Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Plastik di Rumahmu Ternyata Bikin Sulit Punya Momongan

Dua tahun berjuang mati-matian demi garis dua di alat tes kehamilan, dengan hasil nihil, pasangan Darby dan Jesse Nubbe di Idaho mulai putus asa. Perkiraan biaya sudah menembus $16.000 (sekitar Rp240 juta), meliputi cek darah mingguan, USG invasif, analisis kualitas sperma, tes genetik, diet ketat, rutinitas olahraga, cold plunging harian, suplemen mahal, tes kehamilan berlebihan, dan ‘pajak’ air mata yang tak terhitung. “Kami benar-benar buntu, dengan diagnosis resmi ‘infertilitas tak dapat dijelaskan’,” ungkap Darby.ironisnya, akar masalahnya ternyata bukan misteri ilmiah nan rumit, melainkan produk sehari-hari yang mengisi rumah mereka, mulai dari botol minum hingga pakaian.

Kehidupan Darby dan Jesse berubah drastis ketika Dr. Shanna Swan hadir. Mereka menjadi bagian dari enam pasangan dengan tantangan kesuburan yang tak terjelaskan, yang mendaftar untuk studi tiga bulan bersama Swan. Dengan rentang waktu coba punya anak yang bervariasi, sebagian hingga sepuluh tahun, para pasangan ini diarahkan untuk secara drastis mengurangi paparan harian terhadap bahan kimia terkait plastik. Harapannya: mempermudah jalan menuju kehamilan. “Saya percaya hak dasar setiap manusia adalah memiliki keturunan jika mereka memilihnya,” ujar Swan, seorang ahli epidemiologi reproduksi. “Bahan kimia di rumah atau lingkungan seharusnya tidak menghalangi hal itu.”

Perjalanan ini menjadi fokus utama dalam film dokumenter ‘The Plastic Detox’, sebuah tayangan yang membuka mata. Plastik, dari produk petrokimia, mengandung zat racun yang dikenal sebagai endocrine disrupters (pengganggu endokrin). Contohnya adalah ftalat, yang berfungsi membuat plastik lentur dan fleksibel, serta bisphenol (BPAs), yang memberikan kekerasan dan daya tahan. Swan menjelaskan dalam film tersebut, zat-zat ini ada di mana-mana. “Kita menelannya, menyerapnya melalui kulit, menghirupnya. Segala cara agar bisa masuk ke tubuh, mereka lakukan. Dan saat beredar dalam tubuh, mereka menimbulkan berbagai macam kekacauan.”

Membersihkan diri dari plastik bukanlah perkara mudah. Photograph: Courtesy of Netflix

Banyak studi, termasuk yang dilakukan oleh National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat, menemukan bahwa ‘kekacauan’ ini berdampak langsung pada kesuburan pria. Bahan kimia pengganggu endokrin (EDCs) mengacaukan sistem hormon tubuh, terutama testosteron, yang krusial untuk produksi sperma. Selama 50 tahun terakhir, jumlah sperma di seluruh dunia dilaporkan menurun drastis.

Proses detoksifikasi dari plastik dan EDCs sama sekali bukan jalan pintas. Paparan tidak hanya terbatas pada wadah botol atau kemasan makanan; zat-zat ini mengintai di permen karet hingga buku anak-anak. Swan meminta para partisipan studi untuk menghindari makanan dan minuman dalam kemasan plastik dari supermarket atau layanan pesan antar. Mereka juga diminta menanggalkan pakaian berbahan tekstil sintetis dan pewarna petrokimia. Penggunaan produk perawatan pribadi berbahan alami, seperti sampo dan deodoran organik atau nabati, juga ditekankan. Salah satu penelitian Swan menunjukkan korelasi antara wanita yang menggunakan produk beraroma, dengan kadar ftalat yang lebih tinggi; pengguna parfum memiliki konsentrasi monoetil ftalat 2,92 kali lebih tinggi dibanding wanita lain.

Namun, saran yang paling mengejutkan adalah anjuran Swan untuk menghindari memegang struk kuitansi. Hampir semua stru kertas di Amerika Serikat mengandung bisphenol A (BPA). Setiap kali seseorang menerima stru, “mereka meningkatkan risiko mengubah hormon tubuh yang dapat memengaruhi kesuburan,” kata Swan. Meskipun BPA dalam kertas stru dilarang di Inggris dan Uni Eropa, bahan kimia beracun lainnya masih diizinkan, termasuk BPS (bisphenol S), yang masuk dalam daftar kandidat Substance of Very High Concern (SVHC) di Uni Eropa. “Ada solusi mudah – stru elektronik,” ujar Swan. “Setiap kali berbelanja dan ditanya, ‘Mau stru?’, saya jawab ‘Tidak’. Lalu saya tambahkan (karena saya memang agak cerewet), ‘Dan Anda juga seharusnya tidak memegangnya.’”

“Sama sekali tidak terbayangkan bahwa bahan kimia dalam produksi plastik bisa berdampak pada kami, apalagi menyebabkan masalah kesuburan,” ujar Eric Isaac dari Miami, Florida. Ia dan istrinya, Julie, telah mencoba memiliki bayi selama dua tahun yang ia gambarkan sebagai “dua tahun yang menyakitkan, emosional, dan menurunkan semangat.” “Plastik begitu melimpah dan menjadi bagian hidup semua orang, hingga ia menjadi tak terlihat.”

Shanna Swan: ‘Ini adalah masalah global yang sangat serius.’ Photograph: Courtesy of Netflix

Proses detoksifikasi ternyata tidak mudah. “Mengundang Dr. Shanna Swan untuk mengaudit rumah rasanya seperti mengundang badai super lembut masuk ke dalam rumah,” cerita Eric. “Dia memang luar biasa, tapi persediaan makanan, produk kamar mandi, pembersih, dan perlengkapan pribadi siap-siap diterbangkan keluar jendela. Bagian tersulit adalah harus rela berpisah dengan minuman bersoda berasa dalam kaleng [mayoritas dilapisi lapisan tipis plastik yang seringkali mengandung EDCs]. Minuman itu murah, nol kalori, dan bagi orang yang sedang ‘berusaha tebal’ seperti saya, ini adalah kehilangan besar.”

Darby dan Jesse merasa regimen baru ini bisa diatasi di rumah, bahkan mereka menyumbangkan sebagian besar pakaian, menyisakan hanya yang berbahan non-sintetis. “Namun, kami tidak bisa sepenuhnya lepas dari paparan plastik di dunia luar,” jelas Darby. “Rasanya setiap hari kami membuang kemajuan yang telah dicapai saat makan malam di rumah teman yang memasak dengan Teflon, atau saat petugas kasir yang mengejar dengan stru kertas. Mencari alternatif juga terbukti menjadi hambatan utama dalam mewujudkan gaya hidup bebas plastik. Bahan kimia yang mengganggu planet dan penghuninya ada di hampir setiap produk di rak toko.”

Mengurai Benang Kusut Paparan Kimiawi

Bahaya yang disebabkan oleh bahan kimia dalam tubuh bisa bersifat katastropik, peringatan Swan. Ia bahkan berpendapat bahwa infertilitas berpotensi mengarah pada akhir umat manusia. “Ini adalah masalah global yang sangat serius,” tegas Swan. “Intinya adalah bahan kimia ini hadir dalam kehidupan sehari-hari dan membuat kita semakin sulit bereproduksi. Saya ingin orang-orang sadar bahwa ada langkah-langkah yang bisa diambil untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi diri mereka, keluarga, anak-anak, serta keturunan mereka. Perubahan ini tidak berhenti pada generasi kita – dampaknya berlanjut lintas generasi.”

Darby dan Jesse Nubbe. Photograph: Netflix

Tanpa membocorkan hasil kehamilan, temuan dari program detoksifikasi ini cukup menggembirakan. Kadar bisphenol menunjukkan penurunan drastis, sementara jumlah sperma melonjak. Penting dicatat, kesimpulan definitif dari kelompok sampel sekecil ini memang sulit ditarik (Swan tengah mengajukan pendanaan NIH untuk uji coba yang jauh lebih besar), dan berbagai faktor lain turut memengaruhi kesuburan serta proses konsepsi. Namun, pesan Swan sangat jelas. “Pasangan yang sedang berusaha hamil sebaiknya hindari penggunaan produk yang mengandung plastik,” sarannya. “Fokuslah pada dapur. Hal terpenting adalah tidak mencampur panas, makanan, dan plastik [seperti makanan microwave]. Para partisipan studi kami menunjukkan perbaikan reproduksi yang signifikan hanya dalam tiga bulan dengan perubahan gaya hidup yang relatif mudah, dan setiap orang bisa melakukannya.”

Baik Swan maupun para pembuat film tidak menentang plastik itu sendiri, melainkan bahan kimia berbahaya yang ditambahkan padanya. “Selama kita memakai pakaian, pakaian itu seharusnya tidak mengandung PFAS atau bahan kimia lain. Selama kita makan, makanan itu seharusnya tidak mengandung bahan kimia berbahaya,” ujar Swan. “Mari kita lakukan apa yang telah dilakukan Uni Eropa – hanya ada kurang dari selusin senyawa kimia perawatan pribadi yang dilarang di AS, namun ada 1.100 yang dilarang di Uni Eropa,” tambah co-director Louie Psihoyos. “Anak-anak di seluruh dunia diracuni. Belum ada rencana untuk memperlambat produksi plastik global – diproyeksikan akan tiga kali lipat dalam 40 tahun ke depan. Ini hanya akan memburuk.”

Para pasangan dalam film dokumenter ini tetap mempertahankan perubahan positif yang mereka terapkan. “Kami terpaksa fokus pada memasak di rumah,” kata Darby. “Kami lebih banyak mengonsumsi makanan utuh [tidak diproses] dan merasakan perubahan pada tingkat energi, suasana hati, serta hubungan dengan makanan. Kami juga menghemat banyak uang. Saya tidak lagi membeli barang-barang impulsif. Hidup terasa lebih lambat. Kami menikmati kebebasan baru dari keserakahan.”

Eric dan Julie juga mempertahankan hampir semua aspek, dengan satu pengecualian: sesekali mereka makan di luar. “Saya sudah mencoba menjelaskan pada Shanna bahwa terkadang orang butuh burger restoran berminyak yang tidak berasal dari dapur yang diaudit oleh ahli epidemiologi reproduksi,” canda Eric. “Alasan utama kami bertahan dengan semua perubahan lainnya adalah karena kami merasa benar-benar lebih baik. Setelah menyingkirkan produk beraroma dari rumah, saya dan Julie tidur lebih nyenyak dan lebih lama. Kami berdua kehilangan berat badan. Kami juga merasakan peningkatan fokus. Begitu merasakan perbedaan itu, sulit untuk kembali ke kebiasaan lama.”

The Plastic Detox tayang di Netflix mulai 16 Maret.

Previous Post

Bushin Ungkap Tier List Guilty Gear Strive: Happy Chaos Juara, Venom di Dasar

Next Post

NTB: Dari Tenun ke Cuan, Ekonomi Kreatif Jadi Mesin Baru Anggaran

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *