkripsi Bukan Lagi Aman: Hati-hati Disadap Negara Kerdil

Mulai dari politisi kelas kakap sampai jurnalis investigasi yang getol bongkar borok, semuanya kini jadi incaran empuk para peretas berkedok negara. Lupakan dulu soal “panggilan tak terjawab” atau “promo SMS berhadiah”, ancaman yang mengintai kini jauh lebih canggih: serangan social engineering yang menargetkan aplikasi pesan terenkripsi macam Signal, WhatsApp, dan Messenger. Ibarat rumah aman yang jendelanya dibobol bukan karena kuncinya jelek, tapi karena penghuninya ditipu agar membukakan pintu lebar-lebar. Ngeri, bukan?

Ketika Duta Besar Jadi Sasaran Empuk

Badan Keamanan Siber Nasional Inggris, atau yang akrab disapa NCSC, sudah berulang kali berteriak kencang. Targetnya? Bukan sembarang orang. Politikus, akademisi, jurnalis, dan para pengacara yang gemar bersidang adalah kelompok paling berisiko. Mengapa? Karena mereka punya informasi yang konon katanya bisa menggoyang dinasti atau memicu kerusuhan kelas kakap. Negara-negara adidaya, dengan jet darat dan kapal selamnya, kini mengalihkan fokus dari perang fisik ke perang siber, menggunakan hacker bayaran untuk merangsek masuk ke percakapan terenkripsi.

China, dengan ambisi globalnya, tak segan menggunakan taktik ini. Begitu pula dinas intelijen Rusia, FSB, yang rekam jejaknya dalam meretas email terenkripsi mantan petinggi MI6 sudah jadi rahasia umum. Iran, melalui Garda Revolusi Islam (IRGC), juga tak mau ketinggalan dalam arena spionase digital ini. Semua berlomba-lomba mencuri data atau sekadar memata-matai lawan potensial mereka, dan aplikasi pesan yang dikira aman ternyata jadi medan pertempuran baru.

Peringatan NCSC ini bukanlah tanpa dasar. Google Threat Intelligence Group di bulan Februari lalu sudah lebih dulu menyuarakan kekhawatiran serupa. Kelompok-kelompok yang didukung negara Rusia dilaporkan semakin gencar mengincar akun Signal milik individu yang dianggap “menarik” bagi badan intelijen mereka. Signal, yang selama ini diagungkan karena tingkat keamanannya, kini justru jadi target utama karena semakin banyak digunakan oleh mereka yang punya data sensitif.

Teknik yang digunakan para peretas ini sungguh licik. Alih-alih mencoba membobol enkripsi yang terkenal kuat, mereka lebih memilih jalan pintas: menipu penggunanya. Tujuannya jelas, agar target mau menghubungkan akun Signal atau aplikasi pesan lainnya ke perangkat yang sudah dikendalikan oleh peretas. Sekali terhubung, semua pesan yang masuk dan keluar bisa dibaca tanpa ampun. Ini seperti menyuruh penjaga rumah untuk memasang CCTV di setiap sudut tanpa disadarinya.

Jejak Digital Para Pemburu Berita

Para jurnalis investigasi, yang seringkali berada di garis depan pengungkapan kasus-kasus panas, menjadi sasaran empuk dalam serangan phishing yang terjadi akhir Januari lalu. Stefania Maurizi, seorang jurnalis asal Italia yang tengah menggarap investigasi terkait aktivitas US Immigration and Customs Enforcement (ICE), angkatan bersenjata Israel, dan kepolisian Italia, menjadi salah satu korban. Ia menerima pesan yang mengaku sebagai pembaruan aplikasi Signal, sebuah taktik klasik yang dirancang untuk memancing rasa ingin tahu.

“Karena saya sudah bertahun-tahun berkecimpung dengan WikiLeaks dan dokumen Snowden, saya sadar betul bahwa jurnalis adalah target,” ungkapnya. Cek singkat di ponselnya membuktikan, tidak ada pembaruan aplikasi Signal yang tersedia saat itu. Ini adalah tanda bahaya yang jelas, namun banyak pengguna yang mungkin tidak terlalu teliti.

Nahasnya, beberapa hari kemudian, Maurizi kembali dikejar pesan serupa. Kali ini, pesan tersebut datang dari “chatbot dukungan keamanan Signal”, sebuah entitas fiktif yang sengaja diciptakan untuk menambah kesan otentik. Ketidakberadaan layanan semacam itu seharusnya menjadi petunjuk besar, namun dalam kepanikan atau rasa penasaran, seseorang bisa saja terjebak.

Pesan phishing yang diterima Stefania Maurizi

Peretas Rusia rupanya memanfaatkan fitur “perangkat tertaut” (linked devices) yang ada di Signal. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk mengakses akun Signal dari beberapa perangkat secara bersamaan. Para penyerang mengirimkan kode QR berbahaya yang disamarkan sebagai pesan Signal resmi. Jika target lengah dan memindai kode tersebut, akun Signal mereka akan ikut terhubung ke perangkat peretas. Konsekuensinya, semua pesan yang dikirim dan diterima akan terkirim ganda, satu ke perangkat target, satu lagi ke perangkat penyerang, memungkinkan mereka menguping percakapan rahasia tanpa perlu repot membobol perangkat korban secara langsung.

Menanggapi ancaman ini, NCSC memberikan saran berharga bagi individu yang berisiko. Pertama, hindari berbagi informasi sensitif melalui aplikasi pesan, meskipun ini mungkin sulit dilakukan. Kedua, aktifkan otentikasi dua faktor di Signal, serta gunakan passkeys jika tersedia. Selalu periksa daftar perangkat yang tertaut ke akun pesan, tinjau keanggotaan grup diskusi, dan jangan ragu untuk menghapus atau memverifikasi peserta yang mencurigakan. Menggunakan fitur pesan menghilang (disappearing messages) juga bisa menjadi lapisan pertahanan tambahan yang efektif.

FSB dan Penggemar Brexit yang Celaka

Kisah serupa terkuak pada tahun 2022 ketika sebuah kelompok peretas yang terafiliasi dengan FSB Rusia, yang dikenal dengan berbagai nama seperti Coldriver, Seaborgium, Callisto, dan yang terbaru Star Blizzard, berhasil meretas dan membocorkan email serta dokumen milik mantan petinggi MI6. Tidak hanya itu, kelompok ini juga menyasar anggota jaringan sayap kanan yang getol memperjuangkan hard Brexit ekstrem. Serangan ini tak pandang bulu, menyasar jurnalis, anggota parlemen, dan organisasi non-pemerintah di Inggris.

Peneliti dari universitas terkemuka seperti Bristol, Cambridge, dan Edinburgh, termasuk almarhum Profesor Ross Anderson yang merupakan pionir dalam rekayasa keamanan, pada tahun 2023 telah menerbitkan riset yang mengungkap kerentanan versi desktop Signal dan WhatsApp. Mereka memperingatkan bahwa jika perangkat desktop ini diakses oleh penjaga perbatasan atau aktor jahat, semua pesan di masa depan dapat terbaca. Ini menyiratkan bahwa keamanan aplikasi pesan yang terintegrasi dengan perangkat desktop perlu mendapatkan perhatian lebih serius.

Bahkan di tahun lalu, Microsoft turut memberikan peringatan mengenai kelompok peretas yang terkait dengan Rusia, yang dijuluki Storm-2372. Kelompok ini dilaporkan secara spesifik menargetkan pengguna WhatsApp, Signal, dan Microsoft Teams. Taktik mereka adalah membangun hubungan baik dengan korban terlebih dahulu, sebelum kemudian mengirimkan undangan untuk acara atau rapat daring melalui email phishing. Skema ini sangat berbahaya karena memanfaatkan kepercayaan yang telah terbangun, membuat korban lebih mudah terjerat.

Previous Post

Akali Gebrak 2XKO: Si Pembunuh Lincah Datang Menyerbu!

Next Post

Asuransi Foster: Bantuan Berkilah untuk Anak Kanker, Bukannya Solusi Nyata

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *