Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Phil Campbell: Gitaris Motörhead yang Tak Pernah Lelah Menggebrak Panggung

Ketika kabar duka datang dari pentas musik rock, rasanya seperti ada ampere yang mendadak padam di panggung dunia. Phil Campbell, gitaris legendaris Motörhead yang sudah malang melintang selama tiga dekade lebih, telah berpulang. Konfirmasi datang dari bandnya, Phil Campbell and the Bastard Sons, pada 14 Maret lalu. Disebutkan bahwa Campbell ‘meninggal dengan tenang setelah perjuangan panjang dan berani di unit perawatan intensif pasca operasi besar yang kompleks.’ Usianya baru menginjak 64 tahun. Pernyataan resmi yang beredar menggambarkan Campbell sebagai ‘suami yang berbakti, ayah yang luar biasa, dan kakek yang bangga serta penyayang, yang dikenal dengan sebutan ‘Bampi’.’ Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi siapa saja yang mengenalnya, dan warisannya, musik serta kenangan yang tercipta, akan terus hidup abadi.

Lahir di Wales pada tahun 1961, Campbell mulai memetik senar gitar pertamanya di usia sepuluh tahun, terinspirasi oleh raksasa seperti Jimi Hendrix, Todd Rundgren, dan Jimmy Page. Titik balik kariernya terjadi dua tahun kemudian, saat ia bertemu dengan frontman Motörhead, Lemmy Kilmister, yang saat itu sedang manggung bersama band space-rock Hawkwind di Cardiff Capitol Theatre. Sebagai penggemar berat, Campbell nekat menunggu di lobi setelah pertunjukan, berharap bisa bertemu langsung dengan para musisi. Tak disangka, pertemuan tak sengaja itulah yang membuka jalan untuk kolaborasinya dengan Kilmister.

“Lem adalah satu-satunya anggota band yang keluar, dan dia menandatangani program saya dengan gaya autograf klasiknya, memanjang ke bawah halaman pada fotonya,” kenang Campbell dalam wawancara dengan majalah Revolver pada tahun 2018. Ia menambahkan dengan sedikit nada tak percaya, “Kalau saja ada yang bilang hari itu bahwa saya akan bergabung dengan band besar ini, memenangkan Grammy, dan berkeliling dunia, pasti saya anggap gila. Tapi ini membuktikan bahwa segalanya mungkin terjadi.” Sebuah pemikiran yang cukup realistis dari seorang musisi yang tak lama lagi akan menjadi ikon rock.

Namun, jalan takdir tak selalu mulus dan cepat. Butuh lebih dari satu dekade hingga Campbell dan Kilmister kembali bersua. Selama jeda waktu tersebut, Campbell mengasah kemampuannya di berbagai formasi band, mulai dari grup kabaret Contrast, band pub-rock Roktopus, hingga band heavy metal Persian Risk yang ia dirikan pada tahun 1979. Momen penting terjadi pada tahun 1984, ketika ia mengikuti audisi untuk bergabung dengan Motörhead, menggantikan posisi gitaris Brian Robertson. Persaingan sengit terjadi antara Campbell dan Michael “Würzel” Burston. Namun, Lemmy Kilmister, dengan insting tajamnya, memutuskan untuk merekrut keduanya.

Keputusan merekrut dua gitaris ternyata menjadi keputusan jenius. Campbell menghabiskan tiga dekade berikutnya bersama Motörhead, menelurkan 16 album rekaman yang mencakup karya-karya monumental seperti Orgasmatron (1986), March or Die (1992), Motörizer (2008), dan Aftershock (2013). Masa baktinya di Motörhead berakhir pada tahun 2015, bertepatan dengan bubarnya band tersebut pasca meninggalnya Lemmy Kilmister. Sebuah pernyataan di media sosial Motörhead mengenai wafatnya Campbell menegaskan betapa ‘Motörhead mengalir dalam nadinya.’ Pernyataan itu juga menambahkan, “Anda tidak mungkin berada di dekatnya tanpa tertawa terbahak-bahak, karena Phil sangat mencintai kehidupan dan menjalaninya dengan penuh sukacita.” Sebuah deskripsi yang menghangatkan di tengah kesedihan.

Gitaris Penuh Semangat, Lebih dari Sekadar Riff

Di luar panggung Motörhead yang keras, Campbell juga mengeksplorasi sisi artistiknya melalui proyek solo. Pada tahun 2019, ia merilis album solo perdananya, Old Lions Still Roar. Album ini terbilang istimewa karena menampilkan kolaborasi dengan nama-nama besar di kancah rock, seperti Alice Cooper, Rob Halford dari Judas Priest, Dee Snider, dan Benji Webbe. Ini menunjukkan bahwa semangat bermusiknya tidak pernah padam, bahkan terus berkembang melampaui batas genre.

Pada tahun 2016, Campbell memutuskan untuk membentuk band baru, Phil Campbell and the Bastard Sons, bersama ketiga anaknya: Todd, Dane, dan Tyla Campbell. Kolaborasi keluarga ini membawa angin segar, namun juga tantangan. Neil Starr awalnya didapuk sebagai vokalis hingga 2021, sebelum akhirnya digantikan oleh Joel Peters. Band ini merilis album terbaru mereka, Kings of the Asylum, pada tahun 2023. Sayangnya, rencana tur mereka ke Australia dan Eropa pada musim panas tahun ini terpaksa dibatalkan pada Februari lalu akibat kondisi kesehatan Campbell yang menurun. Sebuah keputusan pahit yang menunjukkan betapa pentingnya kesehatan dalam melanjutkan karier.

Kabar duka ini sontak menuai berbagai ucapan belasungkawa dari para musisi kenamaan. Dee Snider, Tony Iommi dari Black Sabbath, Duff McKagan dari Guns N’ Roses, hingga drummer Motörhead sebelumnya, Mikkey Dee, turut memberikan penghormatan. Mikkey Dee mengenang Campbell sebagai ‘orang paling lucu yang pernah dikenal dan gitaris rock terbaik yang pernah bermain bersama.’ Ia menambahkan, “Vibe dan sentuhan musik rocknya luar biasa. Kami menulis 12 album studio bersama, dan dia tidak pernah berhenti mengejutkan dengan bakat ekstremnya. Yang paling utama, akan sangat kehilangan waktu bersamanya, orang paling baik yang pernah ada.” Sebuah testimoni yang kuat dari rekan seperjuangan.

Warisan Riff yang Tak Terlupakan

Peran Campbell di Motörhead bukan sekadar mengisi posisi gitaris. Ia adalah salah satu pilar yang turut membentuk identitas sonik band tersebut. Tiga dekade bukan waktu yang sebentar untuk membangun sebuah reputasi, apalagi di industri musik yang keras dan kompetitif. Gaya permainannya yang khas, perpaduan antara riff yang kuat dan solo yang melodius, menjadi ciri khas yang tak terpisahkan dari lagu-lagu Motörhead.

Menariknya, dalam wawancara tahun 2018, Campbell mengungkapkan sedikit tentang bagaimana proses kreatifnya di Motörhead. Meskipun dikenal sebagai band yang keras, proses pembuatan lagu ternyata tidak selalu terburu-buru. Terdapat ruang untuk improvisasi dan eksplorasi, yang memungkinkan setiap anggota band untuk memberikan kontribusi maksimal. Hal ini menjelaskan mengapa Motörhead mampu menghasilkan begitu banyak karya berkualitas selama bertahun-tahun.

Kisah Campbell di Motörhead adalah bukti nyata bahwa dedikasi dan passion bisa membawa seseorang sejauh ini. Dari pertemuan tak sengaja di lobi konser hingga menjadi legenda di panggung rock dunia, perjalanannya penuh inspirasi. Ia tidak hanya meninggalkan jejak musikal yang mendalam, tetapi juga kenangan tentang pribadi yang hangat dan penuh semangat.

Pada akhirnya, musik rock kehilangan salah satu figur pentingnya. Kepergian Phil Campbell menjadi pengingat bahwa para legenda pun tak luput dari batas usia dan kesehatan. Namun, karya-karyanya akan terus bergema, menginspirasi generasi baru musisi dan penggemar rock di seluruh dunia. Semangat ‘Bampi’ dan riff gitarnya akan terus hidup dalam ingatan kolektif dunia musik.

Previous Post

Waspada Cacar Air: Keteledoran di Sinagoge Bikin Heboh

Next Post

Rogue Piece: Kode ‘Gratis’ Makin Banyak, Dompetmu Makin Gendut?

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *