Dunia game, oh dunia game. Dulu tempat kita kabur dari kenyataan, sekarang malah jadi sumber kenyataan pahit. Ibaratnya, dulu main game buat senang-senang, sekarang malah deg-degan mikirin nasib sendiri. Kondisi industri game memang lagi nggak baik-baik saja, dan angka PHK masih tinggi di tahun 2025, meski sudah agak mendingan dari puncaknya di tahun 2024.
Amir Satvat dan Data Layoff yang Bikin Merinding
Amir Satvat, seorang direktur pengembangan bisnis di Tencent Games, punya catatan penting soal angka PHK di industri game. Dia nggak cuma ngitung yang diumumkan ke publik, tapi juga yang diem-diem alias nggak ketahuan. Hasilnya? Tahun 2025 tercatat ada 9.175 orang yang kehilangan pekerjaan di industri ini. Lumayan jauh sih dari prediksinya di awal tahun yang hampir 10 ribu, tapi tetep aja bikin merinding.
Angka ini memang turun drastis dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 15.631 kasus PHK. Tapi, kalau dibandingkan dengan tahun 2022, masih lebih tinggi. Tahun 2022 itu bisa dibilang awal mula krisis industri game ini, dengan angka PHK sekitar 8.500 orang. Jadi, meski ada penurunan, kondisi industri game belum bisa dibilang stabil.
Prediksi Satvat sih, tahun 2026 nanti bakal ada lagi sekitar 7.500 orang yang kena PHK. Ini menandakan pemulihan industri game bakal berjalan lambat. Selain itu, dia juga memprediksi peluang kerja di Amerika Utara dan Eropa Barat bakal terus menurun. Wah, makin deg-degan nih.
Gejala Migrasi Geografis ala Industri Game
Kalau kata Satvat, lebih dari 70% PHK terjadi di Amerika Utara, terutama di studio-studio AAA. California jadi wilayah yang paling banyak terdampak, dengan lebih dari 50% kasus PHK terjadi di sana. Miris, ya? Padahal, dulu California itu kiblatnya industri game.
Survei di Eropa juga nggak kalah ngeri. Lebih dari 26% profesional game di Eropa kena PHK dalam setahun terakhir. Gaji juga turun drastis dibandingkan tahun 2024. Bahkan, gaji programmer, terutama yang jago Unity, turun hampir separuh. Penyebabnya? Ya itu tadi, lapangan kerja yang makin sempit.
Pergeseran Peluang Kerja: Dari Barat ke Timur?
Satvat memprediksi peluang kerja di Eropa Barat dan Amerika Utara bakal berkurang, tapi di Amerika Latin, Eropa Timur, dan Asia justru bakal meningkat. Ini sejalan dengan komentar Lirui Ding dari Transcend Fund, yang bilang kalau industri game lagi mengalami pergeseran geografis. Duit yang tadinya banyak di Amerika Serikat dan Eropa, sekarang mulai pindah ke negara-negara berkembang seperti China, Turki, atau bahkan Vietnam.
Chris Petrovic dari FunPlus juga punya pendapat yang sama. Dulu, inovasi dan kesuksesan komersial di industri game banyak datang dari Amerika Serikat, Kanada, Jerman, dan Finlandia. Sekarang, pusat-pusat pengembangan game baru mulai muncul di China, Turki, Israel, dan Vietnam. Jadi, siap-siap aja, kita mungkin bakal lihat game-game keren buatan anak bangsa Vietnam atau Turki.
Studio Berguguran: Daftar Panjang yang Bikin Nggak Enak Hati
Tahun 2025 jadi saksi bisu banyaknya studio game yang tutup. Ada Toadman Interactive, Freejam, nDreams Studio Orbital dan nDreams Studio, Studio Fizbin, Mountaintop Studios, Echtra Games, Cobra Mobile, The Initiative, Avalanche Studios Group’s Liverpool studio, Ubisoft Leamington, T-Minus Zero Entertainment, Fantastic Pixel Castle, dan Bad Brain Game Studios. Banyak banget, kan?
Ada juga laporan yang bilang kalau Ballistic Moon, studio di balik remake Until Dawn, “efektif ditutup” setelah hampir semua karyawannya dipecat. Aheartfulofgames, studio Spanyol yang bikin Teenage Mutant Ninja Turtles: Mutants Unleashed, juga bilang terancam tutup setelah pemiliknya, Outright Games, berencana memecat semua karyawannya.
Nggak cuma itu, studio-studio di Inggris seperti Three Fields Entertainment dan Splash Damage juga mulai melakukan konsultasi PHK yang bisa berdampak ke semua karyawan. Duh, berat banget, ya.
Korban Keganasan Perusahaan Raksasa
Perusahaan-perusahaan raksasa di industri game juga nggak luput dari badai PHK. Tencent Games misalnya, melakukan sejumlah pemangkasan dan divestasi di studio-studio Eropanya. Sumo Group, yang dimiliki Tencent, memutuskan untuk fokus “eksklusif pada layanan pengembangan untuk mitra,” yang tentu saja berdampak pada karyawan. Mereka juga menjual penerbit Secret Mode.
Splash Damage, yang dibeli Tencent tahun 2020, juga mengumumkan risiko PHK setelah pembatalan Transformers: Reactivate. Studio ini kemudian dibeli oleh investor ekuitas swasta, tapi nggak lama kemudian malah melakukan konsultasi PHK yang berdampak ke semua karyawan.
Funcom, studio di balik Dune: Awakening, juga melakukan PHK sebagai bagian dari restrukturisasi. Sharkmob, studio yang lagi bikin Exoborne, juga melakukan pemangkasan di studio Malmo mereka.
NetEase juga nggak kalah sibuk. Studio Jar of Sparks mengumumkan bakal mencari penerbit baru setelah NetEase menarik dana mereka. Liquid Swords, studio yang didirikan oleh salah satu pendiri Avalanche Studios, juga melaporkan adanya PHK. NetEase juga menutup T-Minus Zero Entertainment, mendivestasi Fantastic Pixel Castle, dan keluar dari Bad Brain Game Studios.
Microsoft juga melakukan PHK besar-besaran di tahun 2025. Setelah PHK kecil-kecilan di bulan Januari, mereka mengumumkan pemangkasan 3% karyawan di bulan Mei. Tapi, PHK terbesar terjadi di bulan Juli, yang berdampak ke sekitar 9.000 orang. Studio-studio yang terdampak termasuk King, Blizzard, Turn 10, Raven Software, ZeniMax Online Studios, dan The Initiative, yang bahkan sampai ditutup.
Saingan Microsoft, Sony, juga melakukan PHK di PlayStation support studio Visual Arts dan PS Studios Malaysia. Mereka juga melakukan pengurangan karyawan di Bend Studio, studio di balik Days Gone.
Unity juga melakukan PHK lagi di bulan Februari, setelah sebelumnya melakukan PHK terhadap 1.800 orang di bulan Januari 2024. Amazon juga mengumumkan PHK terhadap 14.000 orang, yang mengakibatkan penghentian pengembangan MMO New World. Intel juga melakukan PHK di bulan April dan Juli sebagai bagian dari upaya pemotongan biaya.
Meta juga nggak mau ketinggalan. Mereka memangkas 5% karyawan di bulan Januari, dan kemudian melakukan pemangkasan lagi di divisi Reality Labs di bulan April. Bahkan, ada laporan yang bilang kalau Meta berencana memangkas anggaran di divisi Reality Labs hingga 30% di tahun 2026.
Netflix-owned Night School Studio juga melakukan PHK terhadap sejumlah karyawan di bulan Februari. Krafton-owned Striking Distance Studios, studio di balik The Callisto Protocol, juga melakukan PHK di bulan Maret. Square Enix juga melakukan “restrukturisasi fundamental” di bulan November, yang mengakibatkan hilangnya lebih dari 100 pekerjaan.
Embracer-owned Crystal Dynamics melakukan PHK di bulan Maret, Agustus, dan November. Ubisoft juga melakukan sejumlah PHK di tahun 2025. EA juga nggak ketinggalan. Mereka membatalkan dua proyek “tahap awal” dan memangkas pengembang dari tim Apex Legends dan Star Wars: Jedi, yang mengakibatkan sekitar 100 PHK.
Terakhir, ada sejumlah pemangkasan di studio-studio yang dimiliki oleh Take-Two Interactive. 2K Games mengkonfirmasi kalau mereka sudah “mengurangi ukuran tim pengembangan” yang lagi ngerjain BioShock 4. Mereka juga melakukan “pengurangan” jumlah karyawan di Firaxis, pengembang Civilization dan XCOM.
Yang paling kontroversial, Independent Workers’ Union of Great Britain (IWGB) menuduh Rockstar Games, yang dimiliki Take-Two, melakukan pemberangusan serikat pekerja setelah studio ini memecat 31 karyawan yang diduga berusaha membentuk serikat pekerja. Rockstar membantah tuduhan ini, tapi Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menggambarkan pemecatan ini sebagai “kasus yang sangat mengkhawatirkan” dan mengatakan kalau menteri akan melakukan investigasi. Wah, makin seru nih.
Jadi, begitulah kira-kira kondisi industri game di tahun 2025. Miris, tapi ya begitulah kenyataan. Semoga tahun depan kondisinya bisa lebih baik, dan nggak ada lagi PHK yang bikin hati nelangsa.


