Popular Now

Vivo Y31T 5G Resmi Meluncur, Bisa Foto di Bawah Air hingga 1,5 Meter

Libur Main GTA VI Dibayar Masa Dinas: Antusias Game Besar Sampai ke Militer AS

Menyesap Romantisme dan Aroma Kolonial di Senja Kota Lama Semarang

Produksi Film: 116 Pictures Jembatani Kreativitas Timur-Barat di Vietnam

Di era ketika AI bisa menghasilkan naskah lebih cepat daripada kamu scroll TikTok, kita sering lupa bahwa di balik setiap produksi yang memukau, ada manusia dengan visi dan kegigihan yang luar biasa. m25’s Founders Series hadir untuk merayakan para insan kreatif ini. Kali ini, sorotan tertuju pada Gordon Westman, otak di balik 116 Pictures, yang menjembatani dunia kreatif Timur dan Barat.

Gordon Westman adalah sosok di balik layar yang punya andil besar dalam industri perfilman Vietnam dan Thailand. Sepak terjangnya di Asia, terutama dengan 116 Pictures selama satu dekade terakhir, mengantarkannya pada ekspansi ke Bangkok tujuh tahun lalu. Langkah ini memungkinkan mereka untuk menangani proyek-proyek besar yang kompleks, dari iklan butik hingga kampanye multi-pasar yang ambisius. Lalu, apa yang membuatnya begitu sukses?

Menurut Westman, kunci suksesnya adalah menggabungkan ekspektasi kreatif internasional dengan kearifan lokal Vietnam. Ia juga berkomitmen untuk mengembangkan talenta-talenta muda di pasar yang sedang berkembang ini. Baginya, Vietnam memberikan energi dan ambisi, sementara Bangkok memberikan skala dan akses. Kombinasi inilah yang membentuk bisnisnya menjadi seperti sekarang.

Dari Mimpi Warung Kopi ke Studio Bertaraf Internasional

Westman memulai semuanya dengan ide sederhana: membawa standar kreatif internasional ke Vietnam tanpa menghilangkan keotentikan budaya lokal. Ia ingin menciptakan wadah bagi para sutradara dan agensi dari seluruh dunia untuk bertemu dan berkolaborasi dengan bahasa produksi yang sama, mengutamakan kualitas tanpa jalan pintas. Tapi, bagaimana caranya mewujudkan mimpi itu?

Pengalaman internasionalnya memainkan peran penting dalam pendekatannya terhadap produksi di Vietnam dan Thailand. Ia merasa beruntung bisa menghabiskan 15 tahun di Asia, dengan 116 Pictures sebagai jantung dari perjalanan itu. Baginya, Vietnam adalah rumah kreatif yang penuh energi dan ambisi. Sementara itu, kantor di Bangkok memberikan infrastruktur dan kedalaman untuk beroperasi di panggung yang lebih besar.

Westman percaya bahwa *craft* itu universal, tetapi budaya itu unik. Baginya, kebahagiaan terbesar adalah menciptakan gambar yang berakar pada sensibilitas Asia Tenggara. Ia belajar sejak awal bahwa ia sangat menikmati cara kerja di wilayah ini. Itulah yang menjadi DNA 116 Pictures sejak awal. Ibaratnya, seperti meracik kopi: biji kopi dari berbagai daerah punya karakter masing-masing, tapi tangan barista yang ahli bisa menyatukannya menjadi secangkir kopi yang istimewa.

Proyek Ikonik yang Mengubah Permainan

Tentu saja, perjalanan 116 Pictures tidak selalu mulus. Ada banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam menyeimbangkan ambisi kreatif dengan keterbatasan praktis. Namun, Westman selalu berpegang pada prinsip bahwa peran mereka adalah melindungi esensi ide kreatif dari agensi dan klien, sambil mencari cara terbaik untuk mewujudkannya. Kadang-kadang, itu berarti tahu kapan harus mendorong detail, dan kapan harus melepaskan sesuatu. *Good production*, baginya, selalu melibatkan sedikit keajaiban.

Dalam dunia komersial, ada begitu banyak proyek hebat yang telah mereka kerjakan. Namun, ada juga beberapa proyek *passion* yang sangat berkesan, seperti film fitur Vietnam, “Nữ Đại Gia” (The Rich Woman), yang meraih kesuksesan komersial besar. Selain itu, film pendek mereka, “Love without Borders”, juga membuat mereka terkejut dengan berbagai nominasi dan penghargaan di festival film tahun lalu. Tapi, menurut Westman, yang benar-benar mendefinisikan 116 Pictures adalah orang-orang di balik karya-karya itu.

Salah satu kunci sukses 116 Pictures adalah kemampuan mereka untuk menyelaraskan *mindset* dengan kru, baik lokal maupun internasional. Di Vietnam, ada kelincahan alami, sementara di Bangkok, ada kedalaman infrastruktur dan pengalaman kru. Di mana pun mereka syuting, mereka selalu mengutamakan keterampilan komunikasi, sistem komunikasi, dan pelatihan. Ketika semua orang sudah *buy in* dengan hal itu, masalah “anggaran versus ambisi” berubah menjadi seni memecahkan masalah.

Evolusi Industri Film Vietnam: Dari Belum Ada Apa-apa Jadi Pusat Perhatian Dunia

Lalu, bagaimana lanskap produksi film dan komersial di Vietnam telah berevolusi selama satu dekade terakhir? Menurut Westman, sudah klise untuk mengatakan bahwa dulu tidak ada apa-apa, dan sekarang ada semua yang kamu butuhkan. Memang benar, tapi itu melewatkan sumber daya yang sebenarnya: dulu ada orang-orang hebat dengan rasa lapar dan semangat, dan sekarang ada lebih banyak orang hebat dengan rasa lapar dan semangat, serta jalan untuk meraihnya.

Minat terhadap detail, performa, dan desain telah matang. Ekosistem di sekitar peralatan produksi, pasca-produksi, dan talenta telah tumbuh untuk memenuhi ambisi. Sama seperti *gamer* yang terus mengasah *skill* dan mencari *gear* terbaik untuk mencapai level tertinggi, industri film Vietnam juga terus berkembang dan beradaptasi.

Ke depan, perubahan yang paling memengaruhi peran kawasan ini secara global adalah konektivitas. Kantor 116 Pictures di Bangkok memberi mereka kursi barisan depan untuk melihat bagaimana Thailand memposisikan dirinya secara internasional. Vietnam juga bergerak ke arah yang sama dengan cepat. Merek dan agensi dari seluruh dunia mulai melihat Asia Tenggara bukan hanya sebagai kumpulan pasar, tetapi sebagai *hub* produksi regional terpadu tempat mereka dapat bergerak dengan mulus antara Vietnam, Thailand, dan sekitarnya. Pergeseran dari *shoot* terisolasi ke produksi regional terintegrasi sangat terasa.

AI: Bukan Sekadar Hype, Tapi Kolaborasi Cerdas

Dengan alat digital baru, produksi virtual, dan AI yang membentuk kembali industri, bagaimana 116 Pictures mengintegrasikan inovasi-inovasi ini ke dalam alur kerja mereka? Westman mengakui bahwa semua orang berbicara tentang AI seolah-olah akan mengubah industri dalam semalam. Baginya, itu seperti hiruk pikuk lampu neon di jalanan Saigon dan Bangkok: ia menyukai kebisingan dan kegembiraan itu, tetapi itu bukan keseluruhan cerita.

116 Pictures tidak mengejar setiap alat baru. Mereka menguji secara diam-diam apa yang benar-benar meningkatkan pekerjaan, lalu mengadopsinya tidak hanya dalam *output* akhir, tetapi di seluruh perusahaan. AI sudah terintegrasi ke dalam semua aspek proses mereka, termasuk *back office*. Kemitraan VR mereka yang sudah lama dengan Final Pixel di Bangkok sangat bermanfaat.

Bagi Westman, seni perfilman selalu berevolusi seiring dengan teknologi. Kadang-kadang itu berarti AI membantu mereka mengeksplorasi ide sebelum *shoot*, atau produksi virtual memecahkan tantangan lokasi dan penjadwalan. Tetapi mereka tidak pernah salah mengira teknologi sebagai ide: itu hanyalah alat, seperti lensa atau cahaya. Filosofi mereka adalah merangkul inovasi, membiarkannya bekerja di latar belakang, dan menjaganya tetap tidak terlihat dalam karya akhir. Keaslian gambar, tidak peduli bagaimana itu dibuat, tetap menjadi bentuk komunikasi yang paling kuat. Sama seperti filter Instagram: mereka bisa mempercantik foto, tapi esensi dari foto itu tetap sama.

Inspirasi untuk Generasi Penerus: Jangan Takut Gagal!

Pada tahap kariernya saat ini, salah satu kebahagiaan terbesar Westman adalah berjalan ke kantor dan merasakan energi dari generasi penerus yang datang. Ia percaya bahwa ada semacam *energy feedback loop* yang tertanam dalam manusia yang membantu kita saling menginspirasi untuk menjadi lebih hebat. 116 Pictures jarang merekrut dari luar. Sejak awal, filosofi mereka adalah melatih orang dari bawah, berkomitmen jangka panjang, dan membimbing mereka dengan cermat. Para senior mereka yang paling terpercaya memulai dengan mereka sebagai junior dan tumbuh menjadi peran mereka. Datanglah dengan *mindset* bahwa kamu di sini untuk belajar, dan bahwa setiap tantangan adalah bagian dari proses.

Dalam lingkungan saat ini, keterampilan yang penting adalah adaptasi dan komunikasi. Kamu bisa menjadi ahli secara teknis, tetapi jika kamu tidak dapat berkolaborasi lintas budaya, bahasa, atau zona waktu, kamu akan kesulitan. *Shoot* mereka mempertemukan orang-orang dari Vietnam, Thailand, Eropa, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, dan mereka yang berhasil adalah mereka yang dapat mendengarkan, menerjemahkan ide, dan tetap berpegang pada kualitas. Kegagalan dan kesalahan adalah peluang belajar. Jangan takut gagal. Belajarlah untuk menjadi anti-rapuh dan ingat: jangan mengejar jalan pintas, jangan dibutakan oleh *hype*. Fokus pada pekerjaan, buat setiap proyek lebih baik dari yang terakhir. Kamu hanya sebaik pekerjaan terakhirmu. Ibaratnya, seperti main *game*: setiap kali kamu kalah, kamu belajar sesuatu yang baru dan menjadi lebih baik.

Melihat ke Depan: Regionalisasi, Talenta, dan Teknologi yang Cerdas

Ketika Westman melihat ke arah 2025–2026, ia memperkirakan akan ada lebih sedikit persaingan. Ia bercanda bahwa musim ini terasa seperti El Niño, yang akan menyortir siapa yang terkuat dan terpintar di antara mereka. Terlepas dari lelucon itu, ia tidak melihat dua tahun ke depan ditentukan oleh satu “pergeseran besar”. Lebih tepatnya, ini tentang konvergensi beberapa kekuatan. Untuk Asia Tenggara, tiga hal yang menonjol adalah regionalisasi produksi, kematangan talenta, dan penggunaan teknologi yang selektif.

Agensi dan merek tidak lagi berpikir dalam satu pasar. Mereka melihat Asia Tenggara sebagai *hub* terpadu, dan Vietnam serta Thailand bersama-sama menawarkan campuran skala, pengendalian biaya, dan kualitas yang sulit ditandingi oleh wilayah lain. Generasi pembuat film Vietnam tidak lagi hanya mendukung tim internasional, mereka memimpin departemen, menantang rekan-rekan mereka di Thailand, dan meningkatkan standar di seluruh papan. AI, alur kerja jarak jauh, dan produksi virtual akan tetap ada. Tetapi diferensiasi yang sebenarnya akan datang dari siapa yang menggunakannya secara cerdas, bukan sebagai *gimmick* pemotongan biaya, tetapi sebagai alat untuk meningkatkan kreativitas.

116 Pictures memposisikan diri tepat di persimpangan itu: membangun kemampuan regional, membina talenta dari dalam, dan menerapkan teknologi dengan niat. Ini bukan tentang mengejar tren, tetapi lebih tentang membentuk ekosistem yang ingin mereka menjadi bagiannya. Jadi, tunggu apa lagi? Siapkan kopi, duduk santai, dan saksikan bagaimana 116 Pictures terus mengukir sejarah di dunia perfilman Asia Tenggara. *It’s gonna be legen… wait for it… dary!*

Previous Post

Film Nintendo Forever? Miyamoto Ungkap Alasan Fokus ke Layar Lebar: Dampaknya!

Next Post

Festival Turki: Jembatan Budaya yang Kuat di Jantung AS

Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *