Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Privasi Pikiran: Saat Dekoder Suara Batin Mengancam

Pernahkah terbesit keinginan untuk mengirim pesan telepati ke teman yang lagi di ujung kafe, tanpa perlu repot mengeluarkan ponsel? Atau mungkin, ingin mengungkapkan unpopular opinion tanpa takut dicancel, cukup dengan ‘membatin’ saja? Tampaknya impian ini tidak lagi hanya ada di film fiksi ilmiah. Para ilmuwan kini serius mengoprek teknologi brain-computer interface (BCI) yang berupaya menerjemahkan apa yang kita pikirkan, alias ‘bisikan dalam kepala’. Perjalanan untuk menjadikan Ketika Otak Jadi Modem: Perjalanan BCI Menguak Bisikan Dalam Kepala ini nyata, tentu saja tidak semulus koneksi 5G.

Otak Ngomong, BCI Mendengar (Kadang-kadang)

Di dunia yang serba digital ini, konsep BCI bukanlah hal baru. Teknologi ini memungkinkan komunikasi langsung antara otak dan perangkat eksternal, membuka pintu untuk berbagai kemungkinan, mulai dari mengendalikan prostetik hingga bermain video game hanya dengan pikiran. Namun, melangkah lebih jauh, tim peneliti pimpinan Krasa berani “membongkar” salah satu frontier paling menarik: mendekode inner speech atau bisikan batin. Mereka ingin tahu apakah pikiran yang belum diucapkan bisa diterjemahkan.

Sebelum deep dive ke dalam pikiran terdalam partisipan, tim Krasa memastikan satu hal krusial: adanya perlindungan privasi mental. Ini seperti memasang firewall super canggih untuk memastikan pikiran tidak bocor sembarangan. Setelah “safeguard” ini terpasang rapi, barulah mereka memulai pengujian sistem inner speech dengan kata-kata yang sudah ‘dicuat’ atau diberi isyarat.

Para pasien duduk di depan layar, yang menampilkan kalimat-kalimat pendek, dan tugasnya adalah membayangkan mengucapkan kalimat tersebut dalam pikiran mereka. Hasil awal menunjukkan potensi yang menjanjikan, mirip early access game yang punya bug tapi menjanjikan. Performa sistem BCI ini bervariasi di antara partisipan penelitian.

Pasien dengan performa terbaik mampu mencapai akurasi 86 persen, tetapi ini dengan batasan kosakata 50 kata saja. Angka ini cukup mengesankan, seolah BCI tersebut sudah bisa ‘mengerti’ apa yang dipikirkan. Namun, tentu saja kehidupan tidak sesederhana itu, apalagi jika menyangkut pikiran manusia.

Ketika kosakata diperluas hingga 125.000 kata, akurasi sistem inner speech ini langsung anjlok ke angka 74 persen. Ini menunjukkan bahwa kompleksitas bahasa, layaknya perbedaan antara kamus saku dan ensiklopedia, masih menjadi tantangan besar. Meskipun demikian, keberhasilan awal ini sudah cukup untuk memicu semangat para peneliti, menandakan bahwa konsepnya tidaklah mustahil.

Upgrade Pikiran, Errornya Masih Beta Version

Namun, ketika tim beralih ke tantangan berikutnya, yaitu menguji apakah prostesis ini bisa mendekode inner speech yang tidak terstruktur, keterbatasan BCI menjadi sangat jelas. Ini ibarat mencoba upgrade hardware tapi software-nya belum siap. Ekspektasi tinggi, tapi realitasnya kadang bikin garuk-garuk kepala.

Uji coba inner speech tak terstruktur yang pertama melibatkan para partisipan menonton urutan panah yang menunjuk ke atas, kanan, atau kiri di layar. Tugasnya adalah mengulang urutan tersebut setelah jeda singkat menggunakan joystick. Harapannya, para pasien akan mengulang urutan seperti “atas, kanan, atas” dalam pikiran mereka untuk menghafalnya.

Tujuannya adalah untuk melihat apakah prostesis saraf tersebut bisa menangkap bisikan batin tersebut. Hasilnya? Agak-agak bisa, tapi performanya hanya sedikit di atas tingkat peluang. Ini seperti memilih jawaban pilihan ganda dan berharap mujur, bukan karena benar-benar tahu jawabannya. BCI masih belum bisa diandalkan untuk membaca pikiran kompleks secara akurat.

Ketika Otak Berbisik Tapi Decoder Menjerit ‘Gibberish’

Akhirnya, Krasa dan rekan-rekannya mencoba mendekode frasa yang lebih kompleks tanpa petunjuk eksplisit. Mereka meminta partisipan untuk memikirkan nama makanan favorit mereka atau mengingat kutipan favorit dari sebuah film. Ini adalah ultimate test bagi sistem inner speech tersebut.

“Ini tidak berhasil,” kata Krasa, menjelaskan dengan gamblang hasil yang didapat. “Apa yang keluar dari decoder semacam gibberish.” Hasilnya kacau balau, seperti komputer yang menerima data rusak dan tidak bisa memprosesnya. Ini menunjukkan bahwa sistem masih jauh dari mampu memahami nuansa pikiran manusia yang rumit.

Dalam keadaan saat ini, Krasa menganggap prostesis saraf inner speech ini masih sebatas bukti konsep. “Kami tidak berpikir ini akan mungkin, tapi kami berhasil melakukannya dan itu menarik!” ujar Krasa penuh semangat. Namun, dia juga realistis: “Tingkat kesalahan terlalu tinggi untuk seseorang menggunakannya secara teratur.”

Hardware atau Hidden Brain Region? Misteri ‘Inner Speech’ yang Belum Terpecahkan

Krasa menduga bahwa keterbatasan utama mungkin terletak pada hardware, yaitu jumlah elektroda yang ditanamkan di otak dan presisi perekaman sinyal dari neuron. Ini seperti mencoba merekam film 4K dengan kamera VGA. Semakin banyak “piksel” atau elektroda, semakin baik detail yang bisa ditangkap.

Selain itu, representasi inner speech mungkin lebih kuat di wilayah otak lain daripada di korteks motorik. Korteks motorik lebih banyak berhubungan dengan gerakan dan ucapan fisik, bukan bisikan batin yang abstrak. Ini seperti mencari sinyal Wi-Fi di tempat yang salah.

Masa Depan BCI: Dari Bisikan Hati Menjadi Bantuan Nyata

Tim Krasa saat ini terlibat dalam dua proyek baru yang berakar dari prostesis saraf inner speech ini. “Yang pertama adalah bertanya [tentang] seberapa cepat BCI inner speech dibandingkan dengan alternatif ucapan yang dicoba,” jelas Krasa. Ini penting untuk mengukur efisiensi teknologi tersebut.

Proyek kedua berfokus pada orang-orang dengan kondisi yang disebut afasia, di mana seseorang memiliki kontrol motorik mulut mereka tetapi tidak mampu menghasilkan kata-kata. “Kami ingin menilai apakah dekode inner speech akan membantu mereka,” tambah Krasa. Harapannya, teknologi ini bisa menjadi jembatan bagi mereka yang kesulitan berkomunikasi.

Meskipun teknologi dekode bisikan dalam kepala masih dalam tahap awal dan memiliki tantangan yang signifikan, penelitian ini membuka jalan baru yang menjanjikan. Dari mencoba memahami pikiran yang belum terucap hingga berpotensi membantu jutaan orang yang kesulitan berbicara, perjalanan BCI ini masih panjang. Namun, setiap gibberish yang berhasil dianalisis adalah satu langkah lebih dekat menuju masa depan di mana otak kita benar-benar bisa menjadi modem, meski sinyalnya masih butuh di-upgrade.

Previous Post

DJ Radio Lokal: 2 Dekade Cetak Bintang Akademik

Next Post

Jerman-Ukraina Rangkai Budaya: Era Baru Konektivitas

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *