Bayangkan ini: sebuah gim yang ditunggu-tunggu bertahun-tahun, dikembangkan oleh studio yang sama dengan mahakarya klasik, namun terus menerus tertunda, dipermak, dan pada akhirnya… lenyap tanpa jejak. Bukan, ini bukan premis film bencana indie, melainkan kisah nyata dari remake Prince of Persia: The Sands of Time. Sebuah saga pengunduran diri massal yang membentang dari 2020 hingga 2026, hanya untuk berakhir dengan pembatalan total. Dan kini, di tengah reruntuhan ekspektasi, muncullah cuplikan gameplay yang sebelumnya tak terlihat, seolah ejekan dari masa lalu yang tak akan pernah terwujud.
Perjalanan remake ini sungguh seperti melewati labirin waktu yang penuh jebakan. Dimulai dengan pengumuman resmi dari Ubisoft pada September 2020, menjanjikan kelahiran kembali sang Pangeran Persia. Namun, harapan itu segera memudar seiring munculnya tangkapan layar perdana yang justru menuai banjir kritik. Kualitas visualnya digambarkan ‘tidak bagus’, sebuah eufemisme halus untuk sesuatu yang tampak lebih usang daripada konsol era PS2. Alih-alih menghadapi kenyataan, Ubisoft memilih jalan pintas: menunda perilisan hingga Maret 2021, memberikan harapan palsu bahwa sentuhan ajaib akan memperbaiki segalanya.
Tahun 2021 menjadi titik balik yang mengerikan. Di bulan Februari, pengumuman penundaan tak terhingga membuat para penggemar menelan ludah pahit. Ubisoft, seolah bermain tarik ulur, kembali memberikan sinyal pada Juni 2021, menyebutkan target rilis 2022. Tentu saja, tahun 2022 pun berlalu tanpa kedatangan sang Pangeran. Ini adalah tontonan yang membosankan, pengulangan drama yang sama, di mana janji terus dipatahkan oleh ketidakpastian.
Sebuah Siklus Penundaan yang Tak Berujung
Narasi penundaan ini makin absurd di tahun-tahun berikutnya. Mei 2023, Ubisoft secara mengejutkan mengklaim bahwa proyek ini masih dalam tahap ‘konsepsi’. Konsepsi? Setelah bertahun-tahun pengembangan yang tampak signifikan? Rasanya seperti seorang koki yang mengumumkan bahwa bahan-bahan makan malam masih berupa gagasan abstrak. Namun, kejutan sesungguhnya datang di Juni 2024, ketika mereka sesumbar menargetkan rilis 2026. Angka ini, yang dulu tampak jauh, kini terasa seperti déjà vu yang menyakitkan.
Dan tibalah kita di tahun 2026. Alih-alih perayaan peluncuran, yang terjadi justru pengumuman paling ironis: pembatalan total. Ubisoft merilis pernyataan bahwa gim ini tidak mencapai standar kualitas yang pantas bagi para penggemarnya. Keputusan ini, meskipun terdengar noble di permukaan, menimbulkan pertanyaan: apakah standar kualitas mereka berubah setiap tiga bulan? Atau ini hanyalah cara halus untuk mengakhiri mimpi buruk yang telah berlangsung lama?
Yang membuat situasi ini semakin menggelikan adalah bocornya presentasi pra-alfa pada Januari 2026. Rumor beredar kencang bahwa gim ini hampir rampung, mencapai sekitar 99% penyelesaian. Hampir 99%. Ini adalah angka yang membuat kepala pusing. Mengapa sebuah proyek yang tinggal selangkah lagi dari garis finis harus dibatalkan begitu saja? Entah ini kebetulan, kesengajaan, atau sekadar kesalahan manajemen tingkat tinggi yang tak termaafkan, misteri ini menambah lapisan kekecewaan.
Cuplikan gameplay yang baru beredar ini berasal dari versi 2021, versi yang sama yang dicaci maki oleh basis penggemar. Ironisnya, rekaman tersebut menunjukkan bahwa mekanika permainannya sangat mirip dengan versi original 2003. Ini menimbulkan pertanyaan penting: jika intinya sudah solid dan dikenal, mengapa Ubisoft begitu berkeras mengubahnya sampai proyek ini membusuk?
Lihat saja perbandingan yang dibagikan oleh akun Prince of Persia Universe di X. Pergerakan Pangeran, lompatan dindingnya (wall jump), semuanya terasa familier. Ini bukan revolusi, ini hanyalah pembaruan visual yang seharusnya menjadi fokus utama. Banyak pemain yang mengeluhkan grafis yang ketinggalan zaman, dan memang benar adanya. Sebuah polesan grafis yang modern saja sudah cukup untuk menghidupkan kembali pesona gim klasik ini.
Sebuah Tontonan yang Menyakitkan dari Masa Lalu yang Hilang
Kini, pertanyaannya adalah, mengapa Ubisoft memutuskan untuk membuang seluruh fondasi yang sudah kokoh? Alih-alih merangkul esensi gim yang dicintai banyak orang, mereka tampak berusaha menciptakan sesuatu yang baru dari nol, sebuah upaya yang berakhir sia-sia. Kita disajikan dengan tarian pengunduran diri yang panjang, janji-janji kosong, dan pada akhirnya, sebuah produk yang bahkan tidak pernah melihat cahaya hari.
Cuplikan pendek ini memang tidak akan mengubah pandangan mereka yang sudah terlanjur kecewa. Bagi yang lain, ini adalah jendela singkat ke dalam sebuah gim yang seharusnya ada, sebuah penampakan dari masa lalu yang gagal di masa depan. Ini adalah pengingat pahit tentang apa yang bisa terjadi ketika visi kreatif bertabrakan dengan birokrasi korporat yang kaku.
Perbandingan antara versi original dan remake 2021, terutama pada gerakan melompat dinding, menunjukkan betapa sedikit perubahan fundamental yang diperlukan. Mekanisme inti dari Prince of Persia—akrobatik, teka-teki, dan pertarungan—sudah teruji dan terbukti. Apa yang kurang adalah lapisan visual yang memukau, setara dengan standar gim modern. Namun, alih-alih fokus pada perbaikan estetika, seolah-olah ada upaya untuk merekayasa ulang gim itu sendiri, sebuah keputusan yang membawa bencana.
Sungguh sebuah ironi, bahwa cuplikan gameplay ini muncul justru setelah pembatalan. Seolah-olah alam semesta gim sedang tertawa sinis. Dulu, para penggemar memohon agar gim ini diperbaiki, bukan diciptakan ulang dari nol. Mereka menginginkan gim yang terasa familiar namun terlihat segar. Namun, permintaan sederhana ini tampaknya jatuh di telinga yang tuli.
Situasi ini menyoroti dilema klasik dalam industri gim: kapan harus setia pada sumber materi dan kapan harus berinovasi secara radikal? Remake Prince of Persia: The Sands of Time tampaknya memilih jalur yang salah, terlalu jauh dari akar yang membuatnya dicintai, namun tidak cukup berani untuk menjadi sesuatu yang benar-benar baru dan inovatif. Hasilnya adalah proyek yang terjebak di antara dua dunia, tidak mampu memuaskan kelompok mana pun.
Meskipun gim ini telah resmi dibatalkan, cuplikan ini berfungsi sebagai artefak langka. Ini adalah bukti visual dari sebuah proyek yang berjalan salah, sebuah studi kasus tentang bagaimana janji bisa menguap menjadi debu. Mungkin, di masa depan, ada studio lain yang berani mengambil alih warisan ini dan mewujudkan potensi penuhnya. Namun untuk saat ini, para penggemar hanya bisa merenungkan apa yang seharusnya terjadi.


