Bayangkan begini: G2 Esports, raksasa esports yang disegani, merasa sedikit kesepian di puncak tangga. Ibarat selebgram yang kangen masa-masa awal merintis karier, mereka kangen dengan bau keringat kompetisi kelas teri. Kabarnya, mereka sedang menyiapkan tim akademi. Tujuannya? Mencari bibit-bibit unggul dan, tentu saja, sedikit nostalgia.
Prime League: Opsi Utama dengan Bumbu Sosis dan Bir
G2 Esports dikabarkan sedang dalam proses pembangunan tim akademi yang akan berkompetisi di European Regional Leagues (ERLs). Langkah ini, menurut sumber terpercaya, menandakan kembalinya mereka ke kompetisi Tier 2. Sebuah langkah yang cukup mengejutkan, mengingat G2 sudah menjadi nama besar di ranah League of Legends. Tapi, hei, siapa yang bisa menebak isi hati para gamer?
Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan secara serius adalah kolaborasi dengan NORD Esports. Bayangkan dua kekuatan ini bergabung, membentuk aliansi untuk mendominasi Prime League, liga utama Jerman. Targetnya jelas: pasar Jerman yang gurih. Selain itu, G2 juga mempertimbangkan untuk menggandeng influencer Jerman ternama. Tapi, semua ini tergantung pada satu hal: apakah dompet mereka cukup tebal?
Tujuan utama dari pembentukan akademi ini sebenarnya mulia: mengembangkan bibit-bibit muda dan memberi mereka panggung untuk bersinar. Tim akademi ini akan menjadi tim satelit untuk roster LEC mereka yang saat ini sedang berjuang di Worlds. Anggap saja ini sebagai program magang, tapi dengan hadiah berupa ketenaran dan jutaan euro.
NORD Esports sendiri bukan nama baru di ERLs. Sejak bergabung dengan NLC pada tahun 2023, mereka cukup menarik perhatian. Salah satunya adalah dengan merekrut Marcin “Jankos” Jankowski, seorang streamer dan pemain veteran, ke dalam roster mereka. Selain itu, NORD juga aktif menyelenggarakan NNO Cups, sebuah turnamen pra-musim yang diikuti oleh tim-tim LEC seperti SK Gaming dan Team Vitality. Jika kolaborasi dengan G2 ini terwujud, tim ini akan pindah ke Prime League, sesuai dengan akar Jerman milik NORD.
Kalau Jerman Nggak Cocok, Kita Cari yang Lain
Namun, jika G2 Esports gagal mendapatkan tempat di Prime League, mereka mungkin akan melirik ERL lain, fokus pada pasar regional yang berbeda. Mungkin Spanyol? Atau Prancis? Intinya, mereka tidak akan menyerah begitu saja. Seperti kata pepatah, “Banyak jalan menuju Roma,” atau dalam kasus ini, “Banyak liga menuju kejayaan.”
Bukan Kali Pertama Main Akademi-akademian
Ini bukan kali pertama G2 Esports bermain-main dengan tim akademi. Pada tahun 2019, mereka bekerja sama dengan Team Heretics untuk membentuk G2 Heretics. Setahun kemudian, mereka menggandeng Arctic Gaming untuk membentuk tim di Superliga selama tiga tahun. Menariknya, beberapa pemain LEC yang lolos ke Worlds saat ini, seperti Óscar “Oscarinin” Muñoz Jiménez, David “Supa” Martínez García, dan Álvaro “Alvaro” Fernández del Amo, pernah menjadi bagian dari roster tersebut. Sayangnya, G2 tidak pernah berhasil mendapatkan promosi langsung dari tim akademi mereka selama periode tersebut.
Dalam tiga tahun terakhir, G2 Esports memang tidak memiliki tim akademi. Namun, CEO Alban Dechelotte pernah mengungkapkan bahwa ia berencana untuk membangun satu di NLC, memanfaatkan peluang co-streaming dalam bahasa Inggris. Pada tahun 2022, ia bahkan mendekati Marc Robert “Caedrel” Lamont dan Simon “Baus” Hofverberg untuk menjadi wajah publik tim tersebut. Keduanya awalnya menolak tawaran tersebut, tetapi kemudian bergabung untuk membentuk Los Ratones, sebuah tim baru yang berkompetisi di NLC. Sebuah plot twist yang cukup menarik, bukan?
Kali ini, G2 tampaknya sangat bertekad untuk kembali ke ERLs dan membangun tim akademi baru. Diskusi tampaknya sudah berjalan dengan baik, dan Sheep Esports berjanji akan memberikan update lebih lanjut setelah proyek dan roster-nya selesai. Kita tunggu saja kejutan apa yang akan mereka siapkan.
/Komentar: Netizen +62 Udah Siap Nyinyir?
Well, begitulah kira-kira drama di balik layar dunia esports. G2 Esports, dengan segala ambisi dan rencananya, mencoba untuk kembali meramaikan kompetisi Tier 2. Apakah mereka akan berhasil menemukan bibit-bibit unggul? Apakah kolaborasi dengan NORD Esports akan membuahkan hasil? Atau, apakah mereka akan kembali gagal seperti sebelumnya? Kita tunggu saja episode berikutnya dari sinetron esports ini. Yang pasti, netizen +62 sudah siap dengan segala komentar pedas dan nyinyiran mereka. Maklum, itu sudah jadi bagian dari budaya kita.


