Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Prion: Protein Nakal yang Bikin Otak Bergoyang

Tahun 1982, dunia sains berguncang. Bukan karena penemuan alien atau mesin waktu, tapi gara-gara seonggok protein nakal yang bikin otak domba jadi berlubang kayak spons. Ya, begitulah Dr. Stanley Prusiner dengan berani membeberkan temuan revolusionernya di jurnal Science, mengubah total cara pandang terhadap penyakit-penyakit saraf degeneratif. Ternyata, penyebabnya bukan virus licik atau bakteri bandel, melainkan protein yang berperilaku seenaknya sendiri. Sungguh sebuah plot twist yang bikin geleng-geleng kepala, bahkan mungkin sampai bikin para ilmuwan lawas menggaruk-garuk kepala yang sudah mulai menipis.

Tonggak Sejarah: Prion teridentifikasi

Tanggal: 9 April 1982

Lokasi: San Francisco

Tokoh: Dr. Stanley Prusiner

Prusiner, seorang dokter sekaligus peneliti di University of California, San Francisco, telah lama berkutat dengan scrapie, sebuah penyakit misterius yang melumpuhkan domba dan kambing. Penyakit ini membuat hewan-hewan malang tersebut kehilangan koordinasi, menggaruk-garuk tubuhnya hingga luka, dan akhirnya menemui ajal. Namun, yang lebih mengusik Prusiner adalah ingatan akan pasiennya satu dekade sebelumnya: seorang penderita Creutzfeldt-Jakob disease (CJD) yang otaknya hancur lebur dalam waktu dua bulan tanpa gejala peradangan atau respons imun yang jelas. Dokter lain menyebutnya sebagai infeksi “virus lambat” – sebuah konsep yang, sejujurnya, terdengar seperti fiksi ilmiah pada masanya.

Prusiner sendiri kala itu masih dalam tahap awal residensi neurologi. Pengalaman menyaksikan pasiennya yang memburuk dengan cepat, otaknya rusak parah sementara tubuhnya seolah tak tersentuh, membekas dalam benaknya. “Saya paling terkesan oleh proses penyakit yang bisa membunuh pasien saya dalam dua bulan dengan menghancurkan otaknya sementara tubuhnya tetap tidak terpengaruh oleh proses ini,” ungkapnya dalam sebuah pidato pengakuan Nobel yang kemudian hari dibagikannya. Bayangkan saja, sebuah penyakit yang menyerang tanpa ampun, tanpa perlawanan dari sistem imun, dan merusak pusat kendali tubuh secara brutal. Sungguh skenario horor medis yang nyata.

Konsep “virus lambat” sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1950-an untuk menjelaskan scrapie. Pada tahun 1960-an, para ilmuwan mulai menerapkan konsep ini pada penyakit pada manusia, terutama kuru, sebuah kondisi mematikan yang melanda suku Fore di Papua Nugine. Kuru menyebar ketika anggota suku mengonsumsi otak kerabat mereka yang telah meninggal – sebuah ritual pengormatan yang ironisnya berujung petaka. Bukti-bukti awal menunjukkan bahwa CJD, penyakit otak fatal yang terkadang menurun dalam keluarga, juga dapat ditularkan melalui konsumsi jaringan otak hewan yang terinfeksi. Di bawah mikroskop, jaringan otak penderita kuru, scrapie, dan CJD menunjukkan gambaran serupa: berlubang-lubang seperti spons, alias spongiform. Namun, teka-teki genetik tetap membingungkan: bagaimana mungkin sebuah penyakit bisa bersifat turunan sekaligus menular?

Prion: Sang Protein Pengkhianat

Prusiner awalnya meneliti CJD, tetapi beralih fokus ke scrapie setelah meninjau temuan Tikvah Alper. Alper, seorang radiobiolog, menemukan bahwa scrapie tetap bisa ditularkan meskipun jaringan yang terinfeksi telah disinari dengan sinar ultraviolet, yang seharusnya merusak DNA. Ini adalah petunjuk krusial: jika agen infeksius tidak rusak oleh radiasi yang merusak asam nukleat, berarti ia bukanlah virus atau bakteri konvensional. Alper dan rekannya menyimpulkan bahwa agen infeksius tersebut mungkin tidak memiliki asam nukleat sama sekali, sebuah gagasan yang saat itu dianggap radikal.

Terinspirasi oleh temuan Alper, Prusiner mulai bekerja dengan jaringan otak dan limpa tikus yang terinfeksi scrapie. Ia kemudian beralih ke hamster karena penyakit ini berkembang lebih cepat, hanya butuh sekitar 70 hari dibandingkan satu hingga dua tahun pada tikus. Dengan ketekunan yang luar biasa, Prusiner secara sistematis berusaha mengisolasi dan mengidentifikasi sifat kimia dari “agen infeksius” yang bertanggung jawab atas penyakit ini. Ia ingin tahu, apa sebenarnya yang bergerak di balik layar kehancuran otak ini.

Setelah bertahun-tahun penelitian intensif, Prusiner sampai pada kesimpulan yang mengejutkan: agen infeksius tersebut adalah sebuah protein. Bukan virus, bukan bakteri, tapi murni protein. Ia menyatakan dalam publikasinya tahun 1982, “Enam jalur bukti independen dan berbeda menunjukkan bahwa agen scrapie mengandung protein yang diperlukan untuk infektivitas.” Lebih jauh lagi, penelitiannya tidak menemukan bukti adanya asam nukleks, seperti DNA, dalam sampel yang ia teliti. Inilah titik krusial di mana ia memperkenalkan istilah prion, sebuah akronim dari “proteinaceous infectious particle”. Ia mengusulkan bahwa prion dapat mengkodekan sintesisnya sendiri, sebuah hipotesis yang menantang “dogma sentral” biologi molekuler yang menyatakan informasi genetik hanya mengalir dari DNA ke RNA ke protein.

Tentu saja, teori Prusiner tidak langsung diterima. Dunia sains terbiasa dengan patogen yang berbasis asam nukleat. Ide tentang protein yang bisa menular tanpa genetik adalah sesuatu yang nyaris mustahil dibayangkan. Namun, Prusiner tidak menyerah. Selama 15 tahun berikutnya, ia dan timnya terus berupaya membuktikan hipotesisnya. Mereka berhasil mengelusidasi struktur protein prion, menunjukkan bahwa prion dapat memiliki berbagai konformasi meskipun berasal dari urutan DNA yang sama. Yang lebih penting, mereka membuktikan bahwa bentuk prion yang salah dapat “mengkonversi” versi normal protein yang ada di sel menjadi bentuk patologis. Ini seperti virus tetapi tanpa materi genetik, sebuah penipu ulung yang menggunakan mesin seluler inangnya untuk mereplikasi dirinya sendiri dalam bentuk yang merusak.

Dr. Stanley Prusiner discovered the existence of prions. (Image credit: Christopher Michel, CC BY 4.0 via Wikimedia Commons)

Terobosan Prusiner akhirnya terbukti benar, terutama saat epidemi penyakit sapi gila melanda Inggris Raya pada awal tahun 2000-an. Ternyata, manusia terinfeksi variant CJD (vCJD) setelah mengonsumsi daging sapi yang terinfeksi bovine spongiform encephalopathy (BSE), penyakit yang disebabkan oleh prion. Sapi-sapi tersebut terinfeksi karena diberi pakan yang mengandung jaringan otak sapi lain yang sakit BSE. Ini adalah konfirmasi brutal atas hipotesis Prusiner: protein yang salah lipat ini bisa menyebar antarspesies dan menyebabkan penyakit fatal pada otak.

A microscopic image of human brain tissue. The holes in the brain (white spots) are considered the “trademark” of prion diseases. (Image credit: UCSF via Getty Images)

Prusiner menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1997 atas penelitiannya yang monumental. Ia membuktikan bahwa penyakit yang tadinya dianggap disebabkan oleh virus lambat atau faktor genetik bisa jadi murni disebabkan oleh protein yang berubah bentuk. Ini membuka era baru dalam pemahaman penyakit neurodegeneratif, termasuk Alzheimer dan Parkinson, yang juga melibatkan akumulasi protein abnormal di otak. Namun, satu hal yang jelas, prion adalah contoh sempurna bagaimana sesuatu yang tampak sederhana bisa memiliki konsekuensi yang luar biasa mematikan, mengajarkan kita bahwa alam seringkali memiliki cara yang paling tak terduga untuk membingungkan dan menantang pemahaman manusia.

Previous Post

Indonesia: Pangan Aman, Stok Melimpah, Lawan Krisis Global!

Next Post

Indonesia-India Gilas Bisnis & Ekonomi: Kuliah Lintas Benua, Cuan Makin Gede

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *